Yayasan Gerakan Papua Sehat Seminar dan Pemeriksaan HIV/AIDS Gratis dan Massal
NABIRE – Digelar seminar dan pemeriksaan HIV/AIDS gratis secara massal di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah. Agenda ini merupakan kolaborasi dalam pelayanan kesehatan bersama Yayasan Gerakan Papua Sehat. Kegiatan dipusatkan di LPP RRI, Senin (16/6/2025). Kegiatan ini dilakukan selama 3 hari, dari Senin (16/6/25, hingga Rabu (18/6/2025).

NABIRE – Digelar seminar dan pemeriksaan HIV/AIDS gratis secara massal di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah. Agenda ini merupakan kolaborasi dalam pelayanan kesehatan bersama Yayasan Gerakan Papua Sehat. Kegiatan dipusatkan di LPP RRI, Senin (16/6/2025). Kegiatan ini dilakukan selama 3 hari, dari Senin (16/6/25, hingga Rabu (18/6/2025).

Ketua Yayasan Gerakan Papua Sehat Nabire, Dr. Kornelis Pakage, S.KM. M.Kes, dalam wawancaranya mengatakan, kegiatan hari ini sebagai awal pembukaan. Selain itu ada juga pemeriksaan HIV/AIDS gratis dan juga sudah difasilitasi tim medis. Mulai besok akan dilakukan sosialisasi bagi yang mau diperiksa dan akan diarahkan ke tempat khusus, dan nanti alamat serta nomor handphone akan disebarkan.
Nampak kurangnya antusias masyarakat Nabire dalam seminar tersebut. Kata Kornelis Pakage, undangan seminar sudah disebarkan ke semua denominasi gereja yang ada di Nabire termasuk umat yang beragama islam. Dirinya tidak mengetahui kenapa yang hadir tidak banyak.
Ia pun berharap kegiatan berikutnya bisa banyak yang mengikuti. Dan sebagai upaya kedepannya akan turun ke gereja bagi gereja yang mengundang yayasan untuk melakukan seminar tentang HIV/AIDS, dan juga di daerah-daerah terpencil yang jauh dari Kota Nabire.
"Pelayanan akan dilakukan selama 3 hari, dan akan merencakan ke daerah lain seperti Paniai, Deiyai, dan kalau bisa ke Timika," ucapnya.

Untuk hari ini pemeriksaan kesehatan diantaranya, gula darah, asam urat, kolesterol, termasuk HIV/AIDS. Alasan dilakukannya pemeriksaan massal, karena masalah kemanusiaan. Jika diikuti masalah HIV/AIDS di Papua Tengah ini dimana-mana dan dibicarakan bahwa Papua Tengah penyakit HIV/AIDS tertinggi di banding provinsi yang ada di seluruh Indonesia.
Menurut Dr. Kornelis Pakage, berdasarkan data di tahun 2023 atau 3 tahun terakhir, ada peningkatan kasus HIV/AIDS termasuk kematian ibu dan anak. Maka dari itu alasan yayasan melakukan pemeriksaan ini untuk melayani masyarakat secara sukarela. Karena kalau hanya Dinas Kesehatan dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) saja tidak akan cukup.
Harapan yayasan dan dilihat dari angka yang ada yaitu 22.000 tersebut, agar bisa menekan dan tidak boleh bertambah lagi. Jika menurun kemungkinan orangnya meninggal karena tidak ada obat untuk menyembuhkan.

Ia mengharapkan harus ada Memorandum of Understanding (MOU) atau perjanjian kontrak. Baru saja yayasan melakukan MoU dengan Radio Republik Indonesia (RRI) dan disaat tertentu bisa melakukan sosialisasi HIV/AIDS. Harapannya juga dari lembaga lain ataupun pemerintah bekerjasama dengan yayasan. Karena yayasan siap dan ada tenaga, relawan dan serta sudah terbentuk di 8 kabupaten, bukan hanya di Kabupaten Nabire. Dan didalamnya juga terdapat tim medis dan non medis, bahkan teman yang lain sudah siap bekerja dalam kemanusiaan. (edi)
Bagikan artikel ini



