Cerpen : Abdul Munib

Menulis itu adalah memaksa diri dan pada selanjutnya itu soal konsistensi. Demikian dikatakan Waluh didepan murid-muridnya di Sanggar Watewaltikta yang dibinanya bersama halaman rubrik sastra di koran yang terbit semingu sekali.

Untuk bisa lolos ke rubrik satra Koran Portable yang dipimpinnya, para penulis puisi, cerpen dan cerita bersambung harus antre. Waluh juga memberikan pelajaran tambahan menulis esai, kolom dan artikel atau tulisan ilmiah populer. Pada murid-murid senior ia baru menurunkan ilmu menulis novel.

Waluh sendiri seorang peranakan, bapak dari Indonesia Timur mama dari Banten. Dia besar di keluarga mamanya. Nama Waluh itu pemberian Aki (kakek) nya yang memelihara dia dari kecil sampai mengkuliahkannya di Jogjakarta jurusan sastra Indonesia di Universitas Gajah Mungkur yang terkenal jadi nama bendungan.

Waluh dulu banyak menghabiskan waktu di jalan Malioboro. Disitulah dia tumbuh seperti kucing liar di keramaian kota. Semuanya tak jelas, kost tidak ada, tidur di sembarang tempat. Makan dari apa saja yang bisa ia kerjakan, bantu cuci piring di kaki lima, penarik becak cadangan, jual koran, atau jaga parkir paruh waktu. Lebih tepatnya ia seperti sampah kota Jogjakarta.

Di dalam tas kumalnya penuh dengan kertas, tulisan tangan atau ketikan lusuh berupa puisi dan cerpen. Itulah Waluh pada masa muda. Dan setelah kakeknya meninggal tidak diketahui kabar selanjutnya apakah ia sempat ikut wisuda di UGM atau tidak. Sejak itu ia menghilang dari jalan Malioboro dalam waktu yang cukup lama.

##

Orang-orang melihat muka dia di acara pemakaman adat suku Sumbawa, ketika seorang penyair besar meninggal. Ia tampak sibuk sekali dalam upacara itu. Ternyata si penyair itu adalah seorang raja yang selama ini merantau dan selalu hidup di hati rakyatnya. Hari itu rakyatnya menerima dia dalam keadaan mayat yang membujur. Tangis dan puisi bercampur dalam isak dan lantun. Ternyata Waluh selama ini menjadi asisten pribadi Sang Raja yang baru meninggal itu. Ternyata Waluh akrab dengan anak-anak raja itu, karena anak-anaknya biasa mencari tahu keadaan bapaknya dsri Waluh.

Itulah waluh. Dia hidup berdampingan dengan seorang ahli sastra bahkan guru besar. Tapi orang tak pernah membaca satu pun puisi yang ditulisnya. Kalau puisi almarhum raja banyak yang bisa dibaca publik, meski enggan masuk majalah sastra mainstream. Setelah tujuh hari pemakaman, Waluh pamit ke keluarga raja yang selama ini dia anggap sebagai keluarganya. Begitu pun sebaliknya merek menganggap Waluh lah yang lebih banyak tahu tentang bapal mereka.

Namun sejak kemunculannya di Sumbawa, ia pun tak pernah kelihatan di Pulau Dewata. Tempat ia melanjutkan perjalanannya setelah Jogjakarta. Kata seorang teman sesama penyair, dia pengen singgah sebentar di Kota Kembang, sekalian jiarah ke makam kakeknya di ujung kulon.

##

Kini Waluh berada di negeri matahari terbit. Di sudah sampai di tanah lahir sang ayah. Dia diterima keluarga ayahnya dengan penuh suka cita. Saudara laki-laki mereka tenggelam bersama Kapal Thampomas Dua. Kini anaknya yang di seberang datang, menyambung tali kerabat.

Usia Waluh wakti iru kelas lima SD ketika

KMP Tampomas Dua bertolak dari Dermaga Tanjung Priok hari Sabtu, 24 Januari 1981 Pukul 19.00 WIB dengan tujuan Ujungpandang. Perjalanan seyogianya memakan waktu 2 hari 2 malam di atas laut, sehingga diperkirakan hari Senin, 26 Januari 1981 Pukul 10.00 WIB akan tiba. Waktu kakaknya Waluh membaca dari Majalah Mingguan bahwa hampir semua penumpang meninggal. Waluh pernah menulis cerpen berjudul jiarah, tapi tak ada gambar nisan dalam ilustrasinya. Yang ada hanya lait dan kapal yang terbakar.

##

Begitulah Waluh. Namanya seperti nama salah satu sayuran yang berbuah besar. Orang juga menyebutnya buah labu. Tapi di Kerajaan Banten Waluh jadi simbol kerajaan. Karena kalau diucapkan mirip dengan Wallahi, demi Tuhan. Memang semua pikiran dan tindakan kita manusia tak boleh demi apapun, selain demi Tuhan. Kalau demi selainNya pasti perjalanan hidup akan kacau.

Dalam mendedikasikan ilmu sastra kepada murid-murid di sanggarnya ia selalu menandaskan, bahwa tak ada sastra yang baik. Yang ada adalah sastra yang terlahirkan. Lebih tepatnya terlanjur dilahirkan. Kurang bagus apa sastra Negara Kertagama, kisah negara adiluhung Majapahit. Tapi waktu telah menelannya hampir seutuhnya kecuali di pelajaran sejarah yang dibakukan seperti patung batu.

Sastra itu. selain pemaksaan diri yang kuat dan konsistensi adalah pelajaran pujian kepada yang punya kehidupannya melalui memuji ciptaannya yang fisika. Menulis adalah menggambar jiwa atau jiwa yang menggambar. Setiap torehan kuasnya menggunakan kata-kata seperti tatapan wajah dalam cermin. Menulis adalah perjalanan menuju satu titik tempat tersungkur dihadapan sisi keindahanNya.

Waluh membimbing jiwa murid-muridnya dengan penuh kasih sayang. Tapi ia juga menanamkan keberanian agar membentuk seorang penyair yang melampaui kerasnya kehidupan. Katanya, siapa pun bisa menjadi penyair jika bisa memaksa dirinya. Syair tidak lahir dari pengetahuan yang diseragamkan hasil logika induksi. Tidak juga dari jiwa yang sudah membatu dalam keegoisan hewani.

Syair sejati adalah milik keterasingan manusia tertindas yang tak punya harapan apapun dari manusia. Waluh juga mengatan, syair sejati lahir dari kezaliman yang menimpa anak manusia tiada tara. Dan Waluh menegaskan tidak boleh percaya apalagi minder pada kritik sastra. Atau cerita sukses para penyair kenamaan, karena mereka cerita itu setelah dia melakukannya lama. Dan kebanyakan penyair curang dengan mendirikan kerajaan sendiri, dimana kakinya berpijak di pundak penyair sebelumnya.

Waluh bilang, di era paling padat, materialistik dan individualistik seperti hari ini, tak ada ruang tanah sisa untuk menebar benih puisi. Tapi dari balik awan gelap sebuah zaman tunggulah kuda putih dan pedang akan menjadi puisi yang lain dari yang selama ini pernah ada.

 Karena sesungguhnya puisi itu jiwa. Bukan kata-kata. Pada mulanya murid Waluh adalah anak-anak kaki abu dan anak aibon. Sekarang muridnya makin banyak sepertinya zaman sedang berubah kepada yang baru.

Seperti yang selalu Waluh ajarkan. bahwa setiap penyair adalah anak kebudayaan. Oleh sebab itu siapa pun berhak membukukan kumpulan puisinya. Dan diantata kegelisahan jiwa mempertanyakan banyak hal dalam kebhginekaan selalu dimulai dari adanya benak memahatnya beraneka rupa. Maka torehkan kuasmu dalam kata-kata yang menari. Kalau teralu tinggi harmoni maka cukuplah kelayakan. *