"Waee… Pernahkah Engkau Dicintai Pemimpin Mu?"
(Potret Nusantara antar Rakyat Vs Pemimpin) Oleh : Eman B You “Adoo….! Parah, Kenapa kita tara pilih dia?.menyia-nyiakan dia yang begitu sempurna untuk memimpin kita. Seandainya kalau kita tauh begini tara kasi dia suara.” Umpat rakyat pada dirinya sendiri. Tiga hingga em
Bagikan
(Potret Nusantara antar Rakyat Vs Pemimpin)
Oleh : Eman B You
“Adoo….! Parah, Kenapa kita tara pilih dia?.menyia-nyiakan dia yang begitu sempurna untuk memimpin kita. Seandainya kalau kita tauh begini tara kasi dia suara.” Umpat rakyat pada dirinya sendiri. Tiga hingga empat tahun setelah pemimpinnya tidak perhatikan mereka. Hahaha…. Padahal awalnya mereka dekat.
"Pernahkah kau mencintai ku seperti aku mencintai mu?" Apa saja pengorbanan mu jika benar-benar mencintai ku? Pernakah se-ekor kamping mati di pinggir kali engkau dapat menangisinya, apa lagi manusia yang mati kelaparan,kehausan,kesakitan, kebodohan, keterbelakangan dan karena keterpurukan? Jika perna Kapan, Dimana dan siapa saja yang engkau selamatkan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini kerap kali terucapkan masyarakat sejagat Nusantara sebagai bentuk merespon terhadap pemimpin-nya.
Luapan cinta Rakyat itu benar-benar telah membuktikan ketika memberikan dukungan hingga menentukan pilihannya pada saat pesta demokrasi diselenggarakan di Negara kita tercintah ini (Pemilu, Pemilukada dan Pilpres).
Begitu cinta rakyatnya kepada calon pemimpinya itu sampai pada saat kampanye hingga pemberian dan pengawalan suara, sangatlah nampak rakyat relah lakukan apa saja, tidak perduli dengan apapun asal bisa bersama dengan-nya mewujudkan harapan untuk memperbaiki taraf hidup mereka. Namun katika terpilih dan menjadi pemimpin hanya meninggalkan raport mera baginya.
Pemimpin itu berkata "Aku mencintai, tapi maaf tidak bisa membangun mu dan negeri ini karena “satu dan lain hal”. Bahkan sampai ada ungkapan dalam hati kecilnya “saya suda bayar perkepalah sehingga diberikan suara bukan gratis. Silahkan direnungkan saja karena banyak faktor penghambat yang tidak bisa bijaki oleh pemimpin dalam kepemimpinan-nya,sehingga dalam proses pembangunan bukan dibangun untuk mensejahterahkan rakyat dan memajukan daerah yang dipimpinnya, akan tetapi justru staknan (berjalan ditempat). Ironisnya mengalami kemunduran.
Pada hal esensi dari pemimpin adalah berani memutuskan mata rantai permasalahan dan berni mengambil serta memikul resikonya. Dalam hal ini bukan korup lalu bertanggung jawab.
Dimana-mana berkali-kali dalam pidato para pemimpin mempersentasekan apa yang telah dibangun-nya di berbagai sektor pembangunan, akan tetapi rakyatnya tetap saja banyak keraguan bermunculan didalam hati. “Ada bukti boleh, kalo bicara saja omong kosong”katanya.
Benar juga ya, karena sentuhan pelayanan langsung rakyatlah yang merasahkan. seperti halnya seorang laki-laki mempermainkan perempuan yang dicintainya atau sebaliknya.
Hari dimana kesempatan untuk membangun rakyat telah berlalu dan mereka harus berpisah semakin dekat. begitu menyakitkan. Rakyat selalu bertanya sebagai bukti cintah selama ini, apa yang telah di bangun untuk kami?.
Pemimpin-nya tidak pernah menjawab iya atau pun tidak. hanya seperti menggantungkan harapan pada rakyatnya untuk memberikan kesempatan berikutnya. Rakyatnya itu mulai meneteskan air mata sambil berkata "cukup suda kau penipu dan sakiti kami”.
Pada hal rakyat dan pemimpin ibarat mata uang yang susah dipisahkan. Saling membutuhkan dan saling mengisi dalam segala kepentingan demi membangun sebuah daerah agar hasil-hasil pembangunan itu menjadi hasil karya dan karsa bersama.
Pemimpin harus menjadi Pelayan bukan Tuan, maka disanalah sebuah cintah kepada rakyat itu tersalur dan rakyat sebagai subyek pembangunan harus berpartisifasi karena pembanguan yang akan dilaksanakan juga semata-mata untuk kepentingan rakyat karena rakyat itu sendiri sebagai obyeknya.
Oleh karena itu, agar rakyat berpartisifasi dan merasakan hasil pembangunan, maka selagi diberikan kepercayaan kebijakan umum anggaran harus memutuskan mata rantai permasalahan pembangunan bukan mengangarkan untuk menabah “masalah”.
Mengapa dimana-mana seorang pemimpin pada akhir periodenya selalu muncul banyak pertanyaan dalam benak rakyat yang dipimpin-nya dan apa pertanyaan-pertanyaan yang selalu berkembang di kalangan rakyat?. Pertama: indikasi kebijakan tidak ada keperpihakan kepada kebutuhan mendasar rakyat seperti halnya Pasien mengeluh sakit Perut Dokter memberikan obat malaria, apakah dengan obat malaria yang diberikan seorang Dokter itu akan menyembuhkan pasien yang sedang menderita sakit perut? Jawaban ada pada diri kita sendiri. Lebih parah lagi pesien tersebut tidak dilayani oleh seorang Dokter atau petugas medis lainnya.
Mungkin seperti ini potret wajah pemimpin-pemimpin kita di seantero nusantara ini sehingga pimpinan ganti pimpinan permasalah pembagun jutrus tidak diselesaikan dan semakin pelik sehingga dalam dunia persaingan tidak ada kesiapan dan tetap akan ada pada posisi tertinggal.
Kedua pertanyaan- pertanyaan rakyat seperti ini "Mengapa kau seperti ini kepada kami, pada hal kepercayaan telah diberikan pada mu untuk membangun kami? Apakah engkau benar-benar tidak ada artinya bagi kami?. apakah tidak ada sedikitpun yang bisa dibuktikan untuk kami?. mengapa sekarang kau rajin menemui kami padahal selama ini kau menghilang dimana lalu kini mulai mendekati kami?. Apa yang kau harap lagi dari kami?. “kami sudah bosan dan jenuh milihat tingkah mu itu.”umpat rakyatnya kesal.
Entah sudah berapa banyak air mata yang telah kami buang untuk merenungi tingkah mu itu. Artinya bahwa rakyatnya merasa saat ini cinta pada pemimpinya itu benar-benar tidak ada artinya (luntur kerpercayaan).
Yaa… itulah profil pemimpin-pemimpin yang tak sedikit pun perduli dengan perasaan rakyatnya. "Tuhan, mengapa aku begitu ikhlas memilihnya. Padahal Engkau sudah memperingatkan ku untuk jangan memilihnya. Bahkan aku pun tahu dia takan pernah memberdayakan ku." teguran Tuhan singkat,”Tuhan mu adalah Uang bukan Aku, 50 ribu sudah bayar kamu untuk ditipu lima tahun”.*** (bersambung dengan judul: Sempat Memiliki Mu)
Bagikan artikel ini



