Wabah Gotong Royong
Di masa pandemic Covid-19, ramai masyarakat di berbagai daerah bergotong royong, atas kesadaran sendiri. Tujuannya, membantu mereka yang ter
Di masa pandemic Covid-19, ramai masyarakat di berbagai daerah bergotong royong, atas kesadaran sendiri.
Tujuannya, membantu mereka yang terdampak Covid-19.
Hal ini perlu direnungkan maknanya secara mendalam.
Di tengah kegaduhan politik dan kekhawatiran ekonomi yang terjadi, ternyata semangat gotong royong itu terbukti masih lestari di hati masyarakat.
Itulah indahnya solidaritas kemanusiaan di negeri kita suatu nilai mulia yang tetap lestari di tengah masyarakat meskipun panggung politik selalu saja dicemari dengan tutur bahasa dan perilaku tak terpuji.
Termasuk saling tuding, saling hujat, dan saling menjatuhkan, yang sungguh memuakkan masyarakat.
Nilai mulia dalam semangat bergotong royong ini ternyata mampu mengatasi semua perbedaan status, golongan, etnik, agama, dan kelompok, yang sebelumnya sering ditunggangi melalui politik identitas yang memecah belah warga bangsa.
Korona telah memaksa warga bangsa untuk meninggalkan semua perbedaan itu sehingga warga bersatu padu menghadapi musuh bersama yang masih mencengkeram negeri kita.
Hal ini patut kita renungkan sebab ternyata kita baru bisa kompak bersatu ketika ada musuh bersama.
Ketika tak ada musuh bersama, cukup sulit bagi kita untuk kompak bersatu. Sejarah bangsa kita telah membuktikannya.
Karena itu, kehadiran korona di Indonesia, selain perlu dilenyapkan, membawa berkah bagi kita sebagai bangsa.
Dengan adanya musuh bersama yang tidak kelihatan, tapi sangat mematikan ini, kita akhirnya kompak bersatu bergotong royong menghadapinya.
Namun, 'berkah korona' yang mempersatukan warga bangsa kita ini perlu juga disesali.
Seharusnya kita kompak bukan karena ada bahaya yang mengancam jiwa kita sebagai bangsa, melainkan kompak karena kita memiliki kepentingan bersama menuju masa depan, yang perlu direspons dengan baik.
Kepentingan bersama di masa depan itu ialah mewariskan disiplin sistem politik, sistem hukum, sistem ekonomi, dan tata nilai budaya yang baik untuk dilanjutkan generasi penerus. ***
Bagikan artikel ini



