“VALENTIN Day, EVERY Day”
PARADIGMA PEREMPUAN PAPUA(Ibu Costantin Wanaha-Duwiri, S. Th.)Ketua Persekutuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) Kabupaten Nabire.Dunia seperti berebutan demikian pula di Indonesia merayakan hari istimewa, hari kasih sayang ini. Betapa tidak sepertinya ada sinyal sentral ba
Bagikan
PARADIGMA PEREMPUAN PAPUA(Ibu Costantin Wanaha-Duwiri, S. Th.)Ketua Persekutuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) Kabupaten Nabire.Dunia seperti berebutan demikian pula di Indonesia merayakan hari istimewa, hari kasih sayang ini. Betapa tidak sepertinya ada sinyal sentral bagi dunia untuk melihat hari ini sebagai hari yang penting guna menyatakan keberadaannya dan nilai kehidupan yang diberikan Tuhan kepada manusia. Nampaknya topic yang menghiasi berbagai layar TV dan media baca cenderung menghadirkan perempuan dengan kecenderungan yang diperlihatkan melalui berbagai kegiatan spontanitas yang terencana dan tontonan menarik lainya bernuansa perempuan.
Sepertinya kehadiran perempuan di berbagai belahan bumi memiliki harapan baru, bahwa dunia sungguh peduli terhadap mereka sebagai bagian yang melekat sempurna dengan dunia dan kehidupan. Ada kecenderungan lain dihari kasih sayang ini yang penuh dengan tuntutan dan harapan mereka. Mereka konsen dan minta kepada dunia agar tidak lagi ada kekerasan dan tekanan serta manipulasi yang seolah memperdayakan kehidupan perempuan. Harapan kami agar tidak boleh ada manipulasi “kekayaan” yang Tuhan berikan melekat dengan diri perempuan itu sendiri. Oleh Kasih Tuhan kita telah dipilih dan diberikan-Nya kepada kita masing-masing dengan “Nilai Kehidupan”. Pertanyaan bagi kita sekarang ialah “Seberapa besar kita memberikan “harga” kepada kekayaan Tuhan atas diri manusia? Sementara perempuan masih cenderung diperhadapkan pada “dunia” dan bayang-bayang maut. Ketakutan dan stima buruk lainnya. Akankah kita hentikan manipulasi dunia yang cenderung menjadikan kaum penolong yang setara ini sebagai komoditi perdagangan yang memalukan itu?Memperingati hari kasih sayang ini, saya ingin menawarkan sebuah paradigma sederhana bagi perempuan papua untuk menemukan kembali jatidirinya dan memberi “harga” bagi dirinya, sesama dan terutama kepada Tuhan Pencipta kita yang telah melengkapi setiap manusia dengan “Kekayaan-Nya”. “Sebab hari demi hari akan berlalu, valentine day pun akan berlalu. Tetapi Kasih Allah tidak akan pernah berlalu, Kasih itu kekal-abadi dan sempurna. Kasih Sayang Setiap Pagi, Kasih Sayang Setiap Hari, Kasih Sayang Sepanjang Masa (Valentin Day, Every Day). …..Mksh mm syg, slmt hr Kasih Sayang…memang dunia sedang krisis akan kasih, pj Tuhan, kt tlh memiliki Sumber Kasih yg tak prnah kering, Yesus Sumber Kasih Yang Sejati. Hai perempuan kamu yang sakit dan menderita, bangunlah dihari Kasih Sayang ini dan datang pada-Nya. Itulah pesan pendek SMS saya kepada kamu perempuan papua di pelusok negri, kampung dan pulau dan SMS yang saya terima dari berbagai sahabat. Kasih Bapa yang sempurna menghadirkan segalanya dalam hidup kita. Ada masalah, agar kita tahan uji, ada teman agar kita belajar berbagi, ada cinta agar kita belajar mengasihi, ada sukses dan gagal agar kita belajar bersyukur..!! Tuhan Yesua memberkati segala tugas dan karya. GBU Tersenyumlah perempuan papua.
ParadigmaKata Paradikma berasal dari bahasa yunani yang berarti suatu model, teladan, arketif dan ideal. Terdiri dari kata “Para” dan “Deikma”. Para yang berarti, memperlihatkan dirinya. Atau disamping disebelah dan dikenal sedangkan Deigma berarti suatu model, teladan, arketip dan ideal. Arti kata Para menurut Bhs. Inggris artinya : keadaan lingkungan. Jadi pengertian kata Paradikma dapat dipahami sebagai berikut : Pertama : adalah “kontruks berpikir berdasarkan pandangan yang menyeluruh dan konseptual terhadap suatu permasalahan dengan menggunakan teori formal, eksperimentasi dan metode keilmuan yang terpercaya. Kedua : adalah suatu pandangan terhadap dunia alam sekitarnya, yang merupakan perspektif umum, suatu cara untuk menjabarkan masalah-masalah dunia nyata yang kompleks. Menurut Thomas Khun : Paradikma merupakan landasan berpikir atau konsep dasar yang dianut atau dijadikan model, baik berupa model atau pola yang dimaksud para ilmuan dalam upayanya mengandalkan studi-studi keilmuan. Selanjutnya, Robert Friedrichs : Paradikma adalah kumpulan tata nilai yang membentuk pola pikir seseorang sebagai titik tolak pandangannya sehingga akan membentuk citra subyektif seseorang mengenai realita dan akhirnya akan menentukan bagaimana seseorang menanggapi realita itu.Adapun yang saya maksudkan dengan Paradikma disini, secara sederhana dapat dimaknai dan diartikan sebagai “cara pandang terhadap sesuatu”. (Misalnya, bagaimana melihat, merasakan, memikirkan, melakukan – terhadap sesuatu) Paradikma baru artinya cara pandang yang baru terhadap sesuatu. Bicara Paradikma Perempuan Papua. Artinya, bicara tentang cara pandang kita terhdap perempuan papua dan nilai/harga/martabat yang diberikan oleh lingkungan kepadanya. . Jadi sekarang kita mau menyoroti paradikma perempuan papua sebagai ciptaan yang utuh dan sempurna, walaupun dia masih terbungkus dengan paradikma lama. Seperti zaman sebelum sekarang bicara tentang perempuan itu susah. Tetapi sekarang sudah maju, kenapa kita masih membuatnya susah terus ? Dulu susah karena Pertama, perempuan tidak mau memahami dirinya sendiri. Dia pasrah pada ketidakberdayaannya sebagai perempuan. Dia anggap dirinya lemah. Hana Hikoyabi (MRP) mengatakan : Masalah yang paling besar dihadapi perempuan papua adalah ketidakberdayaan mereka. Pemicunya ialah laki-laki. Karena adanya kekuasaan yang sulit kita lawan. Padahal sesungguhnya perempuan memiliki potensi unik. Dia tulus dan cerdik. Artinya, bahwa ketika dia memahami dirinya sendiri, maka serentan dia atau mereka akan bangkit untuk berjuang membelah dirinya dan menjadikannya sebuah kelahiran baru. Abraham Zaleznik menyebutkannya sebagai orang yang “dilahirkan dua kali” Yaitu ketika mereka melihat di dalam dirinya kekuatan untuk menghadapi tantangan lingkungannya. Kedua, bicara perempuan tidak bisa dipisahkan dari lingkungan masyarakat dimana dia berada dan juga posisi dia dalam lingkungan rumah tangga yaitu apa yang dilakukannya dan perlakuan apa yang diperhadapkan/ dialaminya di dalam masyarakat termasuk laki-laki (suami). Lingkungan di papua memiliki karakter alamiah dari yang ekstrim kasar sampai lunak. Jadi karakter perempuan papua cenderung keras dan kasar. Tetapi bukan berarti kehilangan arah. Dia cenderung hidup dari hatinya.Paradikma Perempuan Papua harus dibalik mulai dengan melihat diri kita, lingkungan kita dan dengan peluang “Modal” & “Model” dari Pemerintah/mitra pemberdayaan. Karena kenyataannya sampai hari ini perempuan papua masih terikat pada pandangan yang keliru terhadap dirinya sendiri sebagai “penolong yang setara”, disamping pandangan sempit yang datang dari laki-laki terhadap dirinya. Padahal sesungguhnya perempuan itu ibarat Tim Sar yang memiliki kelengkapan yang sempurna sebagai penolong. Sebagai penolong dia memiliki strategi dan kemampuan lebih untuk menantang bencana untuk sebuah kata yakni “selamat”. Bagaimana kita balik paradikma itu ? Saya pikir kita BALIK dari AKAR pandangan perempuan dari laki-laki. Sehingga kita jangan terus terikat pada CARA dari mana perempuan itu tercipta, tetapi pandanglah kepada TUJUAN untuk apa dia diciptakan. Sebab jika tidak ada tujuan, untuk apa “diciptakan-Nya mereka laki-laki dan perempuan…” Rasul Paulus dalam I Korintus 11 : 3, mengatakan : “Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah”. (ay. 7-12) “Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya : ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki. Sebab itu perempuan harus memakai tanda wibawa dikepalanya oleh karena para malaikat. Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan”. Apa yang terjadi jika bumi ini hanya laki-laki saja atau sebaliknya perempuan saja. Atau hewan saja atau gelap saja. Oleh karena itu jika tidak ada pasangan maka pasti tidak ada sebuah pilihan. Artinya :Pada hakekatnya “nilai” lahir dari sebuah tindakan/sikap memilih diantara baik atau buruk. Pandangan seperti ini bisa menolong setiap kita untuk bertanggangjawab kepada Sang Pencipta. Menyuarakan kapada dunia untuk memandang pada tujuan, bukan baru hari ini kita bicara dan berjuang bagi diri kita sendiri, tetapi bahkan telah menjadi topic menarik sejak lama. Di Perancis sejak abad XIX, yang dipelopori oleh Eugenie Mouchon Niboyet (1799-1883). Di India oleh Bunda Theressa. Di Indonesia oleh R. A. Kartini. Di Papua kalau bukan kita, siapa lagi ? Pada prinsipnya mereka mulai dengan sebuah gagasan dan tindak
Bagikan artikel ini



