Oleh : Abdul Munib

Siapapun wartawan yang hidup setelah Orde Baru tak akan menemukan Pers Esai. Kata Pers Esai saya gunakan untuk menyebut Pers sekarang yang kita jalani adalah Pers Kronika. Jejak Pers Esai di jaman Pers Kronika sekarang ada pada Tajuk atau Editorial dan Halaman Opini.

Di era Pers ber-platform digital, Tajuk dan Halaman Opini bahkan hilang sama sekali. Namun disisi lain praktek berita Kronika yang berbasis kejadian peristiwa pun sekarang bahkan dilakukan oleh masyarakat sendiri bukan oleh wartawan dalam kasus Info Kejadian di setiap kota di Indonesia, misalnya.

Mereka menyajikan informasi kejadian perdetik, jauh lebih cepat dari kecepatan penyajian oleh wartawan yang disebut media mainstream. Walhasil pada prakteknya Pers mainstream berada di persimpangan jalan. Secara praktek kecepatannya diambil alih jurnalistik warga. Secara ekonomi karya-karya nya tak lagi bisa terkapitalisasi dengan kayak. Dan secara kedudukan sama seperti anak kambing, yang harus cari induk untuk dapat mengusuinya agar tetap hidup.

Berita Kronika di era sebelum kemerdekaan juga ada. Yaitu yang mengangkut info kejadian yang bercorak daerah dan peristiwa. Itu biasanya beritanya pendek-pendek, menempati hanya di sebagian kecil halaman koran. Sedangkan yang memenuhi halaman pada era itu adalah perpaduan dan peraduan gagasan dari pemilik koran dan pengisi esai. Dalam inkubator itulah gagasan Bangsa Indonesia dikandung.

Walhasil di era setelah Orde Baru dan sebelum Kemerdekaan terjadi pola dominasi yang terbalik. Di sebelum kemerdekaan Berita Esai yang dominan dengan memenuhi 70 sampai 80 persen ruang, sisanya Berita Kronika. Sedangkan di setelah Orde Baru berita Kronika lah yang dijual dan Berita Esai hanya pelengkap tambahan saja.

#

Dua dekade diantara tahun 1945 dan tahun 1965 ada empat fenomenal utama yang terjadi pada Pers kita. Satu fenomena berdirinya Persatuan Wartawan Indonesia tanggal 9 Februari 1946 sebagai, sebuah tekad berpihak seratus persen kepada bangsa Indonesia yang baru enam bulan merdeka. Sikap ini seperti sikap Kumbakarna ketika bangsa Alengka diserbu Rhama. Kedua, fenomena Pers Partai Politik tumbuh seperti jamur di musim hujan. Masing-masing partai politik punya koran. Ketiga friksi pertarungan menguat antara Pers milik komunis dan milik Angkatan Darat. Ini efek pantulan Perang Dingin pada saat itu. Fenomena keempat tumbuhnya embrio Pers Liberal ditandai oleh tokoh Muchtar Lubis dengan koran Indonesia Raya sebagai pintu masuk bagi Industri Pers di era Orde Baru. Untuk kemudian ingin berstandar meniru seperti Pers Barat.

#

Saya katakan model Pers Kombakarna seperti diatas untuk mempermudah menyadari sikap tegas dan jelas Pers Indonesia dalam kiprah bangsa Indonesia baik interaksi di dalam maupun keluar secara internasional diantara bangsa-bangaa lain.

Seperti model Kompas dan Tempo model Pers mereka condong kepada Pers Gunawan Wibisana. Mereka memilih mengikuti pendapatnya sendiri walaupun harus ikut musuh asing. Contoh kasus belakangan Tempo bekerjasama dengan George Soros. Sedangkan Pers model Kumbakarna yang bersikap membela Bangsa Indonesia, baik atau buruk negara harus dibela ketika asing memerangi bangsa kita. Pers Kumbakarna telah melemah. Kumbakarna telah dimutilasi, paha dan tubuhnya terpisah. Berkeping-keping seperti PWI yang telah berpecah belah. Rebutan uang receh. Mana yang lebih baik Pers Gunawan Wibisana atau Pers Kumbakarna, kembali kepada Inamal A'malu Binniyat. Perbuatan itu bagaimana niatnya. Tapi saya sendiri memilih Pers Kumbakarna.

#

Keniscayaan platform digital membawa kepada runtuhnya Imperium Pers. Disrupsi yang melanda semua bidang juga memporak-porandakan pondasi dan tiang-tiang pilar utama usaha industri Pers. Ketika segalanya sudah menyeberang ke dunia maya digital - yang disumbangkan oleh teknologi internet, Pers kehilangan bumi tempatnya berpijak. Bisa dikatakan karya jurnalistik tak dapat dikapitalisasi lagi seperti pada era Industri Pers.

Pers dengan platform Digital (DPD) mengalami turun harkat derajat, dari Pers Anjing Penjaga ke Pers Anjing Penjilat. Perbedaannya terletak pada yang dijilatnya siapa. Kasta wartawan kelas teri untuk masih tetap dapat makan harus menjilat kepala dinas, wartawan kelas menengah menjilat kepala daerah, dirjen atau menteri. Kalau kelas Tempo yang dijilat langsung Soros yang duitnya lebih banyak. Begitu pun kelas Kompas, yang dijilatnya langsung bohir kelas Freemasonry.

Dengan ruang tanpa batas pada platform digital, hukum ekonomi dari Pers dengan platform cetak (DPC) jadi hancur luluh lantak. Tak ada lagi eksemplar dan tak datang lagi rombongan pengiklan ke kantor pemasaran. Akhirnya untuk tetap bisa makan jual diri pun jadi. Pada titik ini Pers dan Perek (perempuan eksperimen) tak ada bedanya. Inilah kisah tragis Ibu Bangsa, yang dalam sejarahnya Pers pernah menjadi rahim yang mengandung gagasan Bangsa Indonesia dan melahirkan Negara Indonesia. Lima puluh persen lebih Pemilik Media adalah anggota BPUPKI, founding fathers kita.

#

Pada akhirnya, untuk dapat tetap hidup secara layak dan terhormat dalam konstelasi berbangsa, bernegara dan bermasyarakat ditengah dinamika peradaban dunia dan pergerakan Indonesia, maka Pers Indonesia harus mengambil posisinya kembali dan sikapnya yang eksis, constan dan konsisten. Posisi dan sikap apa ? Posisi sebagaimana takdirnya menjadi Ibu Bangsa, makanya jadilah tetap sebagai Ibu untuk bangsa ini dengan kembali mempraktikkan Pers Esai, dengan kronika hanya sebagi pelengkap. Sikapnya apa ? Sikapnya tegas sebagai Pers Kumbakarna yang akan tetap membela Tanah Air ketika asing memerangi. Seperti sikap PWI 9 Februari 1946 seratus persen mendukung Indonesia yang baru lahir enam bulan lalu. Sikap kebangsaan terlebih dahulu setelah itu wartawan.

Perlu menunggu pembaharu atau Mujahid Pers, agar Pers Indonesia tetap pada posisinya yang tidak hina. Keterhormatan terletak pada kepala yang tegak karena keberanian membela kebenaran. Jangan menjadi terhina karena setengah abad ikut satu meja sarapan atau makan siang dengan para Pencuri Uang Rakyat (PUR) alias koruptor. Terhina juga karena hanya meniru dan meniru koboy Amerika dalam membuat media.

Jadi pada akhirnya wartawan Indonesia harus berteriak lantang, setelah sebelumnya melakukan perenungan refleksi mendalam dan mengevaluasi perjalanannya dalam rumah Bangsa Indonesia. Untuk kembali kepada takdir dirinya dalam bangsa ini, sebagai ibu yang pernah mengandung dan melahirkan Bangsa dan Negara ini. Sejarah sudah tertoreh jelas tak satu orang pun dapat menafikannya.

Penulis adalah Penanggungjawab Papuapos Nabire dan Papuapos TV