NABIRE – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-125 di Kodim 1705/Nabire telah memasuki minggu terakhir pelaksanaannya. Ditargetkan selesai pada 21 Agustus 2025, program ini telah menunjukkan pencapaian luar biasa, baik dari sisi fisik maupun non-fisik, sebagai wujud nyata sinergi antara TNI dengan seluruh komponen bangsa.

Program TMMD yang kini sudah berjalan 125 kali ini merupakan salah satu program unggulan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad). Awalnya, program ini diinisiasi oleh Menteri Dalam Negeri dan kini frekuensi pelaksanaannya meningkat. 

Dulu TMMD hanya setahun sekali, kemudian dua tahun sekali dan kini menjadi tiga tahun sekali. Hal ini menunjukkan pentingnya program TMMD dalam upaya pembangunan desa di seluruh Indonesia.

Capaian fisik yang berhasil diselesaikan selama kurang lebih dua minggu ini mencakup berbagai infrastruktur vital. Pembangunan jalan, jembatan, dan sarana umum lainnya telah rampung. Pembangunan ini tidak hanya memperlancar mobilitas warga, tetapi juga membuka akses ke berbagai potensi ekonomi di wilayah tersebut.

Di samping itu, capaian non-fisik juga tak kalah penting. Berbagai penyuluhan telah diberikan kepada masyarakat, mulai dari sosialisasi kesehatan, pertanian, hingga wawasan kebangsaan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan membangun kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya pembangunan.

Menurut Mayor Jenderal TNI Agustinus Purboyo, selaku Pimpinan Pengawas dan Evaluasi (Wasev), perencanaan program TMMD sangatlah matang. "Perencanaan cukup panjang dan tidak serta merta dilakukan," ungkapnya saat kunjungan di Kodim 1705/Nabire, Jumat (8/8/2025).

Jenderal Agustinus juga menegaskan bahwa keberhasilan TMMD tidak terlepas dari peran serta seluruh komponen bangsa, termasuk Polri dan masyarakat. Hal ini sejalan dengan ‘Asta Cita’ atau delapan cita-cita Presiden saat ini, yang menempatkan program ketahanan pangan sebagai prioritas utama.

"Program ketahanan pangan ini menjadi asas prioritas," tegasnya. Demi memastikan ketahanan pangan dapat dilakukan secara mandiri. Pentingnya ketahanan pangan mandiri menjadi krusial mengingat kondisi global yang penuh ketidakpastian. 

"Penuh ketidakpastian, tidak bisa diprediksi dan sangat kompleks," kata Jenderal Agustinus, mencontohkan konflik yang terjadi di negara tetangga yang disebabkan oleh permasalahan candi dan teritorial.

Konflik kecil bisa berkembang menjadi konflik terbuka jika tidak ditangani dengan baik. Hal ini mengingatkan pentingnya persatuan dan kesatuan. "Proses penyelesaian perselisihan selalu melibatkan orang banyak dari yang kecil-kecil meletuk jadi besar akhirnya jadi konflik terbuka," imbuhnya.

Dengan semangat kebersamaan yang terjalin selama TMMD, diharapkan persatuan dan kesatuan di masyarakat semakin kokoh. Program TMMD ke-125 ini membuktikan bahwa sinergi antara TNI, Polri dan seluruh elemen masyarakat adalah kunci utama untuk mewujudkan pembangunan yang merata dan berkelanjutan di seluruh penjuru negeri.(sam)