Murid SLB Petra Nabire Kreatif, Mampu Membuat Asesoris Tari Papua dari Bahan Lokal
Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Kalimat itu seolah tergambar dari aktivitas para murid Sekolah Luar Biasa (SLB) Petra Nabire yang kini mampu membuat berbagai asesoris tari Papua secara mandiri dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal.

NABIRE — Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Kalimat itu seolah tergambar dari aktivitas para murid Sekolah Luar Biasa (SLB) Petra Nabire yang kini mampu membuat berbagai asesoris tari Papua secara mandiri dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal.
Di bawah bimbingan para guru dan dukungan kepala sekolah, siswa-siswi SLB Petra Nabire dari jenjang SD, SMP hingga SMA diberikan ruang untuk mengembangkan kreativitas melalui kegiatan keterampilan.
Hasilnya, para murid tidak hanya belajar membaca, menulis dan berhitung, tetapi juga mulai mampu menghasilkan karya yang dapat digunakan untuk mendukung penampilan tari-tarian khas Papua.
Salah seorang guru SLB Petra Nabire, Titin, kepada Papuapos Nabire, Jumat (21/8/2026), mengatakan keterampilan menjadi bagian penting dalam proses pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Menurutnya, tugas guru tidak sebatas memberikan materi akademik di dalam kelas. Anak-anak juga perlu mendapatkan pendampingan agar mampu menemukan potensi, bakat dan minat yang mereka miliki.
“Sebagai guru, kami tidak hanya memberikan materi pelajaran membaca, menulis dan berhitung saja, tetapi juga memberikan pendampingan dan pelatihan berbagai keterampilan,” ujar Titin.
Melalui pelatihan tersebut, siswa-siswi SLB Petra Nabire dibimbing membuat asesoris yang digunakan dalam tarian khas Papua. Menariknya, bahan yang digunakan sebagian besar berasal dari bahan lokal yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya sekolah menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandirian para siswa. Jika sebelumnya sekolah harus menyewa asesoris ketika mengikuti kegiatan atau tampil dalam berbagai acara, kini sebagian kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui hasil karya para siswa sendiri.
“Harapannya, ketika ada penampilan di sejumlah event, kami tidak lagi menyewa asesoris. Anak-anak bisa menggunakan hasil karya mereka sendiri untuk tampil dalam kegiatan tarian,” katanya.
Bagi para guru, keberhasilan kegiatan tersebut bukan semata-mata diukur dari bagus atau tidaknya bentuk asesoris yang dibuat. Lebih dari itu, proses pembuatan menjadi bagian penting dalam melatih ketekunan, kesabaran dan rasa percaya diri anak.
Menurut Titin, setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda. Karena itu, guru tidak bisa menggunakan ukuran yang sama dalam menilai hasil karya siswa.
“Kami tidak menilai hanya soal baik atau tidak hasilnya. Yang kami lihat adalah ketekunan dan kesabaran anak dalam menghasilkan sebuah asesoris atau pakaian tarian. Tidak semua orang memiliki kesabaran dan ketekunan seperti itu,” tuturnya.
Dalam proses pembuatannya, setiap guru diberikan tanggung jawab untuk mendampingi siswa. Pendampingan dilakukan secara bertahap, mulai dari mengenalkan bahan, memberikan contoh, membantu proses pembuatan hingga memberikan motivasi agar anak mampu menyelesaikan karyanya.
Dari proses tersebut, para guru juga dapat melihat potensi yang selama ini mungkin belum muncul dalam kegiatan pembelajaran biasa.
“Lewat pembuatan asesoris ini akan terlihat bakat dan minat seorang murid. Walaupun mereka memiliki kekurangan dalam membaca atau mendengar, mereka tetap mempunyai kemampuan dan potensi yang bisa dikembangkan,” jelas Titin.
Kegiatan keterampilan di SLB Petra Nabire akhirnya bukan sekadar menghasilkan asesoris tari Papua. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan bahwa mereka mampu berkarya, memiliki kreativitas dan dapat memberikan sesuatu bagi lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Di tangan para murid SLB Petra Nabire, bahan-bahan lokal bukan sekadar benda biasa. Dengan bimbingan guru dan ketekunan, bahan tersebut berubah menjadi karya yang membawa pesan sederhana: setiap anak memiliki kemampuan untuk berkarya ketika diberikan kesempatan, pendampingan dan kepercayaan. (des)
Bagikan artikel ini



