Oleh : Abdul Munib

Hari ini, tanggal 20 Februari 2025, hampir semua Kepala Daerah baik Gubernur, Bupati maupun Walikota di lantik langsung Presiden Prabowo di Istana Merdeka Jakarta. Mereka adalah pemimpin pilihan rakyat, yang kita bersama do'akan agar dapat memimpin sesuai pesan Langit, pesan konstitusi, pesan aspirasi rakyat dan janji mereka dalam visi misi, selama kepemimpinan lima tahun kedepan.

Orang beriman mempercayai kepemimpinan Tuhan. Orang Atheis mengandaikan dirinya bisa hidup tanpa Tuhan. Orang-orang atheis mereka mengandaikan dapat hidup sendiri. Mereka mencoba menghapus Tuhan dari benak pikirannya semampu mereka dapat menghapusnya. Namun Tuhan Maha Kaya (Al Ghani), Dia tidak membutuhkan satu butir debu pun dari makhluknya. Tak butuh pengakuan secuilpun dari manusia, termasuk dari para Atheis tadi. Eksistensi dan otoritssi Tuhan tak dapat diinterupsi sedikitpun, sebab makhluk ciptaan-Nya bergantung keseluruhannya pada-Nya.

Tak beda jauh dari itu adalah orang-orang yang mengandaikan dirinya dapat hidup tanpa adanya kehadiran seorang nabi. Hanya merasa cukup hidup dengan teks yang ada di tangannya, baik itu teks Kitab Suci, teks kitab hadist dan teks  kitab para mujtahid. 

Mereka percaya begitu saja bahwa kenabian telah ditutup oleh langit dan Nabi Terakhir telah wafat, - tanpa memberi wasiat terhadap pengawalan perkara besar Penggembalaan Agung oleh sosok pilihan Langit. Tanpa membangun prasangka baik bahwa Langit pasti adil, tak pernah meninggalkan manusia sendirian tanpa pemimpin pilihan-Nya. Bahwa sebagai pengganti nabi, Langit telah memilih Wali untuk memimpin wilayah manusia, ruang waktu dan wilayahnya..

 Di bagian ini terjadi Ikhtilaf (perdebatan besar) umat manusia. Dan diabadikan dalam surat An Naba : Amma yatasa'alun anin Naba Alazim, allazi hum fihi muhtalifun. Tentang apa kah mereka saling bertanya-tanya ? Tentang berita besar (Wali), - ada sebagian menafsir ini hari kebangkitan. Yang dalam hal itu mereka berselisih. Surah Al-Maidah ayat 55 memberi isyarat adanya Tiga Wali (tiga pemimpin) umat manusia : Allah sendiri, Rasulullah dan orang beriman yang mendirikan shalat dengan bersedekah sambil ruku.

Di dalam ayat seperti inilah Kitab Suci Al Quran menampakkan dimensi mutasabihat (samar) yang menandakan pada adanya kebutuhan akan (Takwil). Otoritasi takwil (terjemah presisi) hanya dimiliki oleh pemimpin yang dipilih Langit. Sedangkan persepsi dari Kitab Suci yang menurut manusia biasa disebut Tafsir.

Masalahnya kemudian keberadaan Wali dicemooh oleh manusia, itu soal lain. Banyak umat zaman ini Agnostik. Merasionalisasi total agamanya dengan ilmu empiris. Atau di Kutub lain mengagungkan khurafat. Dan di bagian lain pemurnian puritanisme yang berakar pada teks semata. Selain itu juga ada yang mengurung agama pada ruang sempit prifat yang dilakukan oleh sekularisme.

 Agama Tuhan dicairkan secair-cairnya jadi sekularisme yang memenjarakan agama di sebatas ruang privat dan, yang kedua agama Tuhan dipadatkan sepadat-padat hingga yang tersisa hanya sekedar simbolnya belaka.

 Bukan kah nabi-nabi dahulu juga dicemooh dan dibunuh oleh manusia. Dan setiap seorang nabi wafat ajarannya menjadi sasaran kanibal untuk dicabik-cabik burung bangkai para penentang dan dibelokan. Itu pola sikap masyarakat manusia terhadap nabinya yang terus berulang-ulang di setiap peradaban.

Tulisan ini ingin mengajak kita semua hidup lebih nyata, dan tidak hidup dalam ilusi tak berdasar yang hanya menggunakan angan-angan tanpa pondasi kokoh. Ditempuh melalui kuatnya pemikiran rasional dalam filsafat hikmah. Bahwa untuk menuju yang metafisika kita membutuhkan fisika (pemimpin pilihan Langit) yang dipandu oleh rasionalitas dalam filsafat hikmat. Tuhan tak bisa ditemukan hanya oleh panca indera.

Bahwa kita tak ditinggalkan sendirian tanpa kehadiran pemimpin pilihan Langit. Karena dua Kalimat Syahadat bertumpu pada Teori Disposesi. Bahwa kita mengetahui metafisika itu melalui fisika, tidak ada pintu lain. Orang Umat Muslim mengenal makna Allah melalui Nabi Muhamad. Demikian pula setiap nabi adalah makhluk sejarah yang ada secara fisik, sebagai sarana manusia mengenal Tuhan yang metafisik.

Karena Tuhan tak mungkin dzalim kepada makhluknya, maka ketersediaan pemimpin pilihan Langit pada setiap zaman adalah keniscayaan. Diterima atau tidak dia oleh manusia jamannya itu soal lain. Diakui atau tidak keberadaannya oleh manusia di jamannya ini juga soal yang lain lagi. Tapi percayalah justru akan lebih sulit hidup kita dengan mengandaikan ketiadaannya. Kita akan luntang-lantung di pelataran alam benak (iktibar). Hidup di dunia tafsir yang maha berserak seperti pasir di pantai atau pasir gurun Sahara tanpa Oase.

Untuk itulah orang-orang tua di Nusantara selalu punya dongeng Ratu Adil kepada anak-anaknya pada setiap malam pekat menjelang tidur. Mereka bercerita bahwa Ratu Adil yang dijanjikan itu sudah ada di kehidupan nyata kita hari ini, hanya tak dapat terindra oleh manusia. Keghaibannya adalah skenario Langit yang perlu kita cermati, apa hikmat dibalik itu semua.

 Bisa jadi ghaibnya Ratu Adil itu adalah manifestasi politik Tuhan bagi umat-Nya yang makar selalu membunuh pemimpin pilihan Langit. Diabadikan dalam ayat Innahum yakiduna kaida, WA akidu kaida. Mereka melakukan politik rekadaya, maka Tuhan juga maha Rekadaya. Dan Tuhan tak mungkin bisa dikalahkan, La aghlibanna ana WA Rosulullah : Aku dan Rasulku tak bisa dikalahkan.

Setiap tetes hujan dari Ketinggian Alam Ars yang akan turun ke alam materi atau alam dunia, selalu harus melalui Ratu Adil. Dia juga adalah seorang Hamba Allah yang menjadi pintu gerbang para Nafs Almutma'innah (Mabusia Berjiwa Damai) yang diridhai Tuhan sebelum ia masuk surga. Masuklah ke dalam Gerbang Portal Jambaku, baru masukkan ke dalam surgaKu. Pada setiap peradaban manusia, selalu banyak yang memilih jalan nestapa dengan mengabaikan jalan Akal Kenabian. Manusia tertipu oleh Nafs Maddatiah (sisi jiwa materi) yang mengira kesementaraan ini abadi. Ia hidup seperti seekor ikan di laut yang selama hidupnya tak pernah tahu samudera itu ada dimana. ##


*Penulis adalah Penanggjawab Papuapos Nabire dan PapuaposTv.