‘Tarian Emaida’ Perkaya Khasanah Budaya Nasional
PANIAI - Tarian Emaida adalah tarian pergaulan yang biasanya masyarakat Kabupaten Paniai memperagakan ketika pergi ke Emaida. Emaida adalah tempat menyelenggarakan tarian, sehingga Emaida tidak dibatasi oleh siapapun baik tua, muda dan anak. Kebanyakan tarian Emaida diragak
Bagikan
PANIAI - Tarian Emaida adalah tarian pergaulan yang biasanya masyarakat Kabupaten Paniai memperagakan ketika pergi ke Emaida. Emaida adalah tempat menyelenggarakan tarian, sehingga Emaida tidak dibatasi oleh siapapun baik tua, muda dan anak. Kebanyakan tarian Emaida diragakan pada malam hari.
Emaida biasanya diselenggarakan melalui kesepakatan bersama tua-tua adat di kampung. Untuk penyelenggaraannya ditentukan melalui mimpi akhirnya membangun satu Rumah Adat Ema atau rumah dansa. Ema ini diakhiri dengan Yuwoo atau pesta babi rakyat. Tempat ini biasanya dijadikan malam tempat pacaran, tempat unjuk kebolehan dari sisi ekonomi, tempat mengingkatkan kerinduan dan kebutuhan oleh masyarakat. Ketika beberapa lama kemudian diselenggarakan yuwoo dalam rangka saling menunjukkan keberhasilan dari sisi ternak, tanaman, anyaman, jodoh, maskawin dan lain sebagainya.
Tarian ini dirasa baik dan diangkat oleh Pemerintah Kabupaten Paniai sebagai tarian pergaulan bagi semua masyarakat dari distrik. Karena selain mereka memperagakan juga mereka membangun kebersamaan untuk membangun Kabupaten Paniai.
Sesuai dengan visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Paniai bahwa pendekatan pembangunan ditempuh dengan simbol A3 (Aparatur/pemerintah, Agama, dan Adat). Tarian ini dinilai dari sisi adat dapat mempersatukan semua kalangan masyarakat, maka pemerintah hendaknya memberikan kesempatan melalui Dinas Pariwisata Paniai mengangkat tarian ini sebagai tarian simbol persatuan membangun negeri.
Dalam sambutannya saat membuka kegiatan Festifal II, Wakil Bupati Paniai, Yohanes You, S.Ag,M.Hum, mengatakan tarian Emaida adalah tarian yang sangat khas diberikan oleh Tuhan. Dalam tarian itu orang harus pakai Koteka, Moge, Uka, Mapega, Waiya, Benapa, Kaganepa dan sebagainya adalah ciri khas yang ada hanya di suku pengunungan khususnya Suku Moni dan Suku Mee. Orang mengatakan suku yang suka memakai koteka, moge dan sejenisnya, tidak lain hanya ada di pengunungan ini, maka perlu lestarikan untuk memperkaya khasanah budaya Nasional.
Lanjut Wabup, agar tarian ini tetap lestari, hendaknya generasi sekarang harus mengajari generasi berikutnya, “Tarian ini harus dilestarikan, terutama terkait juga mengangkat Uga, Gawai, Kitouge dan sebagainya. Jika kita tidak lestarikan, maka suku lain menyebut kita suku benalu. Suku yang ada tanpa dasar. Perkembangan sekarang silahkan menyesuaikan, tetapi yang ada jangan lupakan, supaya semua bentuk budaya yang ada termasuk Emaida terlestari dan dapat diteruskan dari generasi ke generasi,” tandasnya.(muh/ist)
Bagikan artikel ini



