Esai : Likursev Neptuhasta

Dalam perang Iran-Zionis Ini jangan bilang Iran Syi'ah. Karena Netanyahu dan Trump pun Bukan Ahli Sunnah Wal Jama'ah, Apakah Rusia dan Cina harus menjadi Syi'ah terlebih dahulu untuk berdiri bersama Iran. Apakah Iran sedang membela Palestina yang syiah ? Tidak juga, Palestina korban genosida Zionis adalah pihak teraniaya yang harus ditolong tanpa terlebih dahulu melihat mazhabnya. Perang ini soal Dzalim dan Madzlum.

Dari sembilan puluh sembilan persamaan antara Sunni dan Syiah, hanya satu saja sebenarnya perbedaan antara keduanya. Apa sajakah 99 persamaan itu ? Tuhan yang disembah Allah swt. Sama sama tidak menyembah berhala. Nabi yang diikuti sama Nabi Muhammad. Quran yang dibaca adalah Alquran yang sama. Kiblat mereka berdua saat shalat atau tawaf sama-sama ka'bah yang itu, bukan ka'bah lain. Sama-sama mengimani nabi-nabi terdahulu.

Shalat mereka berdua sama, dibuka takbir di tutup salam. Takbir sama. Rukuk sama. Sujud sama. Puasa bulan Ramadhan sama. Zakat sama. Pergi haji sama. Umroh juga sama. Tauhidnya juga sama, la ilaha illa Allah. Tasbih mereka sama, subhanallah. Takbir mereka sama Allahu akbar. Tajwid mereka berdua dalam membaca Alquran sama. Tahmid mereka berdua sama Alhamdulillahi Robbil alamin. Berwudhu sama. Menutup aurat sama. Keutamaan Bersilaturahmi sama. Keutamaan memuliakan tamu sama. Keutamaan menghormati tetangga sama. Sama sama mengutamakan sedekah. Sama sama mengutamakan membantu fakir miskin dan mustadafin. Sama-sama menghormati hubungan kekerabatan. Sama dalam amar makruf. Sama juga dalam mencegah kemungkaran. Sama sama menjauhi mabok. Sama sama menjauh judi. Sama dalam birrul walidain, menjaga orang tua. Sama sama menjaga akhlakul karimah. Sunni dan Syiah sama sama menghormati Ahlulbait Nabi Muhammad. Sama sama memegang hadist Nabi. Sama-sama menjaga sunnah nabi. Sama-sama mengutamakan membaca sholawat kepada nabi dan keluarga. Sama-sama mengimani adanya malaikat. Sama-sama percaya adanya hari akhir. Sama-sama percaya hari kebangkitan. Sama-sama percaya adanya pengadilan ilahi. Sama-sama percaya surga dan neraka. Sama-sama percaya pada kitab suci yang dibawa nabi terdahulu.

Sunni dan Syiah sama sama dalam gairah mencari ilmu, atau Tholabul ilmi. Sama-sama menjunjung tinggi pengetahuan dan orang alim. Sunni dan syiah sama sama menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Sama-sama berpijak pada cita cita rahmatan lil alamin, Islam menjadi rahmat bagi semua. Sama sama menuju baldatun thoyyibatun wa rabbun gafur, punya negara yang baik mensejahterakan rakyat nya dan mendapatkan ampunn Rabb. Sama-sama berburu Lailatul Qadar, pada seluruh malam terakhir bulan puasa. Sama-sama menolak raja sombong seperti Fir'aun dan Namrud. Sama-sama mencari kedudukan terpuji lewat shalat tahajud. Sama-sama mengenal sifat Asmaul Husna.

Sama-sama merayakan Idul Fitri pada satu Sawal dan merayakan Idul Adha 10 Zulhijah. Sama sama melaksanakan puasa sunah Arafah. Sama-sama memotong hewan kurban. Sama-sama mendirikan shalat Idul Fitri. Sama-sama mendirikan sholat Idul Adha. Seminggu sekali sama-sama melaksan Sholat Jumat, sesuai perintah Allah dalam Alquran sudah Aljumah.

Bahkan jumlah persamaan itu lebih banyak lagi dari sekedar 99 persamaan. Karena pada hakikatnya Islam bahkan Wahyu Ilahi yang ada sejak Nabi Adam sampai sekarang, secara substansi adalah sama. Perbedaannya antara para nabi urusan hanya terdapat pada aksiden jaman dan kebudayaan masyarakat pada saat nabi itu hidup dan menerima perintah.

Jangankan pada masalah perincian (detail) agama, yang biasa disebut cabang (furuiyah) atau perbedaan hasil ijtihad (khilafiyah), pada masalah menafsir Alquran saja sering kali terjadi perbedaan. Misalnya soal menyaksikan bulan Ramadhan. Ayahnya sama, yakni barang siapa menyaksikan tanggal satu bulan Ramadhan, maka diwajibkan padanya beribadah puasa. Tapi cara menyaksikan NU dan Muhamadiyah tidak sama. Menyaksikan versi NU dengan metode empiris, melihat dengan mata telanjang meski dengan bantuan teleskop. Menyaksikan versi Muhamadiyah dengan logis, yakni perhitungan (hisab) yang terkonstruksi dalam disiplin ilmu falak. Hal seperti ini banyak sekali ditemukan dalam pelaksanaan keagamaan. Tentu tidak perlu dimasalahkan apalagi diperuncing. Ini masih sesama Ahlussunnah, sudah terjadi perbedaan cara. Jadi soal detail, cabang atau khilafiyah kita sepakat bukan soal perbedaan.

Simak Al Baqarah 185 :

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir menyaksikan (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.

Jadi apa sebenarnya satu perbedaan mendasar Sunny-Syiah itu ? Keduanya menganggap adanya kepemimpinan setelah Nabi Muhamad wafat. Secara konsepsi kepemimpinan keduanya sama. Mereka berbeda pada prediksi (tashdiqat) atau afirmasinya. Sunny menyatakan kepemimpinan pasca Nabi Muhamad adalah urusan manusia (Amrunnas), sedangkan Syi'ah menyatakan kepemimpinan pasca Rasulullah adalah urusan Tuhan (Amrullah). Jadi subjek perbedaan antara keduanya ada pada kepemimpinan pasca Nabi Muhamad.Hanya soal itu saja. Tapi dari satu bahan perbedaan inilah musuh Islam selama ini telah berhasil memecah belah Umat Islam. Umat Islam sebanyak 2 miliar yang bergerak ke suatu arah tujuan sekarang belum ada. Karena kalau ada hari ini Dunia akan berada di dalam kendali Umat Islam.

Tentu bahwa sesuatu itu Amrullah (perkara Allah) atau Amrunnas (perkara manusia) bukankah perkara terlalu besar untuk diperdebatkan. Ada banyak perkara Allah. Ada banyak perkara manusia. Salah satunya perkara kepemimpinan pasca Rasulullah. Dalam Alquran sendiri kisah Nabi Raja hanya beberapa, seperti Nabi Daud, Nabi Sulaiman dan Nabi Muhamad. Ditangannya terkumpul nubuat (kenabian) dan mamlakat (kerajaan). Justru kebanyakan nabi bukan raja.

Sedangkan terhadap kekafiran saja petunjuk Islam adalah, lakukan dinukum waliya din : Untukmu agamaMu untuk ku agamaku. Masing-masing jalan seperti biasa. Gak ada paksaan dalam agama. Peperangan hanya untuk kafir yang memerangi saja. Jadi kalau cuma perbedaan Mazhab pemikiran saja, itu mah soal kecil sebenarnya. Musuh lah yang terus menyiramkan bahan bakar agar Umat Islam terus terpecah. Karena kalau Umat Islam betul-betul eksis maka Barat tak mungkin berkuasa seperti sekarang ini.