Strategi ‘Siap Tebas Stunting’ Nabire Berbasis Data Akurat

NABIRE - Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Nabire, Syarifudin, S.P., menegaskan bahwa aplikasi ‘Siap Tebas Stunting’ menjadi solusi utama dalam memastikan intervensi penurunan angka stunting berjalan tepat sasaran.
Saat ditemui di ruang kerjanya pada Senin (13/07/2026), ia menjelaskan bahwa sistem ini dirancang khusus untuk meminimalisir kesalahan data melalui integrasi informasi yang komprehensif.
“Jadi, siap tebas stunting ini, itu aplikasinya sudah diatur sedemikian rupa, sehingga tidak akan terjadi penyimpangan atau tepatnya itu dia tepat sasaran,” ujar Syarifudin.
Menurutnya, akurasi data menjadi fondasi utama agar setiap intervensi yang dilakukan pemerintah daerah tidak lagi mengalami tumpang tindih antar instansi terkait.
Syarifudin merinci, keunggulan aplikasi ini terletak pada validitas data lapangan yang mencakup identitas keluarga, titik koordinat GPS lokasi tempat tinggal hingga kondisi sosial ekonomi secara detail.
“Karena pertama, lokasi jelas, itu ditunjukkan dengan GPS-nya. Terus kedua, data kartu keluarga jelas. Kemudian ketiga, memang di situ diukur dari sisi sosialnya, seperti kondisi rumah, lantai hingga akses air bersih,” jelasnya.
Tidak hanya aspek sosial, data kesehatan anak dan ibu juga menjadi fokus utama dalam aplikasi tersebut. “Kemudian dari sisi kesehatan, di situ ada data lingkar lengan, berat badan, tinggi badan dan lain-lain. Jadi, dari sisi bantuan untuk 3B, yakni ibu menyusui, Balita dan ibu hamil, datanya sangat jelas, bahkan dilengkapi dengan foto pendukung,” tambahnya.
Strategi ini juga memungkinkan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk mengakses satu sumber data yang sama guna menghindari duplikasi bantuan. Syarifudin menekankan, tujuan aplikasi ini supaya OPD-OPD terkait membantu penurunan angka stunting bisa ambil data dari situ. Jadi, bisa melihat dengan jelas keluarga mana saja yang benar-benar membutuhkan intervensi.
Melalui aplikasi ini, petugas di lapangan dapat dengan mudah memetakan kondisi keluarga per distrik dan kampung secara real-time. Syarifudin menambahkan transparansi data mempermudah pengambilan keputusan, termasuk memilah keluarga yang masih berisiko dengan keluarga yang sudah mandiri secara kesehatan. (sam)
Bagikan artikel ini



