NABIRE - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua Tengah (DPRPT) Fraksi Otsus, Stella Theresia Uce Misiro, mengambil langkah progresif untuk melestarikan kekayaan budaya provinsi tersebut. Ia secara tegas menyatakan kesiapannya mendorong agar bahasa daerah atau bahasa ibu resmi masuk sebagai muatan lokal wajib di kurikulum sekolah.

Langkah strategis ini bukanlah sekadar wacana. Stella Misiro menjelaskan bahwa fondasi hukum yang kokoh akan segera tersedia setelah Peraturan Daerah (Perda) tentang bahasa daerah berhasil ditetapkan. Perda ini akan menjadi payung hukum bagi upaya pelestarian bahasa yang selama ini terancam punah di kalangan generasi muda.

"Di dalamnya itu kita juga akan pastikan dorong supaya muatan lokal itu bisa juga dimuat di dalamnya," tegas Stella Misiro kepada awak media. Pernyataan ini disampaikan usai menghadiri acara konsultasi publik untuk 10 Raperdasi dan Raperdasus yang digelar di Aula RRI Nabire pada Jumat (07/11/2025).

Stella Misiro berharap, agar muatan lokal bahasa daerah ini tidak hanya menjadi sekadar tambahan, melainkan terintegrasi sebagai bagian esensial dari program pendidikan sekolah sepanjang hari yang dicanangkan oleh Gubernur Papua Tengah. Hal ini menunjukkan keseriusan untuk menjadikan bahasa lokal sebagai prioritas utama dalam sistem pendidikan.

Setelah Perda ditetapkan, DPRPT akan segera bergerak cepat. Pihaknya berencana berkomunikasi intensif dengan dinas terkait untuk memastikan implementasi dan penggunaan Perda tersebut berjalan optimal di seluruh institusi pendidikan. 

"Sehingga apa harapannya kita, bahasa ibu kita itu tidak punah dan tentunya akan terus dikembangkan," ujarnya, menekankan pentingnya pelestarian identitas lokal.

Terkait aspek teknis pengajaran, Stella Misiro memiliki pandangan yang inovatif. Ia menyarankan pemberdayaan kembali guru-guru purnatugas yang terbukti memiliki kompetensi tinggi dalam berbahasa daerah. Guru-guru senior ini dinilai memiliki dualitas kualitas, keahlian berbahasa daerah dan pengalaman dalam mengajar.

Meski demikian, Stella Misiro membuka peluang yang lebih luas. "Tapi tidak menutup kemungkinan kita juga akan melibatkan tokoh-tokoh adat, yang tentunya lebih memahami tentang substansi-substansi bahasa daerah itu," pungkasnya. 

Kolaborasi antara pendidikan formal dan kearifan lokal ini diharapkan dapat menciptakan kurikulum bahasa daerah yang kaya, autentik dan berdampak.(amd)