NABIRE - Program Makanan Bergiszi Gratis (MBG) yang merupakan program pemerintah pusat, hendaknya disosialisasikan, jangan cuma di tingkat satuan pendidikan saja, tetapi lebih penting disosialisasikan kepada Orang tua murid (Ortum) yang lebih penting.

Di dalam program MBG yang merupakan program nasional harus dibedakan antara sekolah besar, alias sekolah yang jumlah murid terbesar atau terbanyak harus dibedakan dengan sekolah yang jumlah muridnya sedikit.

Sehingga untuk penanganan program MBG bagi sekolah besar sebaiknya diserahkan langsung kepada pihak sekolah dan selanjutnya sekolah secara langsung berhubungan dengan pihak ketiga, yakni Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) untuk membangun kerjasamanya, langsung diawasi Badan Gzi Nasional (BGN) pusat.

Dikatakan Kepala sekolah SMP Negeri 1 Nabire, Irwan C. Mareku, S.Pd, kepada Papuapos Nabire, Rabu (22/1/25) di ruang kerjanya, permintaan pengembalian pengurusan program MBG ke sekolah besar, karena jumlah murid berbeda, maka jelas-jelas penanganan juga sangat rumit.

Misalnya berdasarkan data Dapodik tahun pelajaran 2024/2025 ini jumlah murid SMP Negeri 1 Nabire sebanyak 945 murid, dengan jumlah murid sebanyak ini pasti menjadi pertimbangan bagi semua soal siapa yang bertanggung jawab dan siapa yang mendistribusikan makanan tersebut.

Untuk itu, diharapkan kepada pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah agar dalam pelaksanaan program MBG, lebih utama disosialisaskan kepada Ortum dan bagi sekolah besar, program MBG ditangani masing-masing sekolah agar mudah komunikasi dan jelas tanggung jawabnya.

Sebagai saran tambahan, jika program MBG dilaksanakan secara bertahap sebaiknya tidak usaha, sebab akan membangun tingkat kecemburuan antar sekolah dan pada prinsipnya SMP Negeri 1 Nabire siap menyambut program MBG dengan senang hati. Lantaran, dari program MBG ini akan membawa banyak dampak positif bagi sejumlah pihak.(des)