NABIRE - Kegiatan di Sekolah Lapang Gempa (SLG) Bumi dan Tsunami menjadi sangat penting dan mendesak sebagai bentuk pendidikan kesiapsiagaan bagi para pemangku kepentingan dan masyarakat dalam menghadapi ancaman besar. Demikian dikatakan Kepala Stasiun Geofisika dan Koordinator BMKG Papua Tengah, George FA Muabuay. 

"Harapannya agar kegiatan ini dilakukan secara rutin dan merata, seperti kabupaten Nabire yang berpotensi tinggi terhadap gempa bumi dan tsunami," katanya.

Dasar kegiatan tersebut tertuang dalam UUD RI Nomor 31 Tahun 2009 BMKG menyelenggarakan memuat tentang geofisika, pembinaan geofisika dan juga peraturan kepala Badan Metereologi tentang stasiun Geofisika. 

Adapun Tujuan pelaksanaan SLG ini, menguatkan koordinasi antara stasiun geofisika sebagai perpanjangan BMKG pusat dengan BMKG di daerah. 

"Menguatkan BPBD sebagai simbol utama, rantai komunikasi di daerah dan memberikan arahan yang benar kepada masyarakat terhadap peringatan dini tsunami. Membangun sikap tanggap gempa bumi dan tsunami bagi masyarakat," katanya.

Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah V, Yustus Rumakiek, S.Si., dalam sambutannya menyampaikan selain kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami, BMKG juga melakukan Go To School, dan mengharapkan dukungan dari pemerintah daerah melalui Sekda untuk melakukan edukasi ke sekolah-sekolah. 

"Harapan kami agar bisa menjangkau sekolah-sekolah yang berada di Nabire ini dan bisa memahami pentingnya budaya sadar siaga dan selamat," ujarnya.

Ia juga mendorong kepada pemerintah daerah agar bisa mengimplementasikan 12 indikator siaga tsunami, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization Information Center (UNESCO-IOC), seperti pembangunan rambu evakuasi, peta bahaya, bencana kontigensi. Dan menjadikan wilayah Nabire wilayah yang aman dan dapat meningkatkan kepercayaan serta minat wisatawan asing maupun lokal.(edi)