Esais : Abdul Munib

Ini sebuah strategi pertahanan yang belum pernah ada dalam lembaran strategi militer manapun sebelumnya. Dimana seluruh wilayah Negara Republik Islam Iran di dalamnya saling terhubung terowongan bawah tanah yang mempertemukan satu kota rudal dengan kota rudal lainnya. Masing-masing pada kedalaman yang tak dapat dijangkau oleh bom bungker milik Barat.

Sehingga wilayah Republik Islam Iran seperti tubuh binatang Landak, yang jika disentuh oleh musuh, duri-duri akan langsung menusuk dari pelbagai arah yang tak terduga. Duri api berupa rudal balistik hipersonik dan drone yang jumlahnya tak terhitung dan jangkauannya juga masih misterius, akan siap menusuk negeri musuh dengan cepat, tepat dan akurat. Empat puluh lima tahun diembargo Barat, Republik Islam Iran telah melahirkan bentuk pertahanan yang khas yang dapat ditiru oleh negara berkembang lainnya.

Iran yang mahir teknologi turbin telah membuat teknologi tunnel mesin booring (TMB) sendiri, yang dapat membuat terowongan yang menghubungkan seluruh wilayah Republik Islam Iran. Iran sangat mengenal musuhnya, yakni Barat, secara baik. Mulai dari kelicikannya, kekejamannya, kesadisannya, sembrono dan kesombongannya. Untuk itu langkah pertahanan yang tepat adalah menguasai langit lewat teknologi rudal dan dron yang diproduksi masal dalam ribuan kota rudal bawah tanah.

Seandainya Netanyahu tahu sebelumnya, ia tak akan gegabah menyerang Iran. Yang mengakibatkan kota Tel Aviv dan Haifa hancur luluh lantak seperti Gaza, dalam perang 12 hari kemarin. Dan entah bagaimana bentuknya kota Tel Aviv jika perang sampai satu bulan lamanya. Persoalannya rudal balistik yang tersimpan di kedalaman perut bumi Republik Islam Iran dapat tiba di Palestina Pendudukan di titik yang dituju, di manapun di wilayah itu. Untung Trumph minta gencatan senjata segera. Jika tidak apalah jadinya.

Setelah kini diketahui, bahwa Republik Islam Iran ini seperti kodok racun, yang jika ditelan atau disentuh bisa dapat mematikan lawan dengan sangat cepat dan berbahaya, maka negara Barat mana mau coba-coba menyentuhnya. Meski pangkalan militer Barat, melalui Amerika tersebar di 26 titik di Timur Tengah, itu tidak ubahnya ikan di aquarium bagi rudal dan drone Republik Islam Iran yang tersimpan di seantero wilayah bawah tanah negeri Persia itu. Artinya jika Presiden AS salah langkah mengagresi Iran, 50 ribu tentara AS di pangkalan Timur Tengah langsung jadi tikus gurun pasir panggang dalam sekejap.

Perpaduan teknologi satelit dan pesawat militer yang dibanggakan Barat, tak mampu mendeteksi potensi ancaman rudal dan drone bawah tanah yang luasnya seluas wilayah Iran. Ribuan mulut-mulut terowongan di pegunungan Iran tak dapat diidentifikasi satu persatu untuk dijadikan sasaran serangan attack (kejut). Karena itu baru menyerang permukaan di mulut terowongan. Sementara banyak rudal yang diluncurkan langsung dari bawah tanah.

Jangankan untuk satu bulan lamanya berperang, untuk tambah 12 hari lagi rasanya militer Israel sudah kapok.

Jika Iran dalam kondisi di embargo dapat melakukan konsep baru perang modern ini, terlebih-lebih kita Indonesia akan lebih mudah lagi. Kita sudah bisa membuat teknologi Tunnel Mesin Booring (TBM). Seperti seribu kilometer terowongan bekas tambang PT Freeport misalnya. Diseluruh wilayah NKRI harus mengandung kota-kota rudal bawah tanah yang terhubung oleh terowongan-terowongan. Hal ini akan menjadikan Indonesi yang disegani lawan. Australia tidak akan berani kurangajar lagi kepada Indonesia seperti ketika lepasnya Timor Timur dan Kerusuhan Ambon. Dimana keterlibatan pasukan Australia jelas sekali.

Amerika tak akan berani menaruh kapal Induknya di selatan Pelabuhan Ratu seperti ketika demo penggulingan Soeharto sedang dijalankan.

Negeri Pancasila ini untuk dapat menjalankan falsafahnya dengan utuh dan konsekwen, membutuhkan kemandirian yang bersumber dari kedaulatan dan kemerdekaan. Sekarang kita banyak menjalankan nilai falsafah orang asing yang kandungannya sudah sangat membahayakan bangsa Indonesia. Penjajahan yang dulu kita usir dari bumi pertiwi dengan perlawanan, darah dan air mata, kini penjajahan itu datang lagi ditengah-tengah kita. Menindas kembali rakyat kita. Penjajahan yang dikemas secara manipulatif, membuat kita sebagai bangsa lengah. Diantara kita tiba-tiba telah berubah jadi penjajah terhadap bangsa kita sendiri. Bahkan banyak diantara kita telah menjadi penghianat, keluar jauh dari tujuan Funding Father Bangsa mendirikan bangsa ini. Barat masih terus ingin bercokol mengisap darah daerah bekas jajahan mereka. Meski dengan cara yang berbeda, dari cara dulu mereka menjajah. Sekarang penjajahan pola lunak.

Sementara bangunan sosial politik masyarakat Republik Islam Iran, telah memilih melalui referendum sebuah norma sistem kekuasaan berupa Demokrasi Religius. Demokrasi religius berdiri diatas sistem agung berupa Wilayatul Faqih. Apa itu Wilayatul Faqih ? Para ahli agama yang diwakili kaum Ayatullah, mujtahid fiqih sumber rujukan pedoman ibadah dan muamalah. Merekalah sebagai refresentasi dari masyarakat dalam menentukan kemaslahatan umat. Iran membuat demokrasinya sendiri, agar sesuai dengan kebutuhan bangsanya. Bukan menelan ala Barat, sementara Barat sendiri standar ganda.

Pada Mulanya Perang 20 Tahun Vietnam

Ketika pasukan Amerika memerangi Hocimin di Vietnam, lawan tetap bertahan kuat karena punya strategi terowongan di bawah perut bumi. AS setelah perang melelahkan selama 20 tahun, akhirnya 1973 harus angkat kaki dari Vietnam. Walaupun dalam Film Rambo menang, tapi pada realitasnya AS kalah dan lelah dalam perang panjang. Barat memang hanya besar di propaganda saja. Pada kenyataanya tidak demikian.

Perang dengan strategi terowongan ini rupanya banyak mengilhami jenderal IRGC di Iran. Qasim Suleimani misalnya, ia menerapkan terowongan Hammas di Gaza dan Terowongan Hizbullah di Libanon Selatan. Juga terowongan Houty di sepanjang pegunungan dekat Laut Merah.

Dan rupanya diseluruh wilayah Republik Islam Iran, dibawah perut buminya sudah terbangun ribuan kota bawah tanah yang menyimpan tumpukan rudal dan drone.

Perang Vietnam sendiri banyak diilhami oleh perang gerilya Jenderal Sudirman yang dibukukan oleh AH Nasution. Jenderal Sudirman sendiri banyak dipengaruhi perang gerilya Lima Tahun Diponegoro yang disebut Perang Jawa. Diponegoro sendiri terinspirasi Perang 17 Tahun Pangeran Samber Nyowo. Dari Raja Pertama Mangkunegaran inilah bersumber lima jurus utama perang gerilya, Demitan (senyap/tersembunyi), Welutan (licin), Gendengan (out of the box), Tiji Tibeh (mati siji mati kabeh, mukti/sejahtera siji mukti kabeh) dan Makan Bubur Panas (Desa Mengepung Kota). Lebih lama lagi, dulu adalah ketika Pasukan Multninasional Mongol Kubilaikhan dikalahkan Pasukan Raden Wijaya. Bangsa Nusantara punya Kebudayaan Perlawanan sejak dulu.

Kebuntuan Peradaban Barat

Banyak ramalan mengatakan bahwa kebudayaan Barat telah meluncur tenggelam. Seperti air mancur, Barat telah mencapai masa kejayaan di puncaknya, sedang menununggu meluncur turun dan terjatuh. Kitab suci sendiri selalu mengisahkan jatuh dan bangunnya sebuah peradaban masa silam. Biasanya sebuah peradaban jatuh karena Tuhan sudah tidak berpaling lagi melihat mereka, karena peradabannya telah larut dalam kezaliman.

Kitab suci memberi harapan masa depan bahwa bumi akan selalu diwaris oleh hamba-hamba Tuhan yang saleh. Apakah Negara Republik Islam Iran yang akan mewarisi peradaban berikutnya ? Perjalanan peradaban manusia pada akhirnya berada dalam genggaman tangan kekuasaan Tuhan yang maha esa. Ketika Tuhan membuka hidayah dan menyertai manusia, rasa takut akan hilang. Semua model model senjata negara Barat tak lain dan tak bukan adalah untuk menebar dan menumbuhkan rasa takut manusia. Semuanya itu tak berguna di depan bangsa yang berani mati.

*Esais adalah Penanggung Jawab Papuapos Nabire dan Papuapos TV