NABIRE - Kepala sekolah SD Inpres 02 Bumiraya Nabire Barat, Etin Lusiana, S.Pd,Gr, menyuarakan keprihatinannya mengenai ketimpangan pemerataan siswa di dua sekolah negeri, khususnya di wilayah Bumiraya.

Menurut Etin, meskipun kedua sekolah menggunakan kurikulum yang sama, yakni Kurikulum Merdeka, dan buku pelajaran dari satu sumber, minat masyarakat terhadap satu sekolah justru lebih tinggi dibandingkan yang lain.

"Kami kejar pemerataan siswa di sekolah negeri menggunakan kurikulum yang sama, pembelajaran juga sama. Kenapa satu diminati, yang satu tidak diminati?," ujar Etin Lusiana saat ditemui Papuapos Nabire, Senin (26/05/2025).

Ia menekankan bahwa pemerataan siswa sejak awal akan sangat membantu. Etin mengungkapkan bahwa telah berulang kali menyampaikan masalah ini, bahkan meminta Kepala Kampung Bumiraya untuk menyuarakan perlunya pemerataan siswa di kedua sekolah negeri tersebut.

"Ini yang selalu saya sampaikan, tolong Kepala Kampung Bumiraya ini tolong disuarakan untuk ada pemerataan siswa di dua sekolah negeri, beda dengan swasta," tegasnya.

Untuk saat ini, SD Inpres 02 Bumiraya memiliki total 130 siswa selama tiga tahun terakhir. Etin berharap, pada tahun ajaran baru 2025/2026, Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) kelas satu dapat mencapai kuota yang memungkinkan pembagian menjadi dua Rombongan Belajar (Rombel).

Harapan ini didasari oleh adanya penambahan guru melalui program P3K tahun 2023. Etin menjelaskan, jika siswa tidak merata dan tidak mencapai dua Rombel, beberapa guru yang berstatus ASN dan bersertifikasi dikhawatirkan tidak mendapat Tunjangan Profesi Guru (TPG), karena tidak sesuai dengan rasio siswa per guru yang diatur dalam sistem.

"Secara sistem 34 siswa itu belum bisa dibagi dua Rombel, karena satu kelas itu maksimal 28 siswa, minimal 20 siswa. Karena itu tadi, kurangnya siswa tapi gurunya lebih," jelas Etin yang juga mengelola Dapodik sekolah.

Sebagai pengelola Dapodik, Etin berupaya agar data guru tetap aman dan siswa dapat belajar dengan maksimal. "Harapan saya untuk SPMB tahun depan bisa memiliki dua Rombel, dan itu harapan saya untuk dinas pendidikan dan pemerintah kampung adanya pemerataan siswa. Itu sudah saya suarakan tiga tahun yang lalu," katanya.

Etin mengakui bahwa menumbuhkan kepercayaan dan minat masyarakat terhadap sekolah bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, ia sangat mengharapkan dukungan dari dinas pendidikan dan pemerintah kampung untuk mewujudkan pemerataan siswa ini demi optimalisasi proses belajar mengajar dan kesejahteraan guru.(sam)