Samungel Hanya Lulus SD

Cerpen : KH Abdul Munib
Pohon beringin di jalan Cendrawana belum juga ditebang oleh pedang waktu tapi di Muhara sudah roboh delapan tahun sebelumnya. Malam itu burung Pitril masih bertengger di pohon Caringin Dukuh yang menjulang tinggi. Pokok akarnya dibawah ada lobangnya. Masih ada orang yang menaruh sesajen disana, entah siapa. Tapi ada yang tak suka sehingga beberapa kali pohon yang tak punya salah apa-apa itu mau dicoba dibakar. Kata pembakarnya untuk menegakkan tauhid. Tapi si penegak tauhid itu sering main judi dan pernah dikejar tetangga desa karena kedapatan maling gabah di sawah.
Burung Pitril itu kalau diklik di Google, muncul namanya burung Kedasih. Si penipu ulung di dunia burung. Karakter pemalas, harap gampang, penipu, licik, merugikan orang lain, penyusup dan pembunuh jadi satu dalam dirinya.
Karakter pada binatang kebanyakan adalah bawaan dari sifat alam atau hukum Takwin. Beda dengan karakter pada manusia yang bisa diupayakan. Upaya itulah namanya hukum Tasyri. Pada separuh diri manusia ada unsur binatang yang bersumber dari sifat alam materi. Misalnya, seperti binatang manusia punya libido, rasa lapar dan haus, dan kebutuhan perlindungan dari panas dan hujan. Manusia juga punya itu. Namun jiwa manusia harus mempertangung jawabkan kemerdekaan yang dimilikinya.
Maka kelicikan manusia dikategorikan ke dalam yang bisa diupayakan untuk dipupuk atau dihilangkan. Yang demikian itu disebut potensi, yang bisa diaktualisasi juga bisa dikendalikan.
Itulah yang dilakukan Imara terhadap Samnguel saat hendak berkontestasi dalam pemilihan Kepala Desa. Samnguel didukung oleh rakyat kampung Tulanjana, karena lama pengabdian di masyarakat. Kalau desa kekeringan karena siklus kemarau panjang, Samuel lah yang sibuk mengurus air bendungan dari kecamatan sampai mengalir ke sungai desa. Dia lah yang repot menghubungi petugas, kepala polisi dan komandan.
Setelah Lurah Zulkipli lengser karena tersandung masalah keuangan desa, melalui perantaraan surat laporan dari koalisi guru dari Jawa ke ketua partai penguasa di kabupaten, desa Tulanjana memerlukan pemilihan kepala desa baru. Zulkipli sudah memimpin Tulanjana selama 24 tahun tanpa pemilihan, kecuali pemilihan pertama.
Yang mau maju calon adalah tiga nama yakni Adam, Madrokala dan Samungel. Namun Madrokala akhirnya mundur. Sedangkan pamor Adam masih anak muda, kalah jauh dari sosok Samungel. Muncul desas desus ada calon baru, yaitu Imara.
Pendukung Samungel sangat banyak, dan pada sehari menjelang pemilihan yang disebut oleh masyarakat sebagai kodrah, nama Samungel tidak turun dari Kabupaten. Pendukungnya sore itu banyak yang menangis. mereka kasihan pada Samungel, namanya digugurkan dari pencalonan. Desas desus mengarah pada siapa yang telah dengan licik menjatuhkan Samungel. Suara Samungel akhirnya terpecah ada yang golput ada juga yang beralih ke Adam. Maka pertarungan kodrah dimenangkan Adam karena dapat limpahan suara dari pendukung Samungel.
Tulanjan punya pengalaman banyak soal kodrah. Sejak masih jaman Belanda desa itu sudah menjalankan kodrah. Menurut cerita tutur orang-orang tua, perjalanan politik di Tulanjana tak keluar dari tiga hal pokoknya : kekerabatan, yang pergi solat jumat dan yang tidak, dan terakhir jerbasuki mowo bea alias logistik.
Pada jaman Belanda Normal Tulanjana menyelenggarakan Kodrah satu kali di tahun 1920-an. Waktu itu kodrah pertama dimenangkan Kuwu Donggala. Kemudian disusul oleh siklus yang terus saling melukai diri, padahal mereka terikat dalam kekerabatan. Berasal dari DNA satu moyang pendiri desa.
Dulu bupati pilihan republik, Syatori mengerahkan kekuatan bersama rakyat menolak kehadiran kembali Belanda setelah merdeka. Salah satunya ialah menghalangi laju pergerakan militer Belanda dengan memerintahkan peledakan jembatan Kali Pemali.
Meski sudah dicegah dengan kekuatan rakyat, namun akhirnya Belanda berhasil masuk ke kabupaten. Saat itu, Belanda membentuk Regeering Commisioners Binnelands Bestuur (Recomba) dengan tujuan untuk memulihkan pemerintahan pribumi. Makanya pada jaman Agersi Belanda di Tulanjana ada dua Kuwu atau Kepala Desa. Yaitu Kuwu Republik dan Kuwu Rokomba. Kalau suatu desa tidak ada Kuwu Rokomba, Belanda akan membantai habis penduduknya seperti di Junti.
Sekecil-kecilnya kepemimpinan adalah penggembala jiwa rakyat yang dipimpinnya. Maka dari itu kepemimpinan adalah sesuatu yang sakral. Untuk itu ia adalah hal yang pantang diperebutkan, apalagi dengan jual beli dan bahkan harus mengorbankan nyawa manusia. Pada kesungguhannya kepemimpinan itu ditombol dari langit kekuasaan Ilahi. Tapi umat manusia membiay bid'ah agung, merayakan peminpin pilihan manusia.
Tulanjana begitu antusias dalam tradisi kodrah, memilih kuwu pimpinan kampung mereka. Seluruh kekuatan kekerabatan, uang, ilmu, relasi perdukunan dan segala trik dikeluarkan. Saling bertarung. Sebuah palagan politik ciptaan Belanda, yang tetap mentradisi sampai sekarang. Kalau tradisi Hujungan, saling pukul kaki memakai kayu rotan, sakitnya masih di badan. Tapi sakit dari kalah pemilihan terasa lebih nyeri ketimbang sakit raga.
Tulanjana jauh dari isi buku berjudul Yang Tersuci yang Memimpin. Tersuci dalam berarti sok suci. Tapi pemimpin harus sosok yang telah selesai dengan dirinya. Dia bukan ajang perebutan kelas sosial, bukan ajang mencari uang, bukan arena cari ketenaran juga bukan untuk menindas manusia. Memimpin pada utamanya membawa manusia ke depan Tuhannya secara layak. Mencegah munculnya angkara murka tumbuh di lapangan sosial masyarakat. Menumbuhkan potensi benih kebaikan manusia dalam negeri yang baik yang dirahmati ampunan Tuhan.
Sejak nabinya wafat umat ini saliwang dari arahan Tuhan dan nabinya. Mereka mengambil jalan lain yang bukan jalan langit.
Mengambil jalan bumi yang ringkih, rapuh, getas bahkan membahayakan jiwanya.
Jaman Normal. Enak jamanku toh ? Kini dibujuk rayu Raskin. Sebuah perhelatan politik nusantara yang panjang. Dimana waktu-waktu seorang nabi digergaji atau dipenggal kepalanya Nabi Yahya, dan para imam dibunuh tersisa seorang, - telah berlalu dalam kurun terbit dan terbenamnya matahari jaman. Untuk para hamba soleh kelak mereka yang pewaris bumi.
Sekeping kerak bumi bernama Tulanjana entah lah penghuninya akan bagaimana. Karuhun pendiri Lembur pupus di perjalanan pulang dari Tanah Suci. Di Rabigh tempatnya. Diantara jutaan galaksi berserak di cakrawala. Senyampang genetika manusia masih akan turun temurun. Berkelindan dalam titipan duriat kekerabatan. Dimana orang tua masih dirajakan. Pupuhun masih diratukan.
Berjalanlah seperti mengalirnya air Sungai Kabuyutan. Meski mengaliri wilayah Jawa ia tetap memakai nama Sunda. Ia tahu diri. Makanya ia tak pernah menyalahi Tuannya. Meskipun eksistensinya terungkap hanya sebatas air. Dewa Ruci. Bukan dewan paruci, seperti DPR-RI sekarang ini. **
Bagikan artikel ini



