Lelaki dari Ujung Timur

Cerpen : Pace Munib
Semua manusia akan mencicipi kematian. Banyak kiai kampung menerjemahkannya sebagai kematian jasad. Sedangkan jiwa tetap mengelana ke alam berikut yang disebut Barzah Agung. Kebangkitan. Mahsyar. Pengadilan.
Lelaki yang datang dari ujung timur sudah tak mendapati jasad ibunya. Perjalanannya dengan pesawat dan karena banjir Jakarta membuatnya baru tiba di kampung subuh. Jasad ibunya sudah dikebumikan kemarin siang. Memang ibunya juga sudah berwasiat bahwa kakak tertua tak usah ditunggu sehingga berpesan agar jasadnya segera dikebumikan.
Itulah yang membuatnya hanya menemukan nisan dan tanah kuburan yang masih basah dengan taburan kembang yang masih segar. Jasadnya terbaring di dalam tanah kompleks pemakaman keluarga. Di pinggirnya terhampar sawah dan petak-petak pematang.
Kini dua perempuan penting dalam hidupnya itu telah tiada. Pertama Nenek dari bapak yang membesarkannya. Ayahnya telah tiada saat Lelaki dari Timur itu masih usia dua tahun. Ibunya membawa adik perempuannya ke kampungnya. Dia hidup bersama nenek sampai remaja.
Ia teringat kata-kata Kiainya dulu. Bahwa Alam Barzakh adalah realitas batin yang menjelma. Katanya, dalam tradisi hikmah Islam, khususnya dalam penjelasan para ulama ahli hikmat dan ulama ahli makrifat, alam Barzakh dipahami sebagai sebuah realitas eksistensial yang berada di antara dunia materi dan akhirat sempurna. Jadi para jiwa leluhur kumpul dalam dimensi itu.
Alam ini bukan sekadar ruang kosong setelah kematian, melainkan dimensi kehidupan jiwa yang nyata, tempat seluruh hakikat batin manusia tersingkap dalam bentuk-bentuk yang sesuai dengan realitas ruhaniahnya.`
Secara prinsip, pengalaman mimpi memiliki kemiripan dengan mekanisme alam Barzakh, meskipun keduanya tidak identik sepenuhnya. Ketika manusia bermimpi, ia dapat melihat bentuk, mendengar suara, merasakan ketakutan, kebahagiaan, bahkan mengalami perjalanan tertentu tanpa keterlibatan materi fisik.
Tubuh tetap berada di tempat tidur, tetapi jiwa menyaksikan pengalaman melalui bentuk-bentuk nonmateri. Dari sini hukama dan urafa menjelaskan bahwa mimpi merupakan contoh kecil dari cara kerja alam mitsāl atau imaginal world.
Namun, perbedaan mendasarnya ialah bahwa mimpi bersifat subjektif dan sering bercampur dengan imajinasi psikologis manusia, sedangkan Barzakh adalah realitas objektif kehidupan jiwa setelah terlepas dari tubuh material. Alam Barzakh bukan ilusi pikiran, melainkan dunia nyata dengan hukum eksistensinya sendiri.
Karena itu, apa yang dialami manusia di alam kubur bukan sekadar simbol kosong, tetapi manifestasi nyata dari hakikat batinnya sendiri.
Alam Barzakh disebut sebagai alam mitsāl, yaitu alam yang memiliki bentuk (shūrah) tetapi tanpa materi fisik (maddah). Di sana terdapat rupa, suara, cahaya, kegelapan, kenikmatan, dan azab. Namun semuanya tidak tersusun dari unsur material sebagaimana dunia fisik.
Bentuk-bentuk di Barzakh merupakan penjelmaan makna ruhani. Amal, akhlak, niat, cinta, kebencian, iman, dan dosa akan tampil dalam bentuk yang sesuai dengan hakikatnya.
Karena itu, hadis-hadis Ahlulbait menjelaskan bahwa amal manusia akan menjelma menjadi bentuk nyata. Amal saleh dapat tampil sebagai taman indah, cahaya yang menenangkan, wajah rupawan, atau sahabat yang menemani jiwa. Sebaliknya, dosa dan maksiat dapat menjelma sebagai api, ular, bau busuk, kesempitan, dan kegelapan. Demikian pula wilāyah dan kecintaan kepada Allah serta hujjah-Nya menjadi cahaya perlindungan bagi jiwa di alam Barzakh.
Realitas ini menunjukkan bahwa alam kubur bukan sekadar tempat menunggu hari kiamat, tetapi medan penyingkapan hakikat manusia. Di dunia, manusia masih dapat menyembunyikan batinnya di balik penampilan lahiriah terungkap.
Seseorang mungkin tampak lembut dan ramah di hadapan manusia, namun menyimpan hasad, kesombongan, atau kebencian dalam jiwanya. Selama berada di dunia materi, tubuh dan sosialitas menutupi hakikat tersebut. Akan tetapi, ketika memasuki Barzakh, yang tampak bukan lagi kulit lahiriah, melainkan realitas batin itu sendiri.
Di sana, hasad memiliki bentuknya sendiri, kesombongan memiliki wajahnya sendiri, dan cinta kepada Allah pun memiliki cahayanya sendiri. Alam Barzakh menyingkap manusia sebagaimana hakikat dirinya yang terdalam.
Karena itu para arif mengatakan bahwa manusia sebenarnya sedang membangun surga atau nerakanya sendiri melalui amal dan kondisi batinnya selama hidup di dunia.
Dengan demikian, Barzakh adalah alam berbentuk tanpa materi, alam tempat makna-makna ruhani menjelma menjadi realitas objektif. Tidak semua bentuk dunia hadir di sana, melainkan hanya apa yang memiliki dimensi malakuti. Amal, akhlak, iman, dosa, mahabbah, kebencian, dan hubungan batin jiwa. Alam ini menjadi cermin hakikat manusia sebelum memasuki kehidupan akhirat yang lebih sempurna dan abadi.
Lelaki itu merenung sangat lama, sambil memungut daun-daun diatas makam yang terbawa angin.
Tujuh hari ia selalu pergi ke makam ibunya. Keesokan harinya ia harus kembali kerja. Lelaki dari Timur menghampaskan tubuhnya di sandaran kursi ruang tunggu bandara Soekarno Hatta. Meskapai yang akan dia naiki rencananya transit di bandara Hasanudin Makassar. Ruang angkasa negeri yang dulu dilihatnya sambil main layang-layang di kampung bapak waktu masa kanak-kanak. Akan dilalui pesawat yang dinaikinya.
Tak seberapa lama nomor penerbangan yang ada ditiketnya disebut melalui pengeras suara petugas bandara. Tandanya pesawat sudah segera boarding. Dan mesin boeing mulai menderu mengepakkan sayap mengarungi langit malam nusantara.
Meninggalkan suatu, ruang waktu dan jejak masa lalu. Melanjutkan kehidupan yang harus tetap berjalan. Rela dengan takaran-takaran langit, nasib yang telah ditetapkan padanya.
Pesawat telah mendarat di kota tujuan. Pusat segala gagasan berasal dari situ. Sebagaimana halnya setiap kota selalu memikat dengan warna lampu dan impian anak manusia.
Sebagaimana burung yang memiliki sanktuari. Dunia ini selalu menyisakan tempat singgah, sekedar bersandar atau meletakan badan. Disela waktu yang makin mirip mesin pabrik.
Kadang teman seperjalanan dalam satu kapal, seperti turun di pelabuhan lain dan kita melanjutkan perjalanan. Bukan mau lebay. Hanya setiap orang pasti terkadang menarik waktu merentangkan ke belakang. Ada kenangan. Ada kepahitan. Foto keluarga. Dan kegetiran. Menelan ludah. Meraba dada. Dan tiba-tiba suara azan Maghrib membuyarkan renungan, mengajak untuk segera mengambil air sembahyang.
Bagikan artikel ini



