Rumah
Cerpen : Pace Munib

Cerpen : Pace Munib
Rumah kita dulu yang saya ingat berpola Pacul Goang. Bilik atau dindingnya anyaman bambu. Sama dengan pola rumah masyarakat desa yang lainnya. Rumah orang tua dulu lebih luas dari rumah model sekarang yang tembok dan minimalis.
Mungkin kalau pakai bahasa sekarang bisa dikatakan rumah dulu itu Rumah Ketahanan Pangan. Bagaimana tidak, satu ruang dari rumah itu pasti ada ruangan yang khusus tempat gabah padi. Namanya kamar Leuit. Rumah kita dulu tidak punya plafon seperti rumah jaman sekarang. Hanya kayu atau bambu yang dipasang berjejer untuk menaruh geugeusan (ikatan) padi atau jagung. Jadilah plafon rumah itu berupa gabah ikat atau jagung ikatan.

Belum lagi kalau harus ngagebug (mukul padi pakai pelepah kelapa) atau ngirik (memisahkan gabah dari tangkainya pakai kaki), itu semua dilakukan dalam rumah. Juga kalau mocel jagung. Memisahkan biji jagung dari bagalnya, juga dilakukan di rumah sampai larut malam diselingi celoteh juru dongeng. Dulu belum ada istilah Ketahanan Pangan seperti sekarang, tapi seluruh rumah berkisah tentang pangan dan kegiatannya di rumah.
Ada juga Suharto anjurkan Swasembada Pangan. Tapi terlalu kuat di slogan saja. Pondasinya lemah. Pak Kuwu, sebutan kepala desa di kampung saya, biasa ikut-ikut pakai kata Swasembada Pangan kalau berpidato sambutan di acara desa entah itu Muludan atau Rajaban. Walaupun dia sendiri kurang mengerti swasembada itu apa.
Rumah juga harus besar karena kalau hajatan saudara-saudara dari jauh pada datang semua. Dulu belum ada istilah Dapur Gizi, Makanan Bergizi Gratis (MBG) atau istilah Badan Gizi Nasional (BGN) , tapi seluruh jenis kuliner desa akan muncul semua pada saat hajatan. Makanya acara hajatan Sunatan, Kawinan, Muludan atau Rajaban betul-begul moment perbaikan gizi anak-anak desa.
Apalagi seperti Mamang (bapak) saya yang suka pelihara kambing, di belakang rumah dijejerkan juga kandang kambing, Makin besarlah rumah kita. Lebih luas lagi rumah kakek, karena disebelahnya ada kandang kerbau.
Juga halaman pasti harus luas untuk menjemur gabah padi agar jadi kering guling. Dibagian pinggirnya halaman leba, ditanam buah-buahan seperti jambu, nangka, pisang, mangga, juwet, kelapa. Ada pula tanaman sayur yang merambat di galah bambu seperti oyong, peluang dan labu.

Mamang bikin rumah tengah pakai Leter "O", Di bagian tengahnya lobang dan kita bisa melihat langit. Kalau hujan turun saya dan adik-adik main hujanan di tengah rumah. Bahkan saya sendiri kalau malam bulan Purnama bawa tikar dan bantal tidur di Ruang Los itu dibawah cahaya bulan. Di ruang depan dan ruang tengah penuh 'ketahanan pangan. Bahkan dibawah kolong ranjang kayu tempat tidur kita sekalipun penuh segala jenis umbi-umbian.
#
Meski saya sudah merantau jauh di seberang pulau, hampir setiap ada kegiatan di Jawa saya singgah di desa. Sehingga ada rumah rantau dan ada rumah kampung asal. Tapi cerita di perantuan pun soal ketahanan pangan orang dulu-dulu boleh dibilang sama saja. Pandangan orang-orang adat tentang ketahanan pangan tidak jauh beda. Di ruang dapur mereka dulu penuh dengan berbagai macam jenis Ubi dan ikan asap.
Sedikit beda di masyarakat adat lebih menampung banyak keluarga dalam satu rumah. Bahkan di pegunungan komunitas keluarga lebih banyak lagi anggotanya. Sehingga jika mereka membuka lahan untuk berkebun areal luas pun cepat sekali diselesaikan karena banyaknya anggota keluarga.
Apalagi di daerah yang masih melimpah kekayaan alamnya. Saya pernah diajak kawan di Merauke menangkap ikan di rawa pakai panah. Ikan gabus dan mujair besar-besar di alam liar seperti tak ada habis-habisnya. Karena itu lah bagi masyarakat adat tak ada pembicaraan soal makanan. Makanan yang ada di rumah adat bisa untuk siapa saja yang mau makan. Mungkin ide makanan siang gratis Pak Presiden ini dipengaruhi oleh nilai masyarakat adat di Timur karena ibunya Pak Presiden kan orang Timur.
#
Saya sering membayangkan Indonesia sebagai rumah. Kata 'bangsa' sering membuat saya terngiang, sebagai harga diri kelompok atau komunitas kebangsaan diantara bangsa-bangsa lain di dunia.
Rumah Indonesia ini yang acapkali memenuhi penghayatan saya di hari tua. Walau mengambil peran ala kadarnya Kurang tertarik untuk ikut berebutan panggung agar bisa disebut dalam rumah Indonesia. Sudah terlalu banyak orang pintar. Panggung Indonesia yang dipadati politisi, polisi, jendral, artis, pejabat, tokoh agama, hafalan nama pahlawan dan algoritma para tokoh-tokoh. Saya hanya seorang kampung biasa, yang merasa ikut punya rumah Indonesia ini. Dan saya tak pernah membiarkan rasa ini pergi.
#
Bumi dan jagat raya, juga rumah saya. Langit dan bumi asalnya satu, sampai keduanya terpisahkan. Semesta juga rumah saya. Tak ada tempat berlari. Semuanya rumah. Bahkan jika hakikat itu satu, - yaitu Sang Eksistensi, maka itulah rumah sesungguhnya. Disana saya ada menjadi yang terbilang atau terhilang, tampak samar karena penilaian mutlak bukan di sisi saya atau manusia seperti saya.
Langit dilipat. Dilempit. Digenggam dalam kepalan tangan-Nya. Tak ada lagi bintang berkedip seperti sebelumnya baik sebagai nyata atau umpama, sekalipun. Kerajaan pada hari itu yanga milik-Nya secara langsung, atau tak langsung.
Sehingga pada rumah akhirat, katanya kita tidak lagi memperhatikan ketahanan pangan. Hanya saja makanan yang dihidangkan berbeda. Orang yang jiwanya tertutup sampul mendustakan tanda-tanda-Nya, dia akan berakhir pada nestapa abadi dengan makanan nanah, tir Qatiran atau daun Jakum. Tidak membuat kenyang atau haus jadi hilang.
Sedang makanan untuk orang beriman banyak sekali pariasinya : ada madu, susu, dan semua kuliner enak-enak. Minumannya saja masih disegel. Sodanya dari Tasnim. Segelnya saja dari misik. Disajikan pelayan muda-mudi.
Bertemu dengan pemilik rumah Eksistensi.
Sebab seseorang telah menggunakan pendengaran dan akal dengan baik, sehingga tidak terjadi penyesalan seperti Sahabat Sa'ir. Di rumah akhir mereka mengakui dosa-dosa akibat pemikiran salah dan tidak menghiraukan pemberi peringatan.
Seluruh obsesi saya tentang rumah adalah sebuah rumah dalam imajinasi saya dimana disana ada pertemuan dengan Rindu, Cinta dan Kekasih. Terngiang ayat suci dilantunkan dispeker mesjid menjelang maghrib Ramadhan Baru. Innamâ waliyyukumullâhu wa rasûluhû walladzîna âmanulladzîna yuqîmûnash-shalâta wa yu'tûnaz-zakâta wa hum râki‘ûn.
###
Bagikan artikel ini



