NABIRE - Akibat ombak yang membuat air laut masuk dan menggenangi pemukiman lama masyarakat Kampung Makimi pada tanggal 18 Januari 2014 lalu, sejumlah tanaman jangka panjang milik masyarakat Kampung Makimi seperti pisang, pinang, rambutan, durian, matoa, mangga, kelapa, rambutan, nangka, kendondong dan sejumlah tanaman lainnya mengalami musim gugur dan kering. Sejumlah masyarakat Kampung  Makimi yang ditemui media ini akhir pekan lalu menuturkan, pemerintah Kabupaten Nabire melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan harus turun melihat langsung sejumlah tanaman masyarakat yang kering itu. Karena hal ini bukan disengaja, tetapi musibah alam yang tidak bisa dibantah oleh siapapun.Namun yang diperlukan saat ini adalah bagaimana pemerintah lewat Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Nabire sudah mengambil sikap untuk turun langsung ke Kampung Makimi agar bisa mencari solusi. Masyarakat mengharapkan dinas melakukan pengadaan bibit dan masyarakat yang tanam sebagai tanaman jangka panjang lanjutan dan pengganti tanaman yang kini sudah kering.“Tanaman jangka panjang masyarakat yang sudah kering dan mati akibat air laut masuk kampung, hanya bisa dilakukan dengan penanaman kembali. Namun yang menjadi kendala soal bibit, sehingga perlu ada perhatian dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Nabire,” kata Laurens Yoweni dan Anthonius Yoweni kepada Papuapos Nabire, Jumat (21/2) di Kampung Makimi.Dikatakannya, saat ini masyarakat Kampung Makimi tidak bisa berbuat banyak terhadap tanaman yang sudah kering. Tanaman yang sudah kering itu telah berbuah dan menghasilkan buah yang selama ini dijual oleh masyarakat sebagai tambahan pendapatan yang ikut menopang ekonomi keluarga, namun kini semuanya sudah kering.Masyarakat kini hanya bisa mengharapkan bantuan dan perhatian serius dari pemerintah Kabupaten Nabire lewat Dinas Pertanian dan Perkebunan. Agar tanaman yang kering bisa ada penggantinya dan kedepannya masyarakat memiliki tanaman yang sama untuk anak cucu di masa mendatang.(des)