PTS, Mapala, KPA, YMHP dan DLH Kolaborasi Tanam 90 Bibit Pohon

NABIRE - Papua Trada Sampah (PTS) dan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) serta Komunitas Pecinta Alam (KPA) Explore Jambi, dan Yayasan Mutiara Hitam Papua (YMHP) serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nabire dan DLH Provinsi Papua Tengah berkolaborasi untuk melakukan penanaman 90 bibit pohon, dengan mengambil tema Lawan Deforestasi dan Tanam Harapan.
Dikatakan Koordinator Komunitas Papua Trada Sampah (PTS) Nabire, Jerry O. Simonapendi, kepada media ini, Selasa (19/8/2025), tema dari pada kegiatan ini, yakni lawan deforestasi dan tanam harapan. Pada giat ini juga PTS berkolaborasi dengan Mapala KPA explore dari Jambi.
Penanaman yang berlangsung pada hari ini bertempat di Jalan Padat Karya Sanoba, Gedung Julian Yap Marey, Kantor Yayasan Mutiara Hitam Papua, katanya.
Ia juga berharap agar ke depannya bisa berkolaborasi dan kegiatan tanam pohon berlanjut, agar anak-anak muda Papua untuk serta dalam kegiatan penanaman selanjutnya.
Ada 3 jenis bibit diantaranya, 50 Bibit Pucuk Merah, 17 Bibit Trambesi dan 23 Bibit Matoa, jumlah penanaman tersebut totalnya ada 90," ucapnya.
Sementara itu, DLH Nabire mendukung seluruh rangkaian yang dibuat oleh PTS serta komunitas lainnya. Ke depan juga PTS akan melakukan penanaman dan edukasi ke sekolah-sekolah.
Di sisi lain, Direktur Yayasan Mutiara Hitam, Mr. Freed Kees Charles Bunda menuturkan, pada dasarnya dari Yayasan Mutiara Hitam Papua dan menjalankan program Black Belt English Academy di wilayah Kali Mangga ini, sangat menerima sekali program penanaman pohon di areal ini.
Karena semenjak areal ini dibuka sudah ada cukup banyak pohon yang kami tebang dan harus dibuka dan ini merupakan langkah yang baik untuk kami menanam kembali, menanam kembali setelah kami melakukan beberapa pembangunan," ucapnya.

Ia juga berkomitmen untuk menanam kembali pohon sebagai langkah kami juga, karena dari yayasan juga sangat mendukung untuk program tersebut.
Penanaman pohon dimana ini sebagai langkah untuk bisa mengatasi isu-isu lingkungan yang saat ini mungkin sebagai masyarakat tidak menyadari, tapi di dalam kehidupan sekarang kerusakan lingkungan sudah menjadi ancaman dan kalau tidak mengambil langkah untuk mengatasi itu maka ke depan akan berdampak pada tatanan kehidupan dan tatanan kehidupan masyarakat.
Mr. Freed Kees Charles Bunda menambahkan, ke depannya juga di wilayah ini setelah selesai pembangunan secara 100%, akan terus mengembangkan program hijau di wilayah, kantor dan tempat khusus ini, sehingga ke depannya ia menginginkan menciptakan suasana alami di sini.
Jadi pembangunan itu tidak menghancurkan lingkungan, tapi kami ingin mengembalikan tatanan lingkungan itu, alami itu di dalam pembangunan ini, ucapnya.
Ia ingin mengedukasi setiap anak-anak yang belajar di sini tentang pentingnya menjaga lingkungan, sehingga dirinya sangat merespon positif dan sangat mendukung sekali apa yang dilakukan oleh PTS dan Mapala.
Ia juga berharap ke depannya akan terus berkembang untuk menjangkau daerah-daerah lain yang masih membutuhkan penanaman pohon untuk bisa mengedukasi semua masyarakat tentang pentingnya pohon di dalam kehidupan kita manusia.

Terima kasih juga kepada DLH Kabupaten Nabire dan Provinsi Papua Tengah, karena telah membantu kegiatan ini," ucapnya.
Komunitas Pecinta Alam (KPA), Bintang, Eksplor Jambi, yang menjalankan misi seribu pohon untuk nusantara, yakni menanam pohon di 38 provinsi dari Sabang sampai Merauke. Dimana Nabire, Papua Tengah adalah provinsi yang ke25 untuk menanam.
Kali ini penanaman bersama teman-teman dari PTS, teman teman dari Uswim. Ada teman-teman jelajah Biak juga, terus ada banyak relawan-relawan yang ikut pada hari ini. Dan untuk bibit yang ditanam ada 3 jenis, yakni bibit matoa, bibit trembesi ada juga pucuk merah," ucapnya.
Ia berharap untuk ke depan kegiatan ini bisa terus berjalan sesuai dengan motto 1000 Pohon Tunas Nusantara, ia mengajak untuk mari hijaukan kembali untuk masa depan bumi.
Bintang ingin menyampaikan sesuatu dari teman-teman dari barat untuk teman-teman di timur, yakni agar membangun kembali reruntuhan, menanam kembali deforestasi dan menggenggam harapan dengan lebih kuat.(edi/saul)
Bagikan artikel ini



