Persoalan Krusial Pendidikan Kita
Oleh : Alen Sokoy

Oleh : Alen Sokoy
Dua hal mendasar yang perlu difokus oleh manusia. Satu, seorang manusia harus dapat mengenal dirinya agar dia dapat mengenal Tuhan nya . Dua, seorang manusia harus dapat mengembangkan akal rasionalnya, melalui pendidikan atau pelatihan agar dapat hidup mandiri tidak bergantung kepada orang lain.
Dan ada tiga hal pokok lain yang membuat pendidikan kita nyaris tak bermakna. Pertama ketika berani memakai kata didik (tarbiah) subjek garapan seharusnya membangun karakter. Indikator keberhasilannya diukur dari menipis atau habisnya mental koruptor di bumi Indonesia. Bukan sebaliknya negeriku jadi sarang pencuri.
Kedua pendidikan kita tidak dikawal oleh taksonomi bloom yang berdisiplin. Hanya berputar-putar di level satu. Ketiga masalah pendidikan kita yang mendasar adalah dunia pendidikan yang terkonspirasi. Sehingga tidak punya kerangka dasar dan tiap saat gonta ganti kurikulum.
Kenapa orang harus mengenal dirinya untuk dapat mengenal Tuhannya ?Jawabannya adalah seseorang harus membuat beberapa pertanyaan dasar : mau kemanakah dia tujuannya? Bagaimana caranya sampai ke tujuan itu? Dengan alat atau sarana apa dia sampe di tujuan itu ? Apa dan siapa yang akan menunjukan jalan kepada tujuan itu?
Dengan pertanyaan - pertanyaan di atas seorang manusia akan mencari gambaran atau konsepsi agar dirinya dapat berkesudahan pada kebahagiaan abadi di sisi Tuhannya. Dan kalau tidak mendapatkan jawaban-jawaban dari pertanyaan di atas dia akan terancam akan berkesudahan dalam kenestapaan abadi. Inilah jalur yang biasa disebut jalan keagamaan.
Sedangkan jalan rasionalitas akan membawa seorang manusia menapaki jalur peradaban ilmu pengetahuan sebagai alat baginya untuk dapat hidup survive. Alat berupa ilmu pengetahuan ini harus berada di tangan manusia yang sudah mengenal dirinya. Jika alat pengetahuan sudah didapatnya sedangkan seseorang masih belum mengenal dirinya, maka yang akan terjadi adalah seperti peradaban Barat.
Ilmu pengetahuan dan teknologinya maju namun mereka menjadi penjajah. Mereka menghegemoni dan mengambil paksa tanah bangsa-bangsa lain dalam lima abad terakhir ini. Dengan ilmu pengetahuan seseorang akan mendapat kelayakan di dunia diantara manusia manusia lainnya.
Walhasil, agama seseorang dapat dikatakan berfungsi untuk mempersiapkan orang itu menjadi pemegang alat berupa ilmu pengetahuan. Sedangkan ilmu pengetahuan itu sendiri bertugas untuk dapat menjadikan seseorang itu berdaya, dapat menolong diri nya sendiri. Dan dapat menjadi saluran berkat bagi sesamanya.
Dalam menapaki perjalanan agama atau spiritualnya seseorang tidak bisa menelan begitu saja kata-kata dari orang lain, sekalipun mereka yang mengklaim adalah tokoh agama. Melainkan seseorang harus dapat mempelajari sendiri, memahami, merenungkan dan menghayati makna dan nilai atau saripati dari pesan-pesan yang di bawa oleh para nabi.
Dan berikutnya adalah seseorang harus dapat mengamalkan atau mengaplikasikan nya di dalam kehidupan bermasyarakat baik itu dalam bidang politik, ekonomi keluarga maupun moral budi pekerti. Karena pesan keagamaan maupun jalan pengetahuan keduanya sama sama membutuhkan aksi, tidak dapat hanya ada sebatas pengetahuan yang berputar-putar sebaga isi kepala.
Fenomena yang ada di tengah masyarakat yang penulis amati kebanyakan manusia mendapatkan pesan keagamaan melalui pola indoktrinasi. Pola ini menuntut manusia untuk langsung menelannya mentah-mentah tanpa adanya proses pemahaman dan penghayatan terlebih dahulu.
Dalam pandangan pedagogi pada ilmu pendidikan yang menggunakan taksonomi bloom, seorang anak didik harus melampaui 6 level yang ada.
1. Transfer knowledge, ajar atau taklim
2. Paham atau understanding
3. Terapan atau aplikasi
4. Analisa
5. Evaluasi
6. Created yakni menemukan hal baru dalam konteks menjawab persoalan kekinian. Sementara fenomena pendidikan di negara kita baru sampai pada level 1 saja, yakni transfer knowledge atau ajar. Delapan puluh tahun bangsa ini merdeka hanya berkutat jalan disitu-situ saja, kalau ada dari anak bangsa ini jadi penemu malah diabaikan tak dihargai.
Sedangkan apa yang biasa kita dengar sebagai pendidikan yang berasal dari kata didik dalam padanannya pada bahasa arab berupa kata tarbiyah, sesungguhnya untuk membangun karakter. Sedangkan kata ajar atau transfer knowledge yang padanannya kata taklim, pada prakteknya memindah pengetahuan yang ada di kepala guru ke dalam kepala murid.
Fenomena yang ada di indonesia adalah zero karakter building atau tiadanya pembentukan karakter. Pendidikan kita isinya murni hanya pengajaran saja, itupun level satu. Tiadanya pembangunan karaktet pada pendidikan kita berdampak pada tumbuhnya mental-mental koruptor.
Untuk lebih memahami secara mudah kita perlu menyederhanakan persoalan diatas bahwa karakter building tidak bisa terlepas dari agama dan falsafah Pancasila sebagai pandangan dunia bangsa indonesia. Hal ini untuk membangun karakter atau mempersiapkan jiwa manusia Indonesia sebagai pemegang alat (ilmu pengetahuan dan kekuasaan) yang layak.
Akses terhadap alat ilmu pengetahuan harus dibuka untuk seluruh lapisan rakyat indonesia. Jangan ada sekolah bayar atau test masuk sekolah. Siapapun anak bangsa mau mengakses ilmu pengetahuan harus dibulalan jalan. Dan tugas untuk membentuk karakter building menjadi tugas besar bangsa Indonesia, tidak sekedar tugas presiden, pemerintahan maupun mentri pendidikan semata.
Artikel ini memang hanya tulisan pendek namun subyek pesan yang hendak di sampaikan meliputi aspek paling pokok dalam kehidupan manusia. Untuk itu para pembaca boleh menanggapi atau bahkan menyempurnakan artikel tersebut. Kesalahan kita dalam understanding atau pemahaman terhadap makna hakikat pendidikan yang sebenarnya yaitu membangun karakter jiwa manusia telah menjerumuskan kita kepada realitas bangsa korup. Di hampir semua lini, baik di bawah maupun di atas dipenuhi oleh mental tukang olah atau koruptor, sedikit sekali orang bersih. Semoga tulisan ini bermanfaat.
Bagikan artikel ini



