Pers Kumbakarna, Matinya Industri dan Fenomena Pers Anak Kambing

Esai :Abdul Munib*
Ketika Sang Penyiar berita IRIB Sahar Emami menjadi berita saat kantornya dirudal zionis, epik keberanian di Medan Media menjadi pemandangan yang heroik dari dunia pers. Yang terjadi di Perang 12 Hari Iran-Israel lalu, pernah terjadi di Indonesia di lima tahun perang kemerdekaan 1945-1950. Bahkan di dalam periode perang yang dinamakan juga Perang Revolusi itu PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) lahir 9 Februari 1946 di Solo. Artinya wartawan Indonesia saat itu ikut dalam perjuangan heroik. Ikut terlibat mempertahankan kemerdekaan bangsa yang baru lahir juga.
Serakan dokumen eksemplar media Medan Prijaji yang dinahkodai Tirto Adi Soeryo tahun 1907 samlai 1911, adalah manuskrip yang menyimpan gagasan Kebangsaan Indonesia dikandung di dalam rahimnya. Juga di media lainnya pada saat masa kebangkitan itu. Pers Nasional bagi Bangsa Indonesia memiliki sejarah khusus sebagai inkubator yang mengandung gagasan kebangsaan Indonesia. Diikuti oleh media-media yang waktu itu diterbitkan oleh para tokoh kebangkitan nasional.
Kondisi pers digunakan sebagai rahim yang mengandung embrio kebangsaan Indonesia berlangsung hampir lima dekade. Terbukti ketika jumlah anggota BPUPKI pada saat menjelang kemerdekaan Indonesia, jumlah mayoritas anggotanya terdiri dari para pemilik media. Gagasan kemerdekaan bangsa Indonesia larut dalam bahasa yang digunakan media waktu itu bahasa Melayu, yang kemudian pada 1928 ditetapkan sebagai bahasa persatuan. Bahasa melayu disosialisasikan juga oleh media.
Di tengah kobaran api konflik dan ledakan propaganda, terkadang panggung sejarah tidak hanya ditempati oleh prajurit bersenjata, melainkan oleh mereka yang bersenjatakan kata. Tak mungkin kemerdekaan Indonesia diketahui internasional kalau saat itu tak ada pena wartawan. Sedangkan pengakuan internasional adalah satu syarat syahnya sebuah negara selain, wilayah, rakyat dan pemerintahan. Pers kita ikut melawan penjajah kolonialis. Berjuang gagah seperti Kumbakarna membela bangsa dan negaranya.
Itu terjadi pula di bangsa Persia ketika diserang zionis kemarin. Terciptalah sebuah momen langka, saat perempuan pembawa berita justru tadi menjadi berita utama karena mental juangnya. Sebuah epik terukir di ruang siar Republik Islam Iran, ketika seorang wanita bernama Sahar Emami tampil bukan sekadar sebagai jurnalis, tetapi sebagai pejuang peradaban. Masih hebat kan profesi wartawan.
Senin malam, 16 Juni 2025, gedung kaca milik Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) menjadi target serangan rezim Zionis yang sedang berada di ujung degenerasi moral dan strategisnya. Rezim paling banyak bubuh wartawan adalah rezim zionis. Karena mereka takut akan terbongkar topeng kejahatannya.
Namun, yang mereka temui bukanlah kehancuran, melainkan kobaran semangat juang dari seorang penyiar bernama Sahar Emami itu. Sang singa betina media yang tidak mundur satu langkah pun dari garis depan kebenaran yang ia perjuangkan.
Alih-alih diam membisu di bawah dentuman rudal, Emami justru tampil lebih lantang dari sebelumnya. Dalam siaran langsung, ia berdiri tegar, memaparkan wajah asli rezim apartheid Zionis kepada dunia. Tidak lama setelah serangan pertama mengguncang studio, Emami kembali ke layar kaca dan berkata dengan suara penuh keyakinan:
"Kami akan terus bekerja. Yang diserang bukan hanya berita, tetapi juga kebebasan berekspresi dan kebenaran itu sendiri," katanya. Masih hebat kan profesi wartawan.
Serangan kedua pun tak membuatnya gentar. Ia kembali hadir, membawa takbir dan keberanian sebagai tameng. Ia, bersama para jurnalis IRIB, bukan hanya melaporkan berita, mereka menuliskannya dengan darah keberanian. Dari laporan Fars News, Emami mengatakan, "Musuh Zionis kembali salah kalkulasi. Mereka pikir kami akan gentar, padahal tekad kami justru berlipat ganda. Kami akan terus menyampaikan kebenaran, apa pun risikonya."
Peyman Jabali, Kepala IRIB, dalam pernyataan resmi menegaskan bahwa serangan ini bukan sekadar agresi fisik, melainkan bentuk ketakutan rezim Zionis terhadap kekuatan narasi. Ia menyampaikan kepada rakyat Iran. Kekuatan narasi harus berpijak kokoh pada nilai kebenaran dan kebangsaan.
"IRIB menjadi sasaran tepat dari kedalaman strategi media musuh. Namun anak-anak terhormat bangsa itu menyatakan dengan lantang: tidak ada yang patah dalam tekad kami untuk menggempur front kebatilan melalui media."
Media telah menjadi medan perang, dan para jurnalis, seperti Sahar Emami adalah para pejuangnya. Yang membuat rezim Zionis gusar bukan hanya peluru, tetapi gambar. Bukan hanya misil, tetapi makna. Gambar-gambar yang mereka siarkan, detik demi detik runtuhnya lapis-lapis keamanan palsu Israel telah meruntuhkan mitos kekuatan yang selama ini dijajah dengan rapi dan arogansi.
Mereka marah bukan karena stasiun televisi, tetapi karena stasiun ini menyiarkan runtuhnya ketakutan. Karena layar kaca IRIB menunjukkan pada dunia bahwa “Israel tidak lagi memiliki daya gentar.” Dan karena mereka tak mampu melawan secara terbuka, mereka mengirimkan pukulan-pukulan liar untuk mengalihkan perhatian dari fakta tak terbantahkan. Sang raja ngibul kini telanjang.
Israel dan para patron imperialisnya, sedang mengalami keruntuhan spiritual, retak dari dalam. Serangan terhadap IRIB adalah pengakuan yang gamblang bahwa kata-kata lebih menggentarkan dari rudal. Dalam kebingungan mereka, mereka berusaha membungkam suara yang justru tak bisa dibungkam, karena suara itu kini telah menjadi gema perlawanan dari setiap jantung yang merindukan keadilan.
Dan kepada Ibu Sahar Emami, dunia kini mengenang Anda bukan hanya sebagai penyiar, tetapi sebagai pejuang. Anda tak hanya menyampaikan berita, Anda telah menjadi bagian dari berita itu sendiri.
Salam hormat dari garis depan media yang tak pernah tunduk.
Di Indonesia juga banyak tokoh wartawan yang menjadi pahlawan nasional. Karena jerih payah perjuangan dan pembelaannya kepada bangsanya. Paling banyak di era kebangkitan nasional dan perang kemerdekaan. Kesini kesininya tokoh pers kita makin kesana. Sibuk membuat imperium industri pers. Rasa kebangsaannya tak tampak dalam hasil karyanya. Hanya ala kadarnya. Tersimpan makin tipis dalam hati.
Definisi wartawan hebat adalah yang bisa membuat imperium induatri pers-nya hebat.
Namun tokoh wartawan yang dianggap sukses membangun imperium media, hampir semuanya mencurangi wartawan dan semacamnya. Ini soal saham buat wartawan yang diatur dalam Surat Izin Usaha Penerbitan Pers tahun 1984.
Peraturan pelaksanaan SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) mengharuskan perusahaan pers memberikan saham, minimum 20%, kepada semua karyawannya pada tahun 1984 dikeluarkan pemerintah. Itu berarti, lebih dari 12.000 karyawan pers Indonesia, pada tahun 1984 akan turut jadi "pemilik" perusahaan tempat dia bekerja.
Berarti selama 16 tahun (1984-2000) saham wartawan banyak digelapkan komisaris mayoritas. Wartawan yang ada pada saat itu sangat lemah untuk membela haknya. Kondisi berubah ketika Presiden Gus Dur membubarkan tukang buat SIUPP (Departemen Penerangan). Imperium pers yang besar pada saat era 1984-2000, seperti Kompas, Jawapos dan Tempo, harus jujur kepada wartawan mereka pada saat itu agar haknya 20 persen saham tidak dihilangkan. Karena itu kewajiban hukum yang tak bisa dihilangkan. Tapi rata-rata mereka akal-akalan menipu pemilik hak 20 itu. Imperiim media menipu wartawannya, ini fenomena umum saat itu.
Kini keadaan berubah drastis ketika pers di jaman digital seperti petani masuk musim kemarau, tanahnya kering tandus tak bisa menghasilkan panen. Boro-boro bayar karyawan, mau bayar tahunan hosting media online miliknya saja nyut-nyutan kepala pusing. Realitas di lapangan yang tumbuh adalah Fenomen Pers Anak Kambing. Untuk tetap dapat hidup menghirup udara kemerdekaan Indonesia PAK (Pers Anak Kambing) harus berhasil menemukan induk kambing yang bisa menyusuinya. Supaya sedikit karbohidrat, protein atau vitamin masih bisa didapat.
Esais adalah Penjab Harian Pagi Papuapos Nabire dan Papuapos TV
Bagikan artikel ini



