Pers dan Perang Lunak
Oleh : Abdul Munib

Oleh : Abdul Munib
Ancaman perang lunak adalahi tantangan utama yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Bahkan perang lunak jauh lebih berbahaya dibanding ancaman perang fisik karena bertujuan melemahkan ketahanan nasional melalui manipulasi opini publik dan propaganda yang menyesatkan.
Perang Lunak sebagai strategi musuh harus dilawan. Indonesia telah mencapai tingkat pertahanan yang tinggi terhadap ancaman fisik, sehingga musuh kini mengalihkan strateginya ke perang lunak.
Hari ini kita, teman-teman kita, dan bahkan musuh kita tahu bahwa Indonesia berada pada tingkat tinggi dalam menghadapi ancaman keras.
Oleh karena itu, serangan terhadap Indonesia saat ini lebih banyak dilakukan melalui cara non-militer, seperti penyebaran disinformasi, penciptaan perpecahan internal, dan upaya menanamkan keraguan terhadap nilai-nilai pemerintah.
Tujuan utama perang lunak adalah menciptakan ketidakstabilan dalam negeri dengan mengacaukan opini publik dan menanamkan keraguan di benak rakyat.
Musuh memahami bahwa untuk mengalahkan bangsa Indonesia, mereka harus menciptakan masalah dari dalam, melemahkan semangat rakyat, serta menanamkan keraguan terhadap prinsip-prinsip bangsa dan negara Pancasila.
Dampak dan bahaya Perang Lunak sangat signifikan. Ancaman perang lunak dapat lebih merusak dibanding ancaman fisik. Jika dalam perang fisik dampaknya dapat diatasi dengan strategi militer, maka dalam perang lunak, dampaknya lebih sulit dikendalikan karena menyasar kesadaran dan mentalitas masyarakat.
Ancaman lunak berarti membuat orang ragu dalam melawan musuh. Mereka berusaha menanamkan perpecahan dan kebingungan di antara rakyat. Tapi hingga saat ini upaya tersebut belum membuahkan hasil. Partisipasi besar masyarakat dalam mendukung NKRI menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia tetap kokoh dalam mempertahankan bangsa dan negara.
Setelah delapan puluh tahun sejak kemenangan Proklamasi rakyat tetap menyambut HUT RI dalam berbagai permainan rakyat.
Bagaimana strategi melawan Perang Lunak ?Melawan perang lunak memerlukan pendekatan yang berbeda dibanding melawan ancaman fisik. Berbagai pihak, termasuk media, akademisi, seniman, dan pemuda yang aktif di dunia maya, memiliki tanggung jawab untuk melawan propaganda musuh dengan menciptakan narasi yang benar serta membangun kesadaran masyarakat.
Kita harus memahami di mana musuh berusaha menekan dan memengaruhi opini publik. Kita harus menutup celah itu dengan konten yang benar dan membangun,” ujarnya.
Pentingnya pendidikan ideologis dan pemahaman terhadap nilai-nilai Revolusi Pancasila sebagai langkah utama dalam menghadapi perang lunak. Para pemuda harus memahami konsep-konsep bangsa dan negara Pancasila serta mengenal ajaran filsafat dan moral Pancasila agar tetap kokoh dalam mempertahankan identitas nasional Indonesia.
Falsafah dan moral Pancasila adalah teori dan praktek perjuangan memenangkan cahaya atas kegelapan, antara kebenaran dan kebatilan. Kita harus terus memperjuangkannya. Pancasila belum tegak benar di Indonesia kalau koruptor masih merajalela bersembunyi di lubang-lubang tikus. Pancasila belum mewujud jika keadilan sosial belum dibagi kepada seluruh rakyat Indonesia.
Kita harus menjaga Ketahanan Nasional melalui Kesadaran Kolektif. Kebijakan negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat dan jaringan Zionisme global, yang terus berupaya melemahkan Indonesia melalui perang lunak harus terus diwaspadai. Permusuhan terhadap Indonesia bukanlah karena sejarah kita yang melawan langsung Barat sejak penjajahan semata, melainkan karena Indonesia telah berhasil membebaskan diri dari belenggu penjajahan berupa hegemoni asing secara fisik.
Namun belum secara substantif. Diskursus masyarakat tentang Bangsa Pancasila harus terus diramaikan, sebagai pertahanan hakiki. Membangun kesadaran bersama bahwa persatuan kita berasal dari Satunya Tuhan.
Bahwa persatuan kita adalah persamaan kemanusiaan yang berasal dari saling memberdayakan, saling menjaga dan saling mengasihi (silih asah asuh asih) sedunia. Bahwa persatuan Indonesia adalah satunya bangsa Pancasila, satunyaTanah Air Indonesia, satunya sejarah, satunya nasib perundungan kolonisasi penjajahan dan satunya cita-cita atau tujuan bersama. Kesatuan dalam norma kepemimpinan yang berhikmat, mengedepankan pola musyawarah dan pola perwakilan. MBG (makan bergizi geratis) adalah salah satu manifestasi sila kelima.
Permusuhan terhadap bangsa Indonesia terjadi karena kita tidak mau tunduk pada tekanan mereka. Agar Indonesia bisa maju dan mandiri. Mereka terbiasa memaksakan kehendak mereka kepada bangsa lain.
Kekuatan global terbiasa mengontrol negara-negara lain, baik dalam aspek ekonomi, politik, maupun budaya, dan Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara yang mampu menolak dominasi tersebut.
Pesan kepada Generasi Muda supaya memahami kondisi diatas. Agar bangsa dan negara ini tidak lemah oleh perang lunak. Aksi koruptor yang masif juga mendorong melemahkan bangsa kita. Mereka harus dimiskinkan melalui UU Perampasan Aset Koruptor.
Perlawanan terhadap perang lunak bukan hanya tugas Pemerintah, melainkan juga tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, terutama pemuda yang menjadi sasaran utama propaganda musuh.
Tanggung jawab generasi muda hari ini adalah mempertahankan semangat perjuangan ini, memperkuat gerakan ini, serta terus maju dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh Revolusi Pancasila.
Perang lunak adalah ancaman utama yang harus dihadapi oleh Indonesia saat ini. Serangan berbasis informasi, propaganda, dan manipulasi psikologis telah menjadi strategi utama musuh dalam mencoba melemahkan Indonesia dari dalam.
Oleh karena itu, melawan perang lunak tidak hanya bergantung pada pertahanan negara secara militer, tetapi juga pada upaya kolektif dalam memperkuat kesadaran ideologis, membangun narasi yang benar, serta meningkatkan ketahanan nasional. Dengan kepemimpinan yang kuat dan partisipasi aktif rakyat, Indonesia harus terus berusaha mempertahankan identitas serta kedaulatannya di tengah tekanan global yang terus meningkat.
Pers Indonesia, sebagaimana sejarahnya, adalah inkubator atau rahim Bangsa Indonesia. Hal itu ditandai dengan 50 persen lebih anggota BPUPKI (Badan Usaha Penyelidikan Kemerdekaan Indonesia) adalah para pemilik media atau Pers. Hanya kesininya, terutama setelah Orde Baru yang westernalistik, Pers kita hanyut dalam perangkap bisnis ansih dan polanya yang empirisistik dan positifistik. Pola pers kita harus kembali ke Esai sebagai utama dan berita kejadian sebagai kronik. Dan tema kebangsaan yang diusung sebagai tema utama. Sebagai kacamata pandang dalam melihat segala sesuatu dalam ke-indonesian kita.
*Penulis adalah Penanggung-jawab Papuapos Nabire dan Papuapos TV
Bagikan artikel ini



