NABIRE – Para awak media di Nabire merasa perlu untuk membentuk wadah organisasi yang menaungi dan mengayomi kinerja jurnalis di daerah ini. Mereka lalu bersepakat untuk mengaktifkan kembali Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Kabupaten Nabire. Kepala RRI Nabire, Yopi Yacob Leleulya, mengatakan, perlu ada wadah guna menaungi para awak media di Nabire agar merasa aman dan nyaman bekerja. Hal ini dirasa perlu lantaran banyaknya wartawan di daerah ini, namun belum memiliki wadah untuk menampung mereka. “Perlu ada wadah sebab selama saya bertugas di Nabire belum dengar kalau ada perkumpulan wartawan,” kata Leleulya di Nabire, Selasa (3/3). Dalam menjalankan kerja jurnalis, kata Leleulya, tentu ada banyak tantangan yang akan dijumpai. Sebab akan ada yang bisa menerima untuk diwawancarai namun sebaliknya ada juga yang tidak bahkan menghindar dan sebagainya. Selain itu, media adalah mitra pemerintah dan masyarakat, maka sebagai mitra perlu dibentuk wadah. Lanjut dia, gagasan dari para jurnalis untuk membentuk wadah disambut baik. Hal ini dibuktikan dengan pertemuan pada Sabtu (29/2) pekan lalu. Karena lanjut dia, ada pengalaman di Nabire bila anak buahnya hendak mewawancarai salah satu pimpinan sebuah institusi, tetapi tidak diperlakukan dengan baik bahkan acuh. Padahal menurut pria asal Ambon ini, bila dijelaskan oleh yang bersangkutan kalau memang belum bisa diberitakan diwawancarai atau belum punya waktu, bisa diterima. Namun yang didapat adalah perlakuan tidak sewajarnya. “Jadi misalkan kalau ada narasumber yang memperlakukan wartawan tidak baik sebenarnya ini keliru, sebab wartawan ingin menyampaikan sesuatu itu jadi clear bahkan sangat membantu mereka,” tuturnya. Pimpinan redaksi Papuapos Nabire, Suroso, juga mendukung perlunya para jurnalis ini bernaung pada organisasi profesi jurnalistik. Ada sejumlah organisasi profesi jurnalistik yang diakui (legal, red) dan menasional. Akan bernaung pada organisasi jurnalistik yang mana, itu tentunya hak dari masing-masing wartawan.  “Seorang wartawan punya hak memilih organisasi profesi yang mana yang akan diikuti, tidak ada paksaan disini. Secara nasional sudah ada organisasi jurnalistik yang legal, kenapa tidak kita aktifkan organisasi yang sudah menasional itu untuk di wilayah Kabupaten Nabire,” katanya. “Nah, kita di sini akan persepakat seperti apa. Apakah akan menggunakan wadah yang sudah ada dan diakui secara nasional dan tinggal diaktifkan atau akan membentuk wadah hanya skala lokal,” ujar Suroso. Saat pertemuan di Kantor RRI yang diikuti 10 wartawan bersepakat akan mendaftar menjadi anggota PWI. Untuk selanjutnya akan menindaklanjuti hingga ke tingkat pusat untuk mengaktifkan organisasi profesi jurnalis di Kabupaten Nabire ini. (pas)