NABIRE - Masih dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2025, yang di mana jatuh pada 24 November kemarin, tentunya segenap komunitas pendidikan di Nabire turut merayakan momen penting ini dengan penuh khidmat dan ini merupakan penghormatan untuk para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.

Ketua Yayasan Peduli Difabel Nabire, Maria Yetiasaputri Kapitarauw, S.Sos., M.M., AWP, mengucapkan selamat dan sukses kepada seluruh guru di Kabupaten Nabire, atas dedikasi tanpa batas dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, terkhususnya di Provinsi Papua Tengah.

Lanjutnya, ucapan selamat dan penghargaan setinggi-tingginya secara khusus diberikan kepada para pendidik yang berada di garis depan inklusi, termasuk Maria Yetiasaputri Kapitarauw, selaku Ketua Yayasan Peduli Difabel Nabire.

Di tengah tantangan yang ada, Maria dan yayasan yang dipimpinnya telah membuka layanan pendidikan yang sangat vital dan inklusif bagi anak-anak berkebutuhan khusus dan kurang mampu di Papua Tengah, pendidikan tersebut diantaranya. "TK dan SD Inklusi Matahari, SLB matahari, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) muda-mudi Papua hebat, sekolah kesetaraan paket A, B dan C, Difable Home Scholling dan Private," kata Maria, Selasa (25/11/2025).

"Semoga semangat juang para guru, terutama yang bertugas di Nabire, terus membara dalam mendidik, mengajar dan melayani semua anak bangsa, tanpa terkecuali. Selamat Hari Guru Nasional 2025," tambahnya.

Ia juga menekankan untuk melahirkan generasi yang tangguh dan inklusif, dan berharap agar anak-anak didik kita kelak tumbuh menjadi individu yang mandiri, kritis dan memiliki hati yang besar. Semoga mereka tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga mampu merangkul dan menghargai keberagaman, menjadikan Indonesia sebuah bangsa yang benar-benar inklusif.

Maria berharap agar terjadi ekosistem pendidikan yang adil dan berharap seluruh institusi pendidikan, dari kota hingga pelosok, dapat memiliki akses dan fasilitas yang setara dan ramah difabel. Tidak ada lagi anak yang terpaksa putus sekolah karena kendala biaya, jarak atau kondisi fisik.

Ia menambahkan agar kesejahteraan dan penghargaan guru tentu harus diperhatikan, mulai dari dedikasi dan perjuangan guru di seluruh pelosok negeri, terutama mereka yang berada di daerah terpencil dan melayani anak berkebutuhan khusus, untuk mendapatkan penghargaan dan dukungan yang layak, baik dari segi kesejahteraan maupun pelatihan berkelanjutan.

"Semoga setiap usaha kita dalam mendidik menjadi amal jariah yang tak terputus, membentuk masa depan bangsa yang cemerlang," pungkasnya.

Kegiatan HUT PGRI dan HGN berlangsung di SMAN 1 Plus KPG, tentu saja dihadiri oleh insan guru yang berada di Kabupaten Nabire. Adapun rangkaian kegiatan sebagai berikut, menyanyikan lagu nasional dan lagu daerah yang dibawakan dari tim suara IGTK. Penampilan Drumband SMPN 2 Wanggar, pelaksanaan upacara HUT ke-80 PGRI dan HGN, penyampaian aspirasi noken dan penutupan.(edi)