NABIRE - Kehadiran atau peran masyarakat di lingkungan pendidikan sangat wajar diberikan bagi peserta didik atau anak-anak sekolah saat menggunakan baju atau atribut pendidikan. Sebab, dari atribut yang digunakan anak sekolah memiliki pesan keterikatan pendidikan yang sangat luas artinya. Dengan demikian kehadiran masyarakat di lingkungan pendidikan sangat berarti, dimana masyarakat harus bertindak adil, jujur dan penuh rasa tanggung jawab bagi semua peserta didik yang ditemukan merokok maupun mengisap aibon serta hal–hal negatif lainnya yang merusak moralitas dan masa depan anak. Karena tidak dipungkiri telah ditemukan diluar pagar maupun dalam kompleks sekolah ada sejumlah anak-anak sekolah tingkat SMP/MTs dan SMA/SMK dengan menggunakan pakaian seragam dan sedang asyik menikmati sebatang rokok dan ada juga yang sedang minum minuman beralkohol dan juga mengisap lem Aibon. Demikian dikatakan  Kepala Bidang (Kabid) SMP/MTs Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire Melkias Pekey, S.Pd,S.Ip.MM kepada Papuapos Nabire, Kamis (9/8), di ruang kerjanya seraya menambahkan, pendidikan bukan tanggung jawab pemerintah, guru dan orang tua murid semata, tetapi juga menjadi tanggung jawab masyarakat di sekitar sekolah. Lanjut dikatakan Pekey, zaman ini telah berubah dengan segala macam teknologi dan kecanggihan yang bersifat modernisasi, sehingga sangat gampang membawa anak-anak sebagai generasi harapan bangsa ke jurang kehancuran, sehingga tidak saja sekolah dan orang tua yang berikan pengawasan, tetapi juga masyarakat yang disebut masyarakat peduli pendidikan. Hal lain yang perlu diingat oleh kita semua bahwa, saat anak-anak pulang sekolah selalu diberikan pengawasan yang ketat oleh orang tua murid dengan memberikan catatan kepada anak untuk belajar, kegiatan yang bersifat keagamaan serta kegiatan lain yang bersifat didikan dalam rangka pengembangan bakat dan minat anak-anak. Dan ketika anak-anak usia sekolah di tingkat SM/MTs yang sudah mengenal dunia rokok, alkohol dan mengisap lem aibon, akibat dari kurangnya perhatian orang tua murid di rumah yang kurang memberikan nasihat dan didikan guna anak menghindari hal-hal yang merusak moralitas dan masa depan anak. Selain itu, ada fakta lain yang menyebutkan juga, bahwa orang tua perempuan (ibu/mama) yang banyak diberikan tanggung jawab untuk mengurus dan mendidikan anak, sementara orang tua laki-laki (bapak) lebih banyak mengurus urusannya atau kepentingannnya tanpa melihat tugas utama sebagai imamM dalam rumah tangga, akhirnya tanggung jawab keluarga dipikul oleh mama. (des)