Pendatang Demo, Perekonomian di Wamena Lumpuh
Wamena,- Merasa hidup tidak nyaman, aman dan merasakan adanya diskriminasi dalam penerapan hukum, warga non Papua atau yang lebih dikenal sebagai pendatang, mengadakan aksi demo. Aksi warga pendatang ini berakibatkan roda perekonomian di kota Wamena lumpuh dan kota wamena s
Bagikan
Wamena,- Merasa hidup tidak nyaman, aman dan merasakan adanya diskriminasi dalam penerapan hukum, warga non Papua atau yang lebih dikenal sebagai pendatang, mengadakan aksi demo. Aksi warga pendatang ini berakibatkan roda perekonomian di kota Wamena lumpuh dan kota wamena sepi. Para warga pendatang, berbondong-bondong berkumpul di Gedung Pertemuan Ukumiarek Asso Jl. Yos Sudarso Wamena, Kamis kemarin.
Sekitar pukul 10.00 WIT diadakan tatap muka Kapolres Jayawijaya bersama Ketua Paguyuban, Kepala Suku, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda dan Tokoh Perempuan dalam rangka menciptakan situasi Kamtibmas di wilayah hukum Polres Jayawijaya.Acara tatap muka dibuka oleh Kapolres Jayawijaya dan sambutan Bupati Jayawijaya selanjutnya kesempatan kepada tokoh-tokoh masyarakat untuk menyampaikan saran dan pendapatnya kepada pihak Polres Jayawijaya.Mewakili Ketua-ketua Paguyuban Masyarakat se-Kabupaten Jayawijaya, Iswardi selaku juru bicara membacakan Surat Permohonan Perlindungan Keamanan & Pernyataan Sikap keprihatinan Tokoh-tokoh Paguyuban Masyarakat JayawijayaIswardi menyampaikan beberapa fakta-fakta yang menjadi alasan diadakan demo damai ini. Fakta tersebut antara lain, maraknya pemerasan dan pemalakan yang dilakukan oleh orang - orang mabuk di beberapa kios/toko dan semua tempat kegiatan usaha. Kedua pengeroyokan hingga meninggalnya seorang sopir angkutan umum di kawasan pasar Jibama pada kegiatan Deklarasi Kandidat Calon Bupati yang sampai saat ini belum ada penyelesaian. Ketiga pengrusakan kios, pembakaran kendaraan umum dan pelecehan seksual di kawasan Pasar Woma. Keempat pengeroyokan hingga meninggalnya seorang penjaga toko / kios di kawasan Jl. Sulawesi, kelima pembunuhan/penembakan seorang sopir angkutan umum di Jl. Poros Tolikara-Mulia, keenam Penganiayaan/pembunuhan beberapa tukang ojek sejak tahun 2008 yang hingga saat ini belum ada satupun pelaku yang di temukan dan di proses sesuai hukum yang berlaku di NKRI , ketujjuh tindakan perampokan yang terjadi bulan Agustus 2013 di kawasan pertigaan Jl Hom-hom. Kedelapan pengancaman dan tindak kekerasan kepada aparat keamanan yang sedang bertugas.Melihat fakta fakta tersebut maka masyarakat membuat pernyataan sikap yang berisi, mengutuk dengan keras atas pembunuhan saudara saudara kami dengan cara sadis yang tidak berperikemanusiaan. Untuk itu memohon perlindungan hukum dan kepastian hukum serta keamanan terhadap seluruh warga Negara Indonesia yang tinggal dan berusaha di Jayawijaya dan sekitarnya.Meminta pihak Kepolisian mengusut secara tuntas dan penegakan hukum secara adil terhadap pelaku pelaku tindak pidana seperti pembunuhan, penganiayaan, pembakaran, pemerasan, pencurian dan pelecehan seksual. Dan juga memohon kepada Kepolisian Resort Jayawijaya agar lebih respontif dan lebih peduli terhadap pengaduan masyarakat dan memberi pengamanan secara menyeluruh dan berkesinambungan tanpa diskriminasi.Pernyataan kelima, menindak lanjuti pernyataan sikap warga Forum Komunikasi Antar Paguyuban se-Kabupaten Jayawijaya terhadap kasus-kasus penganiayaan/pembunuhan tanggal 8 dan 12 April 2009 yang telah disampaikan kepada Kepala Kepolisian Resor Jayawijaya, serta memohon agar ditingkatkan frekwensi patroli dan razian terhadap senjata tajam, minuman keras,dan perilaku mabuk serta melakukan proses hukum terhadap pembuat, pemasok, penjual, pelindung (beking) dan pengedar minuman keras.Iswwardi mengatakan agar dapat dipahami bahwa keberadaan kami di Jayawijaya adalah untuk menjadikan Jayawijaya dapat mencapai mottonya yaitu Yogotak Hubuluk Motok Hanorogo (Hari esok harus lebih baik dari hari ini) dan Jayawijaya menjadi kawasan DANI (Damai, Aman, Nyaman, Indah) dan Sejahtera. Bukan sebaliknya.Pertemuan yang dihadiri kurang lebih 1.000 masyarakat, juga dihadiri Muspida.Muspida yang hadir antara lain , Sekda Jayawijaya Yohanes Walilo, Dandim 1702/Jayawijaya Letkol Inf Yusuf Sampetoding, Kapolres Jayawijaya AKBP Johnny Edizon Isir, SIK, MTCP, Danyonif 756/WMS Mayor Inf Tamimi Hendra Kusuma, Wakil Ketua I DPRD Jayawijaya, Wakil Ketua II DPRD Jayawijaya, mewakili Kaban Kesbangpol, mewakili Kasatpol PP, kepala Distrik Wamena Kota, Dansubdenpom Wamena, Ketua LMA Jayawijaya Kayo Huby, Ketua-ketua Paguyuban Masyarakat Kepala-kepala Suku, tokoh Pemuda dan tokoh Perempuan.Pertamuan tatap muka ini ini diakhiri sore hari. Namun dari pantauan di lapangan, baru beberapa kios yang buka. Kios kios lainnya masih tertutup rapat.
Bagikan artikel ini



