Pelabuhan Feri Samabusa Terbengkalai 10 Tahun
NABIRE - Pelabuhan Feri Samabusa Nabire, yang terletak di Kampung Air Mandidi Samabusa perlu mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan juga Pemda Kabupaten Nabire.

NABIRE - Pelabuhan Feri Samabusa Nabire, yang terletak di Kampung Air Mandidi Samabusa perlu mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan juga Pemda Kabupaten Nabire. Pasalnya, Pelabuhan Feri Samabusa sudah tidak dioperasikan sejak Maret 2016. Melihat kondisi tersebut, salah satu anggota DPRP Papua Tengah, Katherin Maruanaya, Senin (24/03/25), menyempatkan diri untuk melihat secara langsung kondisi terkini Pelabuhan Feri Samabusa yang kondisinya sangat memperihatinkan dan terbengkalai.
Ditemani Kepala Seksi ASDP Dinas Perhubungan Nabire, Albertus Sabarofek kepada Papuapos Nabire mengatakan, Pelabuhan Feri Samabusa Nabire beroperasi sejak 2006 hingga akhir Maret 2016. Setelah itu, tidak beroperasi kembali akibat pendangkalan di areal dermaga Pelabuhan Feri Samabusa. Dan membuat Kapal Feri yang tiba di Nabire harus bersandar dan berlabuh di dermaga besar atau Pelabuhan Samabusa.
“Kita lihat sendiri kondisi pelabuhan feri di Kampung Air Mandidi Samabusa ini, sudah tidak terurus dan kondisinya sangat memperihatinkan. Dengan kondisi ini, akhirnya Kapal Feri yang melayani masayarakat Nabire harus berlabuh dan bersandar di pelabuhan besar Samabusa. Selain terjadi pendangkalan, yang mungkin diakibatkan salah konstruksi awal, membuat pelabuhan ini tidak bertahan lama,” ungkap Sabarofek.
Dirinya berharap, Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui kunjungan anggota DPRP Papua Tengah ke Pelabuhan Feri Samabusa, bisa menindaklanjuti persoalan tersebut ke Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan juga Pemkab Nabire, agar Pelabuhan Feri Air Mandidi Samabusa ini bisa beroperasi kembali dan tentunya bisa meningkatkan sumber pendapat asli daerah dan juga sumber pendapatan warga masyarakat di wilayah Kampung Air Mandidi Samabusa.
Sementara itu, anggota DPRP Papua Tengah, Katherin Maruanaya mengatakan, kehadiran Pelabuhan Feri Samabusa merupakan salah satu faktor penunjang perekonomian di wilayah Nabire, khususnya bagi warga masyarakat Kampung Air Mandidi Samabusa. Dimana, transportasi laut masih menjadi salah satu sarana alternatif bagi warga Nabire yang ingin melakukan perjalanan keluar kota Nabire.

“Kita lihat sendiri sekarang kapal feri sekarang harus berlabuh di pelabuhan besar Samabusa, padahal untuk jenis kapal feri angkutan ini jenisnya seperti Kapal LCT yang pintunya terbuka dari depan, karena Kapal Feri seperti KMP Maisirei yang digunakan oleh warga masyarakat ini digunakan juga untuk mengangkut barang dan kendaraan. Dan sangat berbahaya ketika harus bersandar menyamping, otomatis kendaraan roda empat tidak bisa masuk,” ungkapnya.
Lanjutnya, dengan terbengkalai selama 10 tahun, Pelabuhan Feri Samabusa ini, DPRP Papua Tengah kedepan mencoba untuk berkoordinasi dan berkomunikasi dengan Pemprov Papua Tengah untuk membangun kembali dan mengaktifkan kembali Pelabuhan Feri Samabusa dengan konstruksi yang sesuai untuk peruntukkan kapal-kapal feri penumpang dan barang yang melayani masyarakat Nabire.(cad)
Bagikan artikel ini



