Pawai Ogoh-Ogoh dan Perayaan Nyepi 2025 Masehi / Tahun Baru Saka 1947

NABIRE - Pawai ogoh-ogoh yang di laksanaka di Pura Puja Dewata (SP.1) dan Pura Giri Wira Bhakti (Batalyon) jumat lalu (28/3/2025), mulai dari jam 13.00 - 17.00 WIT. Dalam pawai ogoh-ogoh tersebut terdapat rangkaian kegiatan, mulai dari jam 10.00 (Matur Piuning), 10.30 (melati), 12.00 (Mecaru), 12.00 (Pasupati Ogoh-ogoh), 13.00 ogoh-ogoh dan dimulai dari Pura Puja Dewata SP.1, lalu ogoh-ogoh yang dari Pura Giri Wira Bhakti Batalyon, dan berkumpul di Tugu selamat datang depan bandara lama.
Lalu di arak dengan berjalan kaki di seputaran Jl. Pepera yaitu dari tugu selamat datang, menuju tugu nabire hebat dan kembali lagi ke tunggu selamat datang, serta menaiki kendaraan menuju pura puja dewata dan sesampainya di pura puja dewata di turunkan ogoh-ogoh lalu lanjut di bakar (pralina) di puja prajapati sp.1
Dikatakan oleh, ketua panitia Wahyu Diantoro, S.Sos.,H dalam penyampaiannya mengatakan, Ogoh-ogoh adalah sebuah tradisi yang berasal dari Bali, Indonesia, yang dilakukan sebagai bagian dari perayaan Nyepi, hari raya Hindu untuk memperingati tahun baru Saka.
Semoga dalam perayaan Nyepi 2025 Masehi/ tahun baru Saka 1947 seluruh umat Hindu khususnya Nabire dan Papua Tengah selalu di beri kerahayuan dengan menjalankan catur brata penyepian.
1. Amati Geni (tidak menyalakan api)
2. Amati karya (tidak boleh aktivitas bekerja)
3. Amati lelungan (tidak boleh bepergian)
3. Amati lelangunan (tidak boleh melakukan hiburan)
Dirinya juga menyampaikan bahwa, makna filosofis ogoh-ogoh adalah sebagai berikut.
Makna Filosofis Ogoh-Ogoh
1. Pengusiran Kegelapan.
Ogoh-ogoh melambangkan kekuatan kegelapan yang harus diusir untuk memberikan jalan bagi cahaya dan kebaikan. Ini melambangkan perjuangan antara baik dan jahat.
2. Pembersihan Diri.
Membuat ogoh-ogoh dan mengaraknya keliling desa merupakan simbol pembersihan diri dari segala kejahatan dan keburukan. Ini melambangkan upaya untuk menjadi lebih baik dan lebih suci.
3. Keseimbangan Alam.
Ogoh-ogoh juga melambangkan keseimbangan alam yang harus dipertahankan. Ini melambangkan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
4. Penghormatan kepada Leluhur
Membuat ogoh-ogoh juga merupakan cara untuk menghormati leluhur dan roh-roh yang telah meninggal. Ini melambangkan rasa hormat dan kesyukuran kepada mereka yang telah memberikan kontribusi pada kehidupan kita.
5. Kekuatan Komunitas.
Mengarak ogoh-ogoh keliling desa juga melambangkan kekuatan komunitas yang solid dan bersatu. Ini melambangkan pentingnya kerja sama dan kebersamaan dalam menghadapi tantangan dan kesulitan.
"Ogoh-ogoh bukan hanya sekedar tradisi, tetapi juga memiliki makna filosofis yang mendalam dan penting bagi masyarakat Bali," pungkasnya. (edi)
Bagikan artikel ini



