Papua Tengah Ubah Strategi Pendidikan, 4.370 Siswa Ikuti Kursus Bahasa Inggris Sejak Dini

NABIRE – Pemerintah Provinsi Papua Tengah melakukan transformasi besar dalam kebijakan pendidikan dengan memusatkan penguatan daya saing sumber daya manusia di daerah sendiri. Salah satu langkah strategis yang kini dijalankan adalah memberikan kursus Bahasa Inggris sejak dini kepada ribuan siswa sebagai bekal menghadapi persaingan pendidikan global.
Kebijakan tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Nurhaida Nawipa, SE, saat menyampaikan laporan pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) Tahun 2026 di SMA Negeri 1 Plus KPG Nabire, Kamis (23/7/2026).
Mengusung tema "Transformasi Kebijakan Pendidikan Mendasar Papua Tengah Unggul dan Layak Anak", Nurhaida menegaskan bahwa peringatan Hari Anak Nasional bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi tonggak baru pembangunan sumber daya manusia Papua Tengah.
"Momentum ini menjadi batu pijakan sejarah bagi masa depan anak-anak Papua Tengah. Kami juga secara resmi mendukung Deklarasi Anak Menuju Provinsi Papua Tengah Layak Anak, sehingga seluruh sekolah harus menjadi tempat yang aman, ramah anak, bebas dari kekerasan, diskriminasi, dan perundungan," ujarnya.
Menurut Nurhaida, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan telah mengubah paradigma pembangunan pendidikan. Jika sebelumnya peningkatan kualitas sumber daya manusia dilakukan dengan mengirim siswa belajar ke lembaga kemitraan di Pulau Jawa dan Bali, sejak 2025 pemerintah memilih membangun kapasitas peserta didik langsung di Papua Tengah.
Strategi tersebut diwujudkan melalui kerja sama dengan lembaga kursus Bahasa Inggris lokal yang dikelola oleh Orang Asli Papua (OAP), lulusan berbagai perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri.
Program itu menyasar siswa kelas IV, V, dan VI SD serta siswa kelas I hingga III SMP, SMA, dan SMK. Awalnya pemerintah menargetkan sebanyak 4.250 siswa mengikuti kursus Bahasa Inggris terstruktur menggunakan kurikulum standar lembaga bahasa.
Namun, realisasi di lapangan melampaui target. Sebanyak 4.370 siswa tercatat mengikuti program tersebut, dengan 99,8 persen di antaranya merupakan anak-anak asli Papua Tengah.
"Tingginya partisipasi ini menunjukkan antusiasme siswa untuk menguasai Bahasa Inggris sangat besar," kata Nurhaida.
Ia menjelaskan, penguasaan Bahasa Inggris sejak usia dini diharapkan mampu meningkatkan rasa percaya diri sekaligus membuka peluang lebih besar bagi generasi muda Papua Tengah untuk memperoleh beasiswa secara mandiri, baik di dalam maupun luar negeri.
Selain itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga melakukan revitalisasi penerimaan peserta didik baru di SMA Meepago bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire.
Sekolah tersebut dipersiapkan sebagai sekolah unggulan yang diarahkan untuk melahirkan lulusan berdaya saing internasional dan mampu menembus berbagai program beasiswa, seperti Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), beasiswa pemerintah negara sahabat, hingga lembaga swadaya masyarakat (NGO) internasional.
Untuk tahun ajaran baru, SMA Meepago membuka kuota sebanyak 60 siswa unggulan yang diseleksi dari tingkat kabupaten. Selain memiliki prestasi akademik yang baik, calon peserta didik juga diprioritaskan telah memiliki kemampuan dasar berbahasa Inggris.
Melalui transformasi kebijakan tersebut, Pemerintah Provinsi Papua Tengah menargetkan lahirnya generasi muda yang unggul, berdaya saing global, sekaligus tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan ramah anak. (ppn)
Bagikan artikel ini



