Cerpen oleh: Abdul Munib

Sudah bulan puasa yang kesekian, pemakaman desa dipenuhi daun-daun gugur. Tampak daun jati kering, daun bambu dan daun pohon mahoni berserakan. Minggu terakhir Sya'ban masyarakat tetap dalam tradisi sejak dahulu, pergi ke kuburan keluarga, membersihkannya dari rumput gulma dan dedaunan berserak.

Seorang anak kelas tiga SD mengikuti bapaknya. Kepadanya ditunjukkan nisan-nisan moyangnya yang disemayamkan di pedesaan itu. Di pedesaan yang mereka babat-babat dulu, disitulah mereka disemayamkan. Sudah menjadi fitrah manusia untuk mencari penghidupan yang lebih layak untuk generasinya.

Moyang dulu adalah pasukan Basah Pengalasan yang tercerai berai oleh kejaran pasukan Marsose Belanda. Rupanya Kompeni mau menumpas tuntas anasir pasukan Diponegoro pada pasca Perang Jawa. Ada desa nama Singkup. Yang dalam bahasa Sunda, artinya tempat persembunyian. Moyang yang berasal dari sirkel telik sandi Sang Pangeran di sektor Demak di pertengahan abad Sembilan Belas mencari keselamatan hidupnya melalui berbagai penyamaran. Karena kuatnya pengejaran dan penumpasan anasir Diponegoro.

Diponegoro sendiri mewarisi gerakan perlawanan Pangeran Sambernyawa. Sedangkan Pangeran Sambernyawa sendiri menariknya dari Sultan Agung. Keluarga ini turun temurun jadi penghalang bagi kegiatan kolonisasi oleh bangsa Barat. Sehingga sederet ahli sejarah ditugaskan membuat pembelokan untuk mendiskreditkan keluarga itu. Dibuatlah kisah palsu baku bunuh keturunan Ken Arok dan Tunggul Ametung. Kisah abad ke Dua Belas dipaksa diceritakan pada abad Sembilan Belas.

Armia, anak SD kelas tiga itu memegang tangan ayahnya. Mereka berjongkok untuk melakukan tradisi doa Tahlil setalah bersih-bersih makam leluhur. Doa itu diyakini dapat menjadi hadiah amal, karena bacaan Al-Quran, tahmid, tasbih, tahlil dan sholawat dapat menembus dimensi metafisika. Kami sekeluarga meyakini bahwa kehidupan Barzah di alam kubur adalah episode penantian ketika Mahkamah Pamungkas akan digelar di Padang Mahsyar. Untuk itu, di masa penantian ini, doa dari anak cucu menjadi sangat penting.

Sore Jumat itu Ayah Armia yang memimpin doa Tahlil. Dilengkapi membaca Surat Yasin dan Doa Ziarah untuk ahli keturunan Nabi Muhammad. Anak kecil itu juga ikut melafalkan bacaan-bacaan tahlil secara meniru-niru. Ini adalah tradisi keluarga turun temurun. Sehingga lewat hadarah nama-nama keluarga disebut. Bahkan kepada nama-nama rahasia yang banyak orang tidak tahu siapa pemilik nama itu. Satu contoh Syekh Abdul Jalil.

Menjelang maghrib tahlil selesai. Satu keluarga meninggalkan areal pemakaman itu. Langit mulai memamerkan cakrawala merah di Ufuk Barat. Suara burung Benence mulai muncul dari rerimbunan pohon Albarsiah. Beberapa hari lagi bulan Ramadhan akan masuk. Bulan yang sangat dirindukan Armia, karena buka puasa banyak kuliner aneka warna yang enak-enak.

Bubaran sembahyang Isha orang-orang kampung pada mengerumuni Ayah Armia. Selain melepas kangen karena Ayah Armia sejak muda hidup di perantauan, namun sering pulang kalau ada kesempatan tugas ke Jawa. Bagi Ayah Armia, masyarakatnya bukan sekedar masyarakat. Melainkan saudara dalam biologis. Pertalian kerabat dari awal mula desa itu didirikan oleh Buyut Ra yang makamnya di Arab. Dia meninggal saat pergi Haji di jaman Belanda. Yang berkerumun duduk mengelilingi Ayah Armia kebanyakan tokoh-tokoh kampung itu. Mereka ingin mendengar perkembangan dari anak mereka yang merantau ?

Ayah Armia sendiri adalah generasi ke enam dari Buyut Ra. Maka Armia adalah generasi ke tujuh. Penduduk kampung itu seperti satu rumpun bambu yang saling terikat kerabat sebagai anak cucu Buyut Ra.

Satu abad lebih kampung yang dibuka oleh Buyut telah memberikan hidup dan penghidupan kepada warganya. Di pertengahan abad kedua kampung itu, Jakarta mulai ramai. Banyak penduduk kampung itu yang mencari nafkah ke ibu kota. Pertanian mulai lumpuh karena semakin membengkaknya biaya operasional. Bibit tanaman mulai mengalami rekayasa genetika. Petani tak bisa lagi ngalean. Ngalean adalah kegiatan memilah buah tanaman untuk dijadikan bibit.

Kerumunan itu kadang bertahan sampai larut malam. Satu dua mulai ada yang mundur karena alasan besok sawahnya perlu digarap. Pada jam-jam kecil pembicaraan mulai masuk pada inti persoalan perubahan dunia di belahan benua besar. Ada yang bertanya apakah Imam Mahdi akan segera dzuhur atau nampak dari keghaibannya. "Itu bagian dari rahasia Tuhan," ujar Ayah Armia.

Fenomena keyakinan datangnya Ratu Adil hidup di alam pemikiran rakyat nusantara, termasuk di kampung itu. Dia adalah pemimpin yang melaluinya setetas air hujan dapat turun ke bumi. Nama Agung yang memanigeatasi dalam sosok fisika dan kekinian. Obrolan itu lambat laun mulai menipis oleh kantuk dan waktu menjelang subuh.

Nyekar dan obrolan jam kecil telah melintasi dimensi fisika sebuah puak dan metafisika pada nyekar dan doa tahlil. Dimana mereka meyakini gunung akan meleleh jika diletakan hakikat Al Quran diatasnya. Ayah Armia membangunkan Armia untuk mandi pagi dan pergi ke masjid Buyutnya yang tak jauh dari rumah mereka.***