Nabire Gelar Festival Budaya Pranata Adat untuk Perdamaian
NABIRE - Dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan dalam bingkai NKRI di wilayah Kabupaten Nabire, Senin (6/8), Kabupaten Nabire menggelar
Bagikan
NABIRE - Dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan dalam bingkai NKRI di wilayah Kabupaten Nabire, Senin (6/8), Kabupaten Nabire menggelar Festival Budaya Pranata Adat untuk Perdamaian yang dirangkai dengan Pameran Pembangunan Perempuan Papua, yang berlangsung sejak Senin, 6 Agustus sampai dengan Kamis, 9 Agustus 2018, bertempat di Taman Gizi Oyehe. Turut hadir, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia yang dihadiri langsung Direktur Direktorat Penanganan Daerah Pasca Konflik Sugito, SH.,MH, Ketua Panitia Festival Budaya untuk Perdamaian dan Pameran Pembangunan Perempuan Papua tahun 2018, Yufinia Mote, S.SiT., Asisten I Setda Kabupaten Nabire la Halim, S.Sos, serta para Pimpinan OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Nabire. Dalam sambutan tertulis Bupati Kabupaten Nabire Isaias Douw, S.Sos.,MAP yang dibacakan Asisten III Setda Nabire, Pieter Erari, SE.,M.Si , saat membuka Festival Budaya untuk Perdamaian mengatakan, secara geografis Kabupaten Nabire terletak pada kawasan Teluk Cenderawasih, dengan luas wilayah kurang lebih sebelas ribu seratus dua puluh kilometer persegi, terdiri dari lima belas distrik, sembilan kelurahan dan delapan puluh kampung, yakni tujuh puluh dua kampung definitif dan delapan kampung persiapan dan jumlah penduduk kurang lebih seratus enan puluh ribu empat ratus enam puluh tiga jiwa. Kata bupati, penduduk Kabupaten Nabire sangat majemuk, yang sudah barang tentu memiliki latar belakang adat dan budaya yang dibawah dari peninggalan atau warisan leluhurnya dan tentunya berbeda-beda pula.Sehubungan dengan latar belakang adat dan budaya yang majemuk di Kabupaten Nabire, maka simbol keBhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan bangsa Indonesia sangat terasa dalam kehidupan masyarakat sehari-hari di Kabupaten Nabire.“Dengan keanekaragaman suku bangsa dan budaya inilah yang menjadi suatu kekuatan yang besar dalam rangka pelaksanaan pembangunan guna mewujudkan masyarakat Kabupaten Nabire yang cinta tanah air, cinta budaya dan saling memahami dan menghargai kebiasaan adat budaya satu dengan yang lain,” ungkapnya. Menurutnya, dengan memahami dan mengerti adat dan budaya setiap suku bangsa yang ada di negeri ini, maka semakin memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan sebagai anak bangsa.Lanjut Bupati, berangkat dari visi dan misi pembangunan Kabupaten Nabire, yakni “Membuka isolasi daerah guna terwujudnya masyarakat Nabire yang berwawasan keberagaman, berkeadilan, sejahtera dan mandiri secara berkelanjutan”, dengan empat belas program prioritasnya, antara lain menjaga stabilitas keamanan dan meningkatkan pelayanan kesehatan, pendidikan dan perberdayaan ekonomi masyarakat serta pembangunan infrastruktur yang memadai sebagai sumber daya utama bagi pembangunan di kawasan tengah Provinsi Papua.Terkait dengan pembangunan infrastruktur, Bupati Nabire menyampaikan bahwa pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik, namun demikian ada beberapa hal yang menurut Pemerintah Kabupaten Nabire sangat perlu diselesaikan pembangunannya, antara lain pembangunan Bandara Internasional, serta pembangunan jalan desa dan infrastruktur lainnya.“Pembangunan Bandara menjadi harapan kami sebab pemanfaatannya bukan saja kami yang ada di kabupaten Nabire, namun juga diperuntukan bagi masyarakat di beberapa kabupaten lainnya di kawasan tengah Papua,” ujarnya.Lebih lanjut Bupati Isaias mengatakan, Kabupaten Nabire dari sisi letaknya menjadi sangat strategis, sebab menjadi pintu gerbang transportasi, baik manusia maupun barang-barang, kebutuhan bagi berberapa kabupaten yang berada di daerah pesisir, dan lebih-lebih di daerah pegunungan. (cad)
Bagikan artikel ini



