Esai : Abdul Munib*

Tak terasa Perang Gaza sudah dua tahun berjalan, antara Zionis melawan milisi Hamas sejak 7 Oktober 2023 lalu. Ilusi kehebatan Zionis yang dikabarkan media Barat ternyata isapan jempol belaka. Terbukti sudah dua tahun tak bisa mengalahkan sekedae milisi Hamas. Padahal sebelumnya mereka tampil sombong membusungkan dada sebagai kekuatan militer tak terkalahkan di Timur Tengah.

Ketika Zionis menyerang tiba-tiba Iran menewaskan jenderal-jenderal, mereka salah perhitungan. Diluar dugaan ernyata Iran mampu menyerang balik secara keras. Sampai akhirnya Donal Trump yang minta berhenti. Iran berhenti. Tidak seperti Zionis, diserang sekali tanggal 7 Oktober 2023 dia balasnya dua tahun. Disini sangat jelas sekali siapa di atas planet bumi ini bangsa yang haus perang ? Jawabannya Zionis dan Amerika. Blok Barat. Tukang Menjajah.

Meski Amerika dan Israel punya senjata nuklir, keadaannya sekarang berbeda dengan jaman Hirosima Nagasaki. Dulu yang punya nuklir hanya Amerika seorang. Sekarang sudah ada 'Wali Songo' negara punya senjata nuklir (Amerika, Rusia, Cina, Inggris, Francis, Korea Utara, India, Pakistan dan Israel). Sembilan negara punya senjata nuklir. Siapa negara menghianati dengan memulai menjatuhkan senjata itu, dia juga akan ikut habis. Meski kekuatan senjata nuklir sekarang ribuan kali lipat dahsyatnya ketimbang Hirosima Nagasaki, tapi resiko memulai akan menghancurkan habis bangsanya sebagai pengkhianat kemanusiaan. Karena sudah banyak yang punya dan beda aliansi, fungai senjata nuklir sekarang hanya untuk baku jaga saja.

Jika amerika paksakan menggunakan nuklir dia juga akan habis, mati kena nuklir. Artinya penggunaaan senjata nuklir di jaman sekarang sama saja bunuh diri. Untuk itu Republik Islam Iran hanya menggunakan nuklir bukan untuk senjata. Tapi untuk energi listrik, untuk pertanian dan kedokteran. Untuk damai. Senjata yang bisa membunuh sipil, perempuan dan anak-anak tanpa memilah, dianggap Iran tidak sesuai ajaran Ak Quran. Iran menguasai teknologi nuklir. Bisa membuat senjata nuklir, tapi tidak mau buat. Karena senjata nuklir memusnahkan semuanya, sedangkan perang itu khusus antar perajurit perang.

Jadi sesungguhnya setelah perang 12 hari dan Donal Trump minta berhenti, artinya Barat telah kalah. Barat beraninya sama Hamas, milisi yang bukan tentara negara. Kalau rasa menang karakter Barat akan terus berperang, seperti Perang Vietnam sampai 20 tahun. Setelah rasa babak belur baru dia mau pulang. Seperti itu juga di Afganistan. Amerika colong playu, alias kabur meninggalkan medan tempur.

Di dataran perang opini Barat kalah telak, pidato Netanyahu di Sidang Umum PBB ditinggal walk out oleh hampir semua delegasi negara-negara. Kecuali segelintir saja. Mereka tak mau dengar omong kosong rezim genosida pembunuh bayi. Masyara

Barat menggelar demo besar-besaran mendukung Palestina Merdeka. Amerika dan Zionis terkucil dari opini dunia hari ini. Mereka secara opini sudah jadi entitas negara paria. Begitulah dunia sekarang bergerak kencang dari unipolar berganti musim multipolar.

Operasi “Badai Al-Aqsa” telah menggagalkan Peta besar dominasi Rezim Zionis atas Asia Barat dan Dunia Islam. Serangan brutal rezim Zionis terhadap rakyat tak berdaya di Gaza adalah luapan amarah dan kepanikan akibat gagalnya proyek besar mereka.*

Pemimpin Revolusi Islam, tahun lalu di makam Imam Khomeini mengungkapkan, sebuah peta besar dan menyeluruh telah dirancang oleh Amerika Serikat bersama elemen-elemen Zionis, antek-antek mereka, dan sebagian pemerintah di kawasan. Tujuan dari peta tersebut adalah mengubah tatanan politik dan hubungan di Asia Barat, menata hubungan negara-negara kawasan sesuai kehendak Tel Aviv, dan pada akhirnya menempatkan rezim Zionis sebagai penguasa politik dan ekonomi seluruh kawasan—bahkan dunia Islam.*

Amerika ada di balik rencana ini. Inggris mendukungnya. Lobi Zionis global mengawalnya. Beberapa pemerintah di kawasan juga berperan aktif dalam proyek tersebut. Rencana ini telah sampai ke tahap akhir, hanya selangkah lagi dari pelaksanaan penuh di lapangan. Namun di saat paling genting itu, Operasi Badai Al-Aqsa meletus dan menggulung seluruh skema mereka.*

Badai 15 Mehr (7 Oktober) membatalkan dengan telak peta strategis musuh yang telah mereka susun bertahun-tahun, dan dengan kondisi yang berkembang selama delapan bulan terakhir, nyaris tak ada harapan bagi mereka untuk menghidupkan kembali proyek itu.*

Kebiadaban yang kini kita saksikan di Gaza, pembantaian terhadap rakyat sipil, penghancuran rumah dan rumah sakit — semuanya adalah reaksi histeris rezim Zionis atas kegagalan rencana besar mereka. Dan dukungan terang-terangan Amerika terhadap kejahatan itu hanyalah luapan kemarahan dan frustrasi atas runtuhnya peta dominasi yang telah mereka bangun dengan penuh tipu daya.

Peringatan Operasi heroik Badai Al-Aqsa, simbol kebangkitan perlawanan dan kehancuran proyek Zionisme global. Ini menandai tenggelamnya peradaban Barat uang imperialistik dan terbitnya Peradaban Timur yang di simbolkan dalam Lambang Rantai di sila kedua Pancasila.

*Esais Penjab Harian Papuapos Nabire dan Papuapos TV