Mayat Pria Dewasa Ditemukan Mengapung di Bibir Pantai Smoker

NABIRE – Sesosok mayat seorang pria dewasa, pada Rabu (3/9/25) sekitar pukul 12.26 WIT ditemukan di bibir Pantai Smoker yang tidak jauh dari lokasi musibah kebakaran 22 rumah yang ada di RT 5 Smoker Kelurahan Siriwini Nabire.
Pada awalnya mayat pria tersebut ditemukan mengapung oleh beberapa orang anak kecil yang sedang bermain-main di pinggiran pantai. Setelah melihat mayat tersebut anak-anak langsung berlari dan berteriak ada mayat di laut dan informasi itu cepat menyebar ke sejumlah warga atau masyarakat.
Dan pada saat itu, Wartawan Papuapos Nabire yang duduk sedang berdiskusi bersama Ketua RT 05 Smoker soal masa tanggap darurat yang sudah selesai, sehingga wartawan mendengar informasi tersebut langsung menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP) guna melihat dari dekat mayat tersebut.
Tidak selang begitu lama sudah muncul banyak masyarakat yang datang untuk melihat, tetapi beberapa orang warga masyarakat setempat langsung menghubungi pihak kepolisan agar mayat tersebut bisa dievakuasi oleh pihak berwenang dalam hal ini aparat kepolisian.
Dan selang 30 menit kemudian, datang Wakil Bupati Nabire, H. Burhanuddin Pawennari dan pada saat itu dirinya hanya bisa meminta agar warga tidak harus dekat langsung dengan mayat dan meberikan tempat atau ruangan bagi aparat yang akan mengangkat atau mengevakuasi mayat tersebut.
Setelah mayat dibalik dan diangkat ke dataran, sejumlah warga yang juga tetangga korban sudah mengenal identitas mayat tersebut dan cepat ada informasi kepada keluarga lain yang merupakan tetangga korban tenggalam dan mengapung di bibir Pantai Smoker.
Akhirnya, berdasarkan informasi dari tetangga yang ada pada saat itu, ternyata mayat tersebut diketahui identitasnya, yakni almarhum bernama Selmus Kanaitan, pria dewasa yang berusia 55 tahun warga RT 03 Smoker Kelurahan Siriwini.
Dan setelah mayat diantar ke RSUD Nabire guna melakukan otopsi oleh pihak berwajib bersama pihak rumah sakit, wartawan Papuapos Nabire langsung menuju rumah almarhum dan di sana bertemu dengan salah seorang putrinya yang sedang menangis.
Dari keterangan yang didapatkan wartawaan Papuapos Nabire melalui salah seorang anak putri almarhum mengatakan, ayahnya sudah kurang lebih satu tahun ini mengalami sakit struk, namun dari upaya berobat yang dijalani selama ini almarhum sudah bisa bicara dan jalan walaupun masih menggunakan tongkat.
Dan juga dari penjelasan anaknya itu diceritakan bahwa semenjak pagi hari kurang lebih jam 9 pagi, almarhum meminta ijin untuk mandi di air laut (pantai), namun anaknya tidak memberikan ijin, karena melihat cuaca yang terlihat kurang baik.
“Belum pernah bapak minta mandi di laut dan baru kali ini meminta ijin untuk mandi di laut. Biasanya bapak hanya bilang mau duduk-duduk di pinggiran pantai dan pulang lagi ke rumah, kalau untuk mandi tidak pernah,” tutur salah seorang putrinya.(des)
Bagikan artikel ini



