DOGIYAI - Beberapa sumber makanan pokok yang digarap kaum perempuan, seperti keladi, sudah mulai berkurang di kebun, karena tidak digarap lagi.

Sumber makan pokok sejak dulu, tidak digarap kaum hama generasi sekarang.

Pangan lokal yang menjadi makanan turun temurun ini sudah mulai tidak ada lagi. 

Pemerintah mendatangkan beras Raskin, warga pedalaman sudah diet makanan berprotein seperti berudu, katak, kus–kus dan burung.

Kondisi makanan tinggal ikan, udang, makan kalengan produksi dari luar.

Beberapa makan pokok yang biasa dikomsumsi warga Dogiyai itu generasi sekarang tidak menikmati lagi.

Kaum hawa muda sekarang sudah tidak menggarap lagi.

Makanan tersebut bagian yang sangat penting.

Daging katak, berudu, udang, merupakan pembentukan “aikiu“ sapi potong dan babi menjadi sumber proten.

Beberapa sumber makan tak ada lagi, genarasi sekarang tidak menikmati makan tersebut.

Diet beberapa makanan pokok warga Mee Dogiyai.

  Ketika media ini mengkonfirmasi mantan Kepala Dinas Pendidikan Dogiyai, Drs. Andi Yobe, M.Hum, beberapa waktu lalu di Moanemani, dikatakan sekarang perubahan iklim beda situasi kondisi.

Dulu perempuan pegunungan pekerja keras, tanam macam–macam makanan di kebun sert piara ternak babi.

Sumber protein hayati cukup untuk warga.

  “Warga pribumi sudah terpencar.

 

Dogiyai, Kaimana, Timika, Jayapura, Wamena, warga sudah mulai terpencar.

Anak mereka lahir besar di sana belum tau Owada (owa = rumah, eda = pagar).

Di dalamnya ditanami berbagai tanaman itu aman dalam pagar ceritanya.

Master humaniora UGM ini mengatakan, makan kembali kerja keras.

Pangan lokal sebagai makan pokok ditingkatkan.

Wajib berkebun beternak dia sebut dulu program Yayasan P-5.

Program Pastor Kunen, gizi dan kesehatan keluarga tingkatkan program tungku api keluarga.

Pemerintah melanjutkan  program owada. (don)