Lomba Perahu Dayung Ramaikan Festival Budaya Pranata Adat untuk Perdamaian
NABIRE – Panitia Festival Budaya Pranata Adat untuk Perdamaian tahun 2018 menggelar Lomba Perahu Dayung Tradisional, Selasa (7/8), ber
Bagikan
NABIRE – Panitia Festival Budaya Pranata Adat untuk Perdamaian tahun 2018 menggelar Lomba Perahu Dayung Tradisional, Selasa (7/8), bertempat di Pantai Nabire pukul 10.00 WIT. Dimana, lomba tersebut diikuti sembilan (9) group peserta, salah satunya pasangan perempuan asal Distrik Napan. Peserta lomba perahu dayung tradisional dilepas langsung oleh Dirjen Penanganan Daerah Pasca Konflik Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia, Sugito, SH.,MH dari tengah laut Pantai Nabire. Ketua Panitia Festival Budaya Pranata Adat untuk Perdamaian dan Pameran Pembangunan Perempuan Papua Kabupaten Nabire tahun 2018, Yufinia Mote, S.SiT, saat diwawancarai di tengah-tengah perlombaan tersebut mengatakan, lomba perahu dayung tradisional yang dilaksanakan panitia merupakan salah satu jenis lomba yang tergolong sangat menarik dan salah satu hiburan bagi warga masyarakat Nabire.“Kalau kita lihat mendayung perahu ini merupakan salah satu aktifitas sehari-hari warga masyarakat di Nabire, yang sebagian warga masyarakat Nabire baik bapak-bapak maupun ibu-ibu terutama dari daerah pesisir kepulauan bermata pencaharian nelayan. Jadi iven lomba perahu dayung tradisonal ini juga sebagai budaya warisan nenek moyang yang harus terus dipertahankan dan dilestarikan,” ungkapnya.Dikatakan, lomba perahu dayung tradisional diadakan bertujuan untuk memotivasi warga masyarakat Nabire untuk memberikan pelajaran tentang budaya, adat istiadat kepada anak cucu kita dalam hal melestarikan budaya perahu dayung tradisional kedepannya. Menurutnya, perahu tradisional merupakan salah satu alat transportasi yang biasa dipakai oleh warga masyarakat yang berada di kampung-kampung di wilayah pesisir dan kepulauan untuk menyebrang dari satu kampung ke kampung yang lain, dan biasanya juga digunakan untuk mencari ikan dan menjual hasilnya ke pasar tradisional yang berada di wilayah kampung, guna meningkatkan ekonomi keluarga.“Ada hal yang menarik dilomba dayung kali ini, bukan hanya bapak-bapak saja yang ikut lomba dayung, tetapi mama-mama atau perempuan juga tidak mau ketinggalan dan ikut berpartisipasi dan ikut ambil bagian meramaikan lomba perahu dayung. Ini membuktikan bahwa, perempuan Papua juga sebenarnya punya kemampuan dan tidak kalah dengan pria dalam mendayung perahu, dan ini yang membuat kami sebagai perempuan Papua ingin memperlihatkan kepada kaum adam khususnya, untuk tidak melihat kekuatan kaum hawa sebelah mata, karena perempuan juga punya kekuatan,” tuturnya. (cad)
Bagikan artikel ini



