Virus Corona memang telah membuat banyak cerita, didominasi cerita bergenre sedih.

Virus Corona kini menjadi cerita yang menghantui pikiran banyak orang.

Tidak saja menghantui bagi mereka yang masih berkesempatan berkumpul dengan keluarga di Nabire, bahkan bagi mereka yang harus mengikuti cerita sedih di luar jangkauan keluarga, alias masih tertahan di kampung orang.

Bicara penutupan akses dari dan ke Kabupaten Nabire, memang ini merupakan salah satu tindakan pencegahan semakin merebaknya Virus Corona di daerah ini.

Namun jeritan banyak warga Nabire yang hingga kini masih terkunci di daerah orang, juga butuh perhatian pemerintah daerah.

Banyak dari mereka yang sulit bertahan untuk jangka waktu panjang berada di tanah orang tanpa pendapatan.

Seperti Kabupaten Biak yang awalnya santer diinformasikan melarang warganya keluar maupun masuk, kini tidak lagi.

Warga mereka yang berada di luar daerah, seperti di Jayapura, telah ‘diijinkan’ untuk pulang kampung.

Tentunya dengan memperhatikan protokol kesehatan agar tidak menambah kasus positif di daerahnya.

Lantas apakah pemerintah Kabupaten Nabire juga akan punya kebijakan sejenis itu ? Lantas bagaimana kepedulian pemerintah bagi warganya yang masih harus berkesusahan di tanah orang ? Cerita sedih tidak hanya milik warga Nabire yang belum juga bisa pulang kembali ke Nabire.

Namun bagi warga Nabire yang anaknya akan melanjutkan pendidikan kuliah di luar Pulau Papua, juga merasa resah.

Waktu untuk mengikuti tahapan seleksi masuk perguruan tinggi di luar Papua, sudah semakin dekat.

Namun hingga kini belum ada kepastian waktu kapan Nabire membuka akses keluar masuk daerah. 

Ada harapan dari mereka, pemerintah daerah ambil langkah-langkah untuk bisa menjawab kebutuhan warga yang akan pulang ke Nabire maupun mereka yang berkepentingan keluar Nabire.

Karena jika menunggu waktu kasus positif Virus Corona habis total, baru hanya Tuhan yang tahu.

Dimungkinkankah warga pulang ke Nabire maupun keluar dari Nabire, dengan syarat “DILARANG MEMBAWA VIRUS CORONA” ?