NABIRE - Bertempat di Hotel Mahavira I, Selasa (13/3) pukul 09.00 WIT, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Papua menggelar Diseminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Periode Februari 2018. Turut hadir dalam pertemuan tersebut sejumlah Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Nabire, pihak Perbankan Wilayah Nabire, serta sejumlah pelaku usaha yang ada di daerah ini.  

Dalam pemaparan materi yang dibawakan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinisi Papua Joko Supratikno melalui Manajer Fungsi Assessment Ekonomi dan Surveilans Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Papua Arya Jodilistyo mengatakan, kinerja perekonomian di Papua pada triwulan IV 2017 mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Dan faktor kinerja tambang emas, dimana kinerja tambang di Papua banyak mengalami kontribusi terutama untuk kinerja perekonomian di Provinsi Papua. Otomatis ketika ada perbaikan maupun ada kondisi-kondisi yang mempengaruhi kinerja tambang maka, berpengaruh juga dalam perekonomian di Provinsi Papua.

“Kalau kita bicara tahun 2017, itu sebenarnya ada beberapa hal yang mempengaruhi kinerja perekonomian dari segi tambangnya. Terkait dengan perijinannya, baik perijinan dalam hal produksinya, begitu juga dalam hal penjualan ekspornya. Dan di tahun 2017 juga kita mengalami kendala dalam kinerja pertambangan, terutama dari segi pekerja yang dikurangi dan juga terjadi seperti pengurangan tenaga kerja di perusahaan tambang, tetapi ketika penjualan di akhir tahun 2017 dalam kinerja penjualan pertambangan justru meningkat dan hal itu menjadi pendorong perekonomian di Papua pada tahun 2017,” ungkapnya.

Kata dirinya, dari segi pemerintahan sendiri pada tahun 2017, relatif ada sedikit ketidakoptimalan kinerja. Karena, di tahun 2017 ada sejumlah hal yang mempengaruhi, seperti Pilkada yang juga Provinsi Papua akan mengikuti Pilkada Serentak. Hal itu menyebabkan adanya penyesuaian pemerintahan di beberapa daerah, sehingga sejumlah proyek tidak bisa berjalan optimal dan terjadi sejak semester pertama triwulan kedua di tahun 2017.  Menurutnya, kalau faktor pengaruh Pilkada sendiri dalam kinerja perekomian Provinsi Papua cukup berpengaruh, tetapi hal itu relatif jangka pendek.

Setelah berjalannya waktu hingga di akhir tahun 2017 memang pengaruhnya berangsur hilang dari segi faktor Pilkada dan berganti ke pola jauh lebih optimal di akhir tahun. (cad)