Esai : Abdul Munib

Sumber utama kekalahan barat dalam perang opini di Palestina, meliputi beberapa hal pokok yang diabaikan Perdana Menteri Netanyahu. Pertama adalah tujuan perang mereka tidak jelas. Tujuan menumpas Hamas itu salah dan akan sulit bahkan tak mungkin berhasil karena hamas adalah ideologi perlawanan. Kekuatan apapun tak bisa memberangus pikiran.

Kedua, kekuatan tentara barat tidak dicitrakan untuk perang panjang yang akan melelahkan prajuritnya. Kekuatan barat ada pada perang psikologi atau psywar, dengan gertakan, kekejaman dan framing media globalnya selama ini.

Argumentasi Rezim Pendudukan Israel dalam hak membela diri dari ancaman negara lain tidak tepat, karena Hamas bukanlah negara. Hamas hanya milisi yang terbentuk oleh pola kekejaman penjajahan yang masif dalam waktu yang lama.

Yang berikut adalah terlalu bergantung prajurit barat kepada teknologi perang. Sedangkan di lapangan banyak hal yang dihadapi tak terkait teknologi. Perang terjadi lebih rumit dari yang dibayangkan sebelumnya. Doktrin hegemoni Barat dalam melumpuhkan lawannya adalah menebar ketakutan, dengan menampilkan kejahatan tereskalasi dalam perang, yang mana hal itu tidak ngefek bagi pasukan seperti Hamas yang murni jalan jihad.

Pada akhirnya jihad islam yang membentuk mental prajurit perlawanan pada kebanggan Mati Syahid (syahadah) tentu akan mengalahkan mental tentara musuh yang sejak berangkat berdoa bersama keluarga mereka di rumah agar dapat pulang dengan selamat supaya bisa bertemu keluarga kembali. Demikian beberapa pokok pikiran yang melatar belakangi kekalahan telak perang opini Barat melawan entitas poros perlawanan.

Sementara dari sisi media itu sendiri, sangat terpengaruh oleh sifat media digital yang transparan. Seluruh mata di dunia melihat apa yang sebenarnya terjadi di Palestina ?

Tradisi framing narasi, hanya punya kekuatan sesaat karena gelontoran dana untuk algoritma. Namun narasi yang berdiri kokoh diatas kebenaran dan tesistensi dia akan punya kekuatan tersendiri.

Dengan meluasnya penyebaran gambar-gambar foto dan video tragedi agresi Israel di Jalur Gaza di dunia, Rezim Zionis Israel kini prihatin melihat penurunan nyata dalam sepak terjangnya di hadapan opini publik internasional untuk membenarkan kelanjutan perangnya di Jalur Gaza. Padahal barat selama ini dikenal dengan kekuatan media globalnya yang unggul dan canggih dalam membangun framing. Tetapi kali ini kok tidak begitu, masalahnya dimana?

Israel menganggap penting dukungan internasional yang berkelanjutan untuk melanjutkan perang, yang telah memasuki bulan kedua, dan memperkirakan perang ini akan berlanjut dalam jangka waktu yang lebih lama karena tentaranya gagal mencapai tujuan yang ditetapkan untuk perang tersebut, yakni tumpasnya Hamas

Ketika melancarkan perang, Israel menggunakan pemandangan pemukiman di sekitar Jalur Gaza selama operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober, dan mendapat dukungan barat, terutama dari Amerika Serikat (AS). Namun ketika Netanyahu ngotot ingin melanjutkan perang setelah kesepakatan gencatan senjata, publik Barat sendiri mengurungkan dukungan malah berbalik pro Hamas.

Dan, dengan beredarnya gambar-gambar kehancuran dan korban jiwa dan luka di Jalur Gaza, opini publik internasional mulai berpihak pada Palestina. Keberpihakan ini telah dilakukan dan masih diungkapkan dalam banyak demonstrasi di ibu kota Arab, Eropa, dan internasional, termasuk di AS.

Kenapa narasi Palestina mendominasi ?

Saluran TV 12 Israel pada hari Selasa (7/11) menyatakan bahwa setelah satu bulan berlalu, Israel menghadapi kenyataan baru. Gambaran yang muncul di media internasional adalah gambaran pembunuhan dan kehancuran di Gaza, bukan gambar yang berasal dari permukiman Zionis.

Menurut saluran ini, narasi Israel tampak tidak berhasil menjalankan misinya secara memadai untuk memberikan ruang yang cukup bagi aktivitas tentara. Gambaran dan kontrol narasi Palestina mempengaruhi opini publik di dunia, dan dari situlah para pemimpin Israel memberikan prioritas untuk bekerja, dan dengan alasan ini, tentara Israel terus-menerus bekerja melawan penghitung waktu mundur, yang tidak ada yang tahu kapan itu akan berakhir.

Bahkan PBB dan lembaga-lembaga internasional terus menerus menyiarkan adegan pembunuhan dan kehancuran di Gaza serta menyerukan gencatan senjata sambil mengecam pencegahan masuknya pasokan medis, makanan, bahan bakar dan listrik ke Jalur Gaza. Menutup akses logistik yang mengancam dua juta penduduk sipil Gaza mati kelaparan, bukanlah cara perang yang disepakati manusia di muka bumi ini, melainkan itu cara Iblis.

Israel kecewa terhadap sikap PBB dan lembaga-lembaga internasional, terutama karena Israel selama ini dianggap mempunyai kredibilitas yang tinggi di mata masyarakat dunia. Itu halusinasi saja, sebab selama ini mereka menteror warga Palestina dan mengusir mereka dari tanahnya.

Media itu menyebutkan bahwa Israel, hingga saat ini, tidak dapat menyediakan ruang bernapas yang diinginkannya, dan hal ini dapat menyebabkan kesulitan dalam mencapai tujuan yang diharapkan, atau akan terpaksa bertindak gegabah sehingga peluang untuk melakukan kesalahan semakin besar.

TV 12 Israel menambahkan bahwa saat ini, sebulan setelah dimulainya pertempuran, dianggap penting untuk kelanjutan pertempuran. Israel memasuki perang ini padahal kenyataannya mereka tidak punya rencana untuk hari berikutnya. Kemarahan khalayak Dunia kepada rezim zionis pendudukan tak bisa dipungkiri lagi.

Sejak Sabtu lalu, mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett aktif berpindah-pindah stasiun televisi lokal dalam upayanya menggalang dukungan untuk kelanjutan perang. Bennett pada hari Sabtu di platform X menulis; “Malam ini saya akan melakukan tur media politik di New York dan Washington. Situasi internasional kita tidak baik.”

Dia menambahkan, “Tujuan saya adalah membantu pemerintah Israel memperkuat posisi kami dalam opini publik, di Kongres, dan dalam pemerintahan untuk memberikan kebebasan penuh kepada para pemimpin IDF untuk berupaya melenyapkan Hamas. Opini publik internasional sekarang tidak menguntungkan kami.”

Tentara Israel mengerahkan sejumlah besar tentara cadangan, selain juru bicara resmi, untuk berbicara kepada media asing guna membela perang.

Selain itu, tercatat puluhan jurnalis Israel dikerahkan untuk menyebarkan narasi Israel melalui platform media sosial.

Demo Yahudi Anti-Perang pun marak. Israel sangat terkejut menyaksikan partisipasi orang-orang Yahudi di seluruh dunia dalam demonstrasi yang mendukung gencatan senjata di Gaza dan penghentian perang, setelah terlihat adanya peran penting kelompok Yahudi di AS melawan perang Gaza, dalam demonstrasi yang terjadi di New York, Washington, San Francisco, dan tempat lain.

Dalam sebuah artikel di surat kabar Yedioth Ahronoth pada hari Senin (6/11), Attila Somfalvi menganggap bahwa “kumpulan pembenci Israel yang menjijikkan telah terungkap,” dan menambahkan bahwa yang paling mengejutkan di antara mereka adalah orang-orang Yahudi yang berpartisipasi dalam kampanye fitnah terhadap bangsa mereka.

Israel juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap meningkatnya demonstrasi di seluruh dunia yang menentang perang, sementara Bennett bahkan menyerang demonstrasi yang melibatkan ratusan ribu orang di seluruh dunia, termasuk New York, tempat dia berada.

Dari New York, Bennett pada hari Minggu di sebuah postingan di platform X menyatakan, “Saya kagum dan muak dengan kenyataan bahwa ada begitu banyak protes pro-Hamas di seluruh dunia. Ini tidak dapat dibayangkan.”

Senjata dan amunisi Barat boleh lah masih menumpuk di gudang. Tapi ketika secara opini mereka kalah, apalah artinya. Yang ada buah simalakama. Melanjutkan perang selain akan tambah hancur Tel Aviv dan objek vital rezim zionis juga akan tambah terpuruk dalam kekalahan opini. Rezim pendudukan zionis tak ubahnya hanya suatu batalyon AS saja yang kini ditinggalkan presidennya.

Trump berpaling dari Laut Merah karena ia akhirnya tahu pasukan sandal jepit Houthi adalah jenis manusia yang tak bisa dikalahkan dengan gertakan. Sementara mengambil langkah berhenti pun sudah terlambat, kredibilitasnya yang selama ini menghipnotis dunia sebagai kekuatan dunia tak terkalahkan, ternyata cemen dan ecek-ecek saja didepan kekuatan milisi Hamas dan hati baja rakyat Palestina.

Dalam keadaan seperti ini, sepertinya masih relevan apa kata Adi Negoro, bahwa Pers itu ratu dunia. Dan mahkota sang ratu sekarang ada di kepala Paleatina.

"Esais adalah Penanggung-jawab Harian Papuapos Nabire dan Papuapos TV