AYATEI- Suatu hal yang baru di bidang pemerintah dalam mengenang hari ulang tahun  telah dimulai dari Distrik Tigi Barat, yakni menetapkan tanggal 19 September sebagai hari Ulang Tahun Distrik Tigi Barat Kabupaten Deiyai, Papua setelah pemekaran dari Kabupaten Paniai. “Hal itu telah di sepakati oleh seluruh komponenan masyarakat, para kepala Kampung, para kepala SD,SMP, SMA, dan perguruan tinggi, di wilayah tersebut. “ya mulai dari tanggal 19 September 2009-19 September 2013. “ kata Amos Agapa kepala Suku Tigi Barat yang di hubungi Media ini beberapa hari lalu.Kata Amos,  tidak hanya itu tetapi sejak tahun 2009, kami sudah melakukan beberapa hal yang kini sudah menjadi kegiatan tahunan, diantaranya  penetapan tanggal 1 Desember sebagai hari pembukaan masa adven secara oikumene dan pelaksanaannya terpusat dihalaman Distrik. Sedangkan tanggal 29 telah di tetapkan sebagai Natal bersama secara Oikumene. Pada tahun 20013 ini kami telah memhasilkan suatu produk hukum baru yakni menetapkan tanggal 19 September  sebagai hari jadinya Distrik Tigi Barat. Ketika di koonfirmasikan kepada ketua Panitia pelaksanan Hut Lima Tahun Distrik Tigi Barat Fransiskus Douw, membenarkan jika  berbagai kegiatan akan di gelar antar 12 kampung yang ada di wilayah itu. ” pertandingan Bolla Voly putra dan Putri, lomba tarik tambang, lomba panjat pinang, lomba kebersihan halaman Kantor Balai Kampung, halaman SD, SMP, SMA dan Puskesmas/puskesmas pembantu, serta bazar Distrik. “bazar Distrik itu dilakukan dengan mengumpulkan hasil pertanian, perikanan, perkebunan, peternakan dari masing-masing kampung,”ujar  Frans Douw yang juga staf sekretariat Distrik Tigi Barat, Mingg (08/9/) kemarin. Menurut Douw, dalam beberapa pertemuan yang di gelar bersama kepala Distrik Tigi  Barat bersama berbagai komponen masyarakat itu banyak ide muncul, tentang agenda tersebut. Pikiran-pikiran yang muncul itu berpuncak pada dikeluarkan Surat Keputusan kepala Distrik Tigi Barat  bernomor.03/SK-HUT/D-TB/VIII/20013, tentang penetapan tanggal 19 September sebagai Hut Tigi Barat yang akan di peringati setiap tahun. Tidak hanya Produk hukum itu, tetapi sebelum ada dua  Surat keputusan yang di terbitkan yakni,  surat keputusan bernomor: 01/SK-NTL –OI/D-TB/XI/2009. Tentang penetapan tanggal 1 Desember sebagai  Natal pembukaan secara Oikumene setiap tahun di Distrik Tigi Barat. Dan Surat keputusan Nomor.02/SK-NTL-OI/D-TB/XII/2009 tentang penetapan tanggal 29 sebagai penetapan  tanggal pelaksanaan Natal Bersama atau Natal Oikumene setiap tahun. Pada kesempatan yang berbeda, ketika temui  kepala  Distrik Tigi Barat Fransiskus Bobii, S.AP di SKB Enarotali di sela-sela rapat Panitia MUSPAS IV Mee  Jumat (6/9) dimintai keterangan terkait  pelaksanaan tersebut, dirinya membenarkan jika ada beberapa kegiatan  sedang dan akan dilaksanakan. Diantaranya pertandingan dan perlombaan. Semua kegiatan ini merupakan wujud nyata kebersamaan antar pemerintah dan masyaraakat kampung guna menyaling kebersamaan dalam citra jati Diri, kerja keras  untuk merubah wilayah ini secara bersama dengan mengelolah hasil alam yang ada. Frans Bobii yang sudah lama berkecimpung dalam pers ini menjelaskan, Lima tahun Distrik Tigi Barat ini juga menjadi ajang evaluasi terhadap pola hidup yang selama ini dilakoni  masyarakat setelah  lepas dari kabupaten Paniai. Tidak hanya masyarakat sebagai subyek pembangun akan tetapi setiap petugas baik kepala Kampung, Kepala Puskesmas/Pustu, para kepala SD,SMP, SMA dan perguruan atau seluruh pelaku pembangun harus mengintrufeksi diri atas pelayanan kepada masyarakat selama ini. (markus you)