Pinang, Gorengan, dan 19 Tahun Pengabdian Paula Pakage

Di sebuah sudut Nabire, mungkin tidak ada panggung, mikrofon, ataupun spanduk besar. Hanya percakapan sederhana, pinang, beberapa gorengan, dan seorang perempuan yang memilih duduk bersama anak-anak muda.
Dari percakapan sederhana itulah, terkadang sebuah kehidupan bisa berubah arah.
Perempuan itu bernama Paula S. Pakage, SE. Selama 19 tahun, sejak 2007 hingga 2026, ia berjalan bersama masyarakat yang terdampak HIV/AIDS. Ia mendengar cerita yang tidak selalu mudah disampaikan, menemani mereka yang takut, dan hadir bagi mereka yang kerap merasa sendiri.
Bagi Paula, HIV/AIDS bukan semata persoalan kesehatan. Di baliknya ada manusia dengan keluarga, perasaan, ketakutan, stigma dan harapan.
Karena itu, ia memilih satu cara yang sangat sederhana: mendekat, bukan menjauh. Mendengar, bukan menghakimi.
Awal Langkah di Tahun 2007
Perjalanan itu dimulai pada 2007. Saat itu Paula menjadi Relawan P4 HIV/AIDS Primari di Nabire, ketika wilayah ini masih menjadi bagian dari Provinsi Papua.
Ia belajar memahami HIV/AIDS bukan hanya dari sisi medis, tetapi juga dari kehidupan orang-orang yang mengalaminya secara langsung. Ada yang takut diketahui, takut ditolak keluarga, takut dijauhi teman, bahkan memilih diam karena stigma.
Di tengah ketakutan itu, Paula memilih hadir.
Ia belajar bersama Dr. Pingky Panca Wardani, Dr. Muhamad Faris, Sp.PD, dan Herman Waromi. Namun, barangkali pelajaran terbesar justru datang dari orang-orang yang ditemuinya setiap hari: mereka yang menangis, keluarga yang kebingungan, anak muda yang takut, serta mereka yang hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.
Bagi Paula, terkadang seseorang yang sedang berada di titik terendah tidak membutuhkan ceramah panjang.
Cukup seseorang yang mengatakan:
“Saya ada di sini. Kamu tidak sendirian.”
Ketika Kepercayaan Datang
Dua tahun kemudian, pada 2009, kepercayaan yang lebih besar datang. Paula dipercaya menjadi Ketua Relawan P4 HIV/AIDS Klinik St. Rafael.
Tanggung jawab bertambah. Cerita manusia yang harus didampingi pun semakin banyak.
Kemudian pada periode 2013–2015, ia dipercaya menjadi Ketua Relawan P4 HIV/AIDS RSUD Nabire sekaligus menjalankan tugas sebagai Asisten Konselor Praktik Dr. Muhamad Faris, Sp.PD.
Di rumah sakit, ia semakin dekat dengan kenyataan bahwa seorang pasien tidak pernah datang hanya membawa persoalan kesehatan.
Mereka datang bersama kecemasan.
Membawa keluarga.
Membawa pertanyaan tentang masa depan.
Dan terkadang membawa ketakutan yang tidak sanggup mereka ucapkan.
Paula tetap memilih berada di sana.
Pekerjaan Sunyi yang Tak Banyak Dilihat
Pada 2015, ia kembali dipercaya menjadi Ketua Relawan P4 HIV/AIDS OMP2A PTT.
Hari berganti. Tahun berganti. Orang-orang datang dan pergi.
Namun Paula tetap berjalan.
Tidak setiap hari ada tepuk tangan. Tidak selalu ada kamera yang mengabadikan. Tidak ada panggung untuk setiap perjuangan.
Yang ada hanyalah pekerjaan sunyi: datang kepada mereka yang membutuhkan, mendengarkan, menjelaskan, mendampingi, kemudian kembali lagi ketika diperlukan.
Itulah wajah pengabdian yang sering luput dari perhatian.
Selembar Piagam, Ribuan Cerita
Pada 2020, setelah bertahun-tahun mendampingi masyarakat, Paula menerima Piagam Penghargaan Relawan Pendamping ODHA Terbaik dari Bupati Nabire Isaias Douw.
Penghargaan itu menjadi tanda bahwa kerja panjangnya mendapat perhatian.
Namun selembar piagam tentu tidak pernah mampu mencatat seluruh perjalanan.
Tidak tertulis berapa banyak cerita yang dibawa pulang.
Tidak tertulis berapa banyak kesedihan yang harus disimpan sendiri.
Tidak tertulis berapa banyak wajah yang masih tinggal dalam ingatan.
Sebab seorang pendamping terkadang harus tetap terlihat kuat, meskipun di dalam dirinya sendiri ada kesedihan yang harus disimpan.
Dari Relawan Menjadi Pemimpin
Pada periode 2022–2024, Paula dipercaya menjadi Ketua KPA Kabupaten Nabire.
Tanggung jawabnya semakin luas. Dari pengalaman panjang itu, ia semakin memahami bahwa HIV/AIDS bukan persoalan satu orang.
Ini persoalan keluarga. Persoalan masyarakat. Persoalan generasi muda. Dan pada akhirnya, persoalan masa depan Papua.
Pada 2025, ia kembali dipercaya menjadi Ketua Relawan HIV/AIDS Yayasan Gerakan Papua Sehat.
Setelah 18 tahun berjalan, ia masih memilih jalan yang sama: melayani, mendampingi, mendengarkan dan menjaga harapan.
Pinang dan Gorengan sebagai Jembatan
Ada sesuatu yang khas dari cara Paula mendekati anak-anak muda. Ia tidak selalu datang dengan bahasa formal. Tidak selalu dengan pertemuan resmi. Kadang hanya membawa pinang dan gorengan.
Ia duduk bersama mereka. Makan bersama. Berbicara. Mendengarkan. Tidak ada jarak. Tidak ada suasana seperti sedang diadili.
Dari obrolan kecil itulah pembicaraan kemudian mengalir kepada kesehatan, HIV/AIDS, pergaulan, keluarga, masa depan dan kehidupan.
Barangkali ada seorang anak muda yang datang hanya untuk makan gorengan, tetapi pulang membawa satu kesadaran baru:
“Saya harus menjaga hidup saya.”
Bagi Paula, mungkin itulah kemenangan yang sesungguhnya. Bukan tepuk tangan. Bukan penghargaan. Tetapi ketika seseorang memilih menyelamatkan dirinya sendiri.
“Kita Sesama Ciptaan Allah”
Di balik pengabdian panjang itu, ada sebuah keyakinan sederhana yang terus ia pegang:
“Kita sesama manusia ciptaan Allah yang harus diselamatkan.”
Kalimat itu menjadi semacam kompas bagi perjalanan Paula.
Ia tidak ingin melihat seseorang hanya dari kesalahannya.
Tidak hanya dari penyakitnya.
Tetapi melihat manusia yang ada di balik semua itu.
Seorang anak. Seorang ibu. Seorang ayah. Seorang saudara. Seorang teman.
Seorang manusia yang masih memiliki harapan.
Karena itu, ketika sebagian orang memilih menjauh, Paula memilih mendekat. Ketika sebagian memilih menutup telinga, ia memilih mendengar. Dan ketika sebagian memilih pergi, ia tetap menemani.
19 Tahun Melayani, Masih Mau Belajar
Menariknya, setelah 19 tahun berada dalam dunia pendampingan HIV/AIDS, Paula tidak merasa dirinya telah selesai belajar.
Kini ia kembali duduk sebagai mahasiswi STIKES Persada Nabire. Membuka buku. Mengikuti perkuliahan. Mengejar ilmu.
Pengalaman 19 tahun yang diperoleh dari lapangan ingin ia lengkapi dengan pendidikan. Ia ingin melayani bukan hanya dengan hati, tetapi juga dengan pengetahuan yang semakin kuat.
Di sinilah kisah Paula menjadi semakin menarik.
Seorang perempuan yang telah lama mendampingi orang lain, kini kembali menjadi mahasiswa untuk memperkuat bekal pengabdiannya.
Dari Papua ke Papua Tengah
Perjalanan Paula juga mengikuti perubahan zaman dan wilayah.
Pada 2007 hingga 2021, bagian awal pengabdiannya berlangsung ketika Nabire masih berada dalam Provinsi Papua. Perjalanan itu kemudian berlanjut dalam era Provinsi Papua Tengah.
Wilayah berubah. Pemerintahan berubah. Organisasi dapat berganti. Tetapi manusia yang membutuhkan pertolongan tetap ada. Dan Paula tetap berjalan.
Sebab bagi seorang pelayan kemanusiaan, batas wilayah tidak seharusnya menjadi batas kasih.
19 Tahun Bukan Sekadar Angka
Sembilan belas tahun tidak cukup hanya ditulis sebagai angka.
Di dalamnya ada wajah-wajah manusia.
Ada yang berhasil bangkit. Ada yang kembali kepada keluarga. Ada yang mungkin tidak sempat melihat hari esok.
Ada keluarga yang pernah menangis. Ada anak muda yang pernah kehilangan arah. Ada seseorang yang mungkin pernah merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Dan mungkin, di antara semua cerita itu, pernah ada seseorang yang terselamatkan oleh percakapan sederhana.
Itulah sebabnya perjuangan Paula tidak hanya tentang HIV/AIDS.
Ia juga tentang melawan kesepian. Melawan ketakutan. Melawan stigma.
Dan meyakinkan mereka yang didampingi bahwa mereka tetap manusia, tetap berharga dan tetap memiliki masa depan.
Cerita yang Belum Selesai
Tidak semua perjuangan terlihat.
Ada pengabdian yang tidak masuk berita. Tidak menjadi judul besar. Tidak selalu difoto.
Namun tetap dilakukan. Seorang relawan datang. Duduk. Mendengarkan. Memberikan informasi. Pulang. Kemudian datang lagi esok hari.
Hari berganti menjadi minggu. Minggu menjadi tahun. Tahun menjadi 19 tahun. Dan Paula masih berjalan. Masih mendampingi. Masih belajar. Masih duduk bersama anak-anak muda. Masih membawa pinang dan gorengan ketika diperlukan.
Dan masih memegang keyakinan bahwa setiap manusia adalah ciptaan Allah yang harus diselamatkan.
Mungkin kelak, ketika ia menoleh ke belakang dan melihat perjalanan dari 2007 hingga 2026, yang muncul bukan sekadar catatan jabatan dan penghargaan. Tetapi wajah-wajah manusia. Orang-orang yang pernah ditemui. Mereka yang pernah menangis. Mereka yang pernah didampingi. Dan mungkin juga mereka yang kembali tersenyum karena merasa masih ada seseorang yang peduli.
Itulah harga sesungguhnya dari 19 tahun pengabdian. Bukan jabatan. Bukan piagam. Bukan penghargaan. Melainkan kehidupan manusia yang pernah disentuh oleh kepedulian.
Di tanah Papua, tempat kehidupan berjalan bersama adat, keluarga, kebersamaan dan cerita dari satu generasi ke generasi berikutnya, pengabdian seperti Paula menemukan maknanya sendiri.
Sederhana, tetapi dalam. Seperti duduk bersama di pinggir jalan. Seperti berbagi pinang dan gorengan. Seperti mendengarkan seseorang yang sedang takut. Lalu mengatakan kepadanya bahwa hidupnya masih berharga.
Sembilan belas tahun Paula Pakage telah berjalan bersama mereka yang sering kali tidak terlihat. Dan di tahun ke-19 ini, langkah itu belum berhenti.
Sebab selama masih ada satu manusia yang membutuhkan pertolongan, cerita pengabdian itu belum selesai. (ppn)
Bagikan artikel ini



