Lahir pada 15 Agustus 1975 di Wamena, dari pasangan Paskalis Pekey dan Paulina Maga Adii. Sejak umur 11 tahun (1986), ia bergabung atau bermain Ukulele bersama group Panbers pimpinan Rumanus Pekey dan Group Wadou pimpinan Paulus Youw. Ketika masa kampanye Pemilu tahun 1987, Auleman semakin mantap memetik dawai gitar di atas pentas halaman Kantor Golkar Wamena yang ketika itu mengadakan malam hiburan rakyat sebulan penuh.   Kepiawaian bermain gitarnya terbawa terus hingga pertengahan tahun 1989 atau ketika berumur 14 tahun, Auleman sudah mahir bermain intro melodi seluruh album Black Brothers, Group Band CCR dan sejumlah intro melodi vokalia barat tempo dulu. Ketika berumur 16 tahun atau 1991, untuk pertama kalinya Auleman memetik dawai gitar elektrik di pentas terbuka. Lapangan Polres Jayawijaya bersama Group Band terbaik Baliem Selection Band pimpinan alm. Paskalis Rumngewur (Bung Rumi). Bung Rumi (gitaris) dan Bung Nilus Leisubun You (keyboard) adalah dua sosok yang membina dan membentuk Auleman menjadi gitaris handal, termasuk Eric Takimai, Edmar Ukago, Athen Pigay, dan beberapa anak muda lain. Seiring perjalanan waktu, Auleman dkk membentuk beberapa group, yakni Mutaetuwai Grouo tahun 1995 pimpinan Yulianus Kayame, Deiyai Tobe Group tahun 1996 , Tarua Tune bersama Ibu Hagar Maday Cs tahun 2000, Salju Abadi Band tahun 2004. Dan seterusnya Auleman banyak bergabung dalam sejumlah group band. Banyak teman yang selalu saling mengisi dalam mengembangkan bakat-bakatnya, yaitu Edmar Ukago, Eric Takimai, Athen Pigay, Stef Pekey, Agus Halitopo, alm. Yavi Rumngewur, Herman You, Herman Leisubun You, Hofni Yeimo, Yerry Nawipa, alm Yulianus Yeimo, dll. Tahun 2009 Auleman diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pemda Paniai. Ayah dua anak, Aulsaide Herman Pekey (18) dan Melany Pekey (16), tercatat sebagai staf di Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya (Parsenbud) Kabupaten Paniai. Bakat yang beliau miliki adalah talenta luar biasa dari rata-rata yang lain di Papua. Namun sebagai manusia biasa, kita selalu tak luput dari salah dan dosa, sehingga bakat dan kemampuan itu bisa saja berlalu dengan sekejap bagaikan uap. Kini Auleman berdayung asah asah Danau Tigi menuju Bapanya di Pulau Keabadian. “Selamat jalan pade, sahabat setiaku,” ucap Edmar Ukago begitu mendengar berita duka. Auleman Pekei, salah satu musisi Papua asal suku Mee yang cukup dikenal para pecinta musik Papua, meninggal dunia di RSUD Paniai, Minggu (1/12) jam 6.00 WIT. Berita duka tidak saja bagi keluarganya, tetapi juga rekan-rekannya yang merasa sangat kehilangan sosok panutan di dunia musik Papua. “Kita sangat kehilangan seniman Papua, sebab tidak ada anak Papua yang sama selincah dengan Auleman Pekei,” ucap Herman You, teman karibnya. Aul, begitu almarhum biasa disapa, kata Herman You, punya firasat tajam, pintar ciptakan lagu dalam sedikit waktu, mampu menata musik dan irama, serta memainkan melodinya yang unik. Bahkan ciri khas dan bobot lagu yang diciptakannya hampir setara dengan musisi pendahulunya seperti Arnold Clemen Ap dan Sam Kapissa. Kelebihan lain yang dimilikinya adalah ciri khas vokal Auleman yang merdu dan enak didengar. “Sebagai sahabat, saya sangat berduka. Saya tidak bisa mengisahkan semua kenangan hidup selama ini bersama Aul,” ucap Frans Bobii, Kepala Distrik Tigi Barat. “Aul bagi saya, sudah tunjukan eksistensinya sebagai seniman, mempertahankan seni dan musik Papua dari wilayah Meeuwodide.” Pemilik suara khas yang pernah dijuluki “Raja Melodi” itu telah kembali ke Sang Pencipta. Ia akan dimakamkan hari ini, Senin (2/12). Selamat jalan nauwai Aul! (*/you)