HIV/AIDS SENJATA AMPUH MEMATIKAN ORANG ASLI PAPUA
Oleh : Laurensius Tebai)* Tanah Papua atau nama lain New Guinea adalah Tanah milik orang kulit hitam keriting rambut rumpun Melanesia. Kini, Tanah Papua didiami oleh suku bangsa Melayu negara Indonesia. Di atas Tanah Papua, digoncangkan berbagai
Bagikan
Oleh : Laurensius Tebai)*
Tanah Papua atau nama lain New Guinea adalah Tanah milik orang kulit hitam keriting rambut rumpun Melanesia. Kini, Tanah Papua didiami oleh suku bangsa Melayu negara Indonesia. Di atas Tanah Papua, digoncangkan berbagai masalah hidup, seperti : masalah pelanggaran HAM terbesar, masalah status Politik Tanah Papua yang belum berakhir, masalah pendidikan, masalah ekonomi dan masalah kesehatan penderita HIV/AIDS terbanyak di Indonesia. Semuanya ini, pintu depopulasi (kematian) Orang Asli Papua diatas Tanah leluhur Papua.
Dalam tulisan ini, penulis lebih fokus memberikan masukan keprihatinan atas kondisi riil yang terjadi di depan mata kita, berkaitan dengan berkurangnya Orang Asli Papua. Akibat masalah kesehatan khusus melalui penularan penyakit HIV/AIDS yang semakin hari semakin bertambah.
Data Komisi Penanggulangan Aids ( KPA ) Provinsi Papua, penderita HIV/AIDS tahun 2013 di Tanah Papua berjumlah 24.000 orang. Sedangkan data penduduk provinsi Papua tahun 2013 berjumlah : 2,5 juta orang. Penduduk 2,5 juta orang di Tanah Papua ini, jumlah Orang pendatang lebih banyak dibanding orang asli Papua. Sangat dikwatirkan, bila jumlah Orang Asli Papua sedikit ini, bila tidak mengubah perilaku dan posisi terbanyak penderita HIV/AIDS di atas Tanah leluhurnya. Pasti, Orang Asli Papua akan menurun terus dan punah.
Dokter Suwardirejo pada acara Exson-R melalui Lembaga Penyiaran Publik ( LPP ) RRI Jayapura, dengan topik : HIV/AIDS, tanggal 12 September 2013 di Jayapura, mengatakan bahwa penderita kebanyakan usia muda umur 15 tahun sampai 30 tahun, untuk menguranggi lajunya HIV/AIDS di Tanah Papua Komisi Penanggulangan Aids Papua ( KPA ) melakukan : 1). Pelatihan bagi petugas VTC, 2). Advokasi dengan Tokoh Agama, Adat, Masayarakat, Pemuda dan Perempuan untuk mengambil langkah bersama melakukan pemahaman kesadaran mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan RT, RW, Kampung. 3). Pemeriksaan darah lewat VTC.
Pertanyaan : Jumlah penderita HIV/AIDS 24.000 orang, ini suatu kutukan karena perilaku manusia tidak hargai diri, sesama dan Allah ? Mampukah Pemerintah dan Komisi Penanggulangan Aids ( KPA ) dapat peranggi membatasi penderita HIV/AIDS yang kian bertambah terus di Tanah Papua ?
Kita patut dan salut upaya KPA Provinsi Papua, buktinya telah berupaya data penderita HIV/AIDS 24.000 orang di Tanah Papua. Sayangnya perilaku manusia semakin tidak sadar sama sekali terhadap bahaya yang akan ditimpa padanya. Sehingga penderita selalu meningkat terus. Ketidaksadaran rakyat karena tidak ada upaya penangganan HIV/AIDS di tanah Papua secara prioritas dan kontinyu.
Sebab beberapa pintu penularan HIV/AIDS, yakni : 1). Hubungan seks bebas, 2). Alat suntik, 3). Donor darah, 4). Darah manusia yang terjangkit, masuk lewat jendela luka kepada orang sehat.
Penyakit HIV/AIDS diwaspadai, karena: 1). Penyakit HIV/AIDS tidak pandang dari segi apapun, 2). Penyakit HIV/AIDS tidak ada obat penyembuh, 3). Penyakit HIV/AIDS mudah pindah melalui hubungan seks bebas, darah manusia yang terjangkit penyakit HIV/AIDS, menular kepada orang lain melalui jendela luka dan alat suntik. 4). Antara sesama tidak saling mengetahui, apa telah terjangkit atau belum dan melakukan hubungan seks. 5). Telah mengetahui terinfeksi penyakit HIV/AIDS tetapi masalah kebutuhan ekonomi, melakukan hubungan seks. 6). Salah satu suami atau istri meninggal karena HIV/AIDS tetapi suami atau istri yang hidup kawin lagi dan donor darah.
Beberapa hal di atas ini, kenyataan terjadi di lingkungan masyarakat di Tanah Papua. Sepertinya pihak KPA Provinsi Papua tidak leluasa melakukan hal baru, bila dilakukan memaksa dan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Maka, KPA arahkan melalui sosialisasi pemahaman, periksa darah suka rela. Sebagaimana dikatakan Dokter Suwardirejo ketika menanggapi komentar pada acara Exson-R dengan topik : HIV/AIDS di LPP Jayapura hari kamis, tanggal 12 September 2013.
Seperti komentar Bung Ficki warga Argapura Kota Jayapura, mengatakan : perilaku manusia dirubah melalui sosialisasi pemahaman bahaya penyakit HIV/AIDS, lewat kelompok kecil, tetapi butuh waktu 50 tahun, baru akan perubahan perilaku secara besar - besaran. Kalau penguasa di Tanah Papua, serius tanggani HIV/AIDS. Komentar kedua dari Bung Lorensz warga Dok 5 Kota Jayapura, mengatakan : Kenyataan Komisi Penanggulangan Aids ( KPA ) Kabupaten/Kota dan Provinsi di Tanah Papua, tidak lakukan kegiatan sosialisasi dan pemeriksaan darah secara prioritas dan kontinyu. Maka, 10 tahun kedepan rakyat Papua diambang kepunahan.
Menarik kesimpulan kedua komentar di atas, maka : 1). Sebagai bentuk masukan publik kepada pemerintah dan KPA di Tanah Papua untuk serius tanggani masalah HIV/AIDS, 2). Komisi Penanggulangan Aids (KPA) adalah Pejabat - pejabat, ganda job menjurus tidak terfokus tanggani HIV/AID sampai ke pelosok. 3). Masalah HIV/AIDS adalah masalah serius berkaitan nyawa manusia dan pemerintah anggarkan dana lebih besar untuk penangganan HIV/AIDS secara serius. 4). Pemerintah di Tanah Papua cabut SIUP dan SITU penjualan miras karena dampak negatif terjadi pengaruh miras. 5). Peranggi HIV/AIDS di Tanah Papua musti mengikuti kebijakan Bupati Paniai dengan kegiatan sosialisasi dan pemeriksaan darah secara masal bagi warganya tanpa pemaksaan.
Peranggi HIV/AIDS di Tanah Papua tidaklah semuda membalik telapak tangan. Kebijakan Bupati Paniai Hengki Kayame, SH.MH, sosialisasi dan pemeriksaan darah secara masal bagi warga entah PNS, TNI, POLRI, Pelajar/Mahasiswa dan masyarakat umum di Enarotali adalah salah satu terobosan baru untuk mengubah perilaku secara persuasif karena banyak warga belum paham sumber penyakit mematikan. Warga Paniai menyadari pemeriksaan darah penting bagi diri untuk mengetahui terjangkit atau belum dan kemudian mawas diri, karena HIV/AIDS senjata ampuh mematikan Orang Asli Papua .
Kita sebagai manusia yang punya akal budi, pikiran, perasaan musti hargai diri dan menghargai orang lain, sebab penyebaran HIV/AIDS bisa terjadi karena unsur sengaja oleh sendiri, unsur sengaja oleh orang lain, begitu juga tidak sengaja oleh orang lain dan tidak sengaja oleh sendiri. Disinilah kita diuji sebagai ciptaan Allah untuk hargai diri dan sesama. Generasi muda Papua banyak meninggal karena HIV/AIDS, Tanah Papua untuk siapa ?
Penulis adalah Mantan Ketua KNPI Distrik Jayapura Utara Kota Jayapura. Tokoh Pemuda Kabupaten Dogiyai - Papua.
Bagikan artikel ini



