Hantaman Ombak, Berimbas Tanaman Warga Makimi Mengering
NABIRE - Angin kencang pada tanggal 17 Januari 2014 membuat laut tak bersahabat, ombang membesar. Imbasnya, pada tanggal 18 Januari 2014 ombak masuk ke pemukiman masyarakat Kampung Makimi, Distrik Makimi. Hal ini berimbas sejumlah tanaman masyarakat terendam serta terancam
Bagikan
NABIRE - Angin kencang pada tanggal 17 Januari 2014 membuat laut tak bersahabat, ombang membesar. Imbasnya, pada tanggal 18 Januari 2014 ombak masuk ke pemukiman masyarakat Kampung Makimi, Distrik Makimi. Hal ini berimbas sejumlah tanaman masyarakat terendam serta terancam kekeringan.
Masuknya air laut ke pemukiman masyarakat Kampung Makimi yang diantar ombak besar, pada saat itu juga terlihat uap air garam yang masuk seperti kabut. Kejadian ini sempat membuat masyarakat panik. Hal ini merupakan musibah kedua air laut masuk pemukiman Kampung Makimi. Sebelumnya, pada bulan Desember 1986 juga terjadi hal serupa.Dituturkan tokoh adat Kampung Makimi, Antonius Batram Yoweni, pada tahun 1986 semua tanaman milik masyarakat kekeringan. Sehingga masyarakat menanam kembali dan kini kembali kering lagi akibat ombak air laut yang disertai ombak besar masuk menggenangi Kampung Makimi. Pohon kelapa yang dikatakan bisa hidup di air garam pun terlihat ikut mengering daunnya.“Musibah angin dan air laur masuk kampung yang membuat semua sumur jadi asin belum ada perhatian dari pemerintah Kabupaten Nabire kepada masyarakat,” kata Antonius Batram Yoweni.Antonius berpikir, musibah yang terjadi ini jauh dari kota sehingga sangat sulit juga bagi pemerintah untuk melihat dan membantu masyarakat. “Kami tinggal di sudut kota jadi tak pantas untuk diperhatikan,” tambahnya. Langkah yang diambil masyarakat, diminta untuk menguras sumur secara bergotong royong. Sementara tanaman yang rata-rata kering semua dari pohon mangga, kelapa, pinang, rambutan, nangka dan sejumlah tanaman lainnya hanya tinggal menunggu ditebang menjadi kayu bakar.Dari data laporan yang telah disampaikan kepada pemerintah Kabupaten Nabire hingga saat ini juga belum ada respon. Sehingga masyarakat hanya bisa belajar menerima apa yang ada sebagai suatu musibah alam yang tidak bisa ditantang oleh manusia. Dari peristiwa ini rakyat sudah bisa tahu bahwa pemerintah Kabupaten Nabire tidak serius perhatikan rakyat yang ditimpa bencana.(des)
Bagikan artikel ini



