Gempa Magnitudo 6,6 SR Diakibatkan Patahan Sungkup Weyland dan Patahan Waipoga

NABIRE – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Kepala Balai Besar MKG Wilayah V, Yustus Rumakiek, S.Si, menyampaikan kejadian Gempa Bumi Magnitudo 6,6 SR yang terjadi 19 September 2025, disebabkan oleh keberadaan sumber patahan aktif (zona patahan Sungkup Weyland dan patahan Waipoga) yang melintasi wilayah tersebut dan berperan sebagai sumber terjadinya gempa bumi.
Yustus menyampaikan Wilayah Rawan Gempa Kabupaten Nabire, Papua Tengah merupakan wilayah dengan potensi gempa bumi yang tinggi.
“Gempa tidak dapat diprediksi gempa bumi dapat terjadi kapan saja dengan kekuatan yang bervariasi. Hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara tepat kapan dan di mana gempa bumi akan terjadi,” ujar Yustus Rumakiek melalui pesan resmi BMKG Wilayah V, Senin (22/9/2025) lalu.
Yustus menambahkan, aktivitas gempa susulan berdasarkan hasil monitoring BMKG, hingga 22 September 2025 pukul 16.30 WIT telah terjadi 139 kali gempa susulan, dengan 16 di antaranya dirasakan oleh masyarakat. Baik gempa M 6.6 maupun gempa-gempa susulan tersebut tidak berpotensi tsunami.
Menurutnya, penurunan frekuensi gempa susulan berdasarkan hasil analisa terhadap aktivitas gempa bumi susulan selama 72 jam terakhir, menunjukkan bahwa frekuensi kejadian gempa susulan mengalami penurunan, yang merupakan indikasi positif menuju kondisi yang lebih stabil.
“Imbauan kepada masyarakat tidak perlu panik atau takut terhadap banyaknya gempa susulan. Aktivitas gempa susulan merupakan proses alamiah untuk mencapai keseimbangan baru pasca terjadinya gempa besar dan ini adalah hal yang lazim terjadi,” katanya.
Ia mengimbau agar Masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing informasi berita palsu atau hoax dari sumber-sumber yang tidak kredibel yang beredar.(edi)
Bagikan artikel ini



