NABIRE - Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Nabire dihadapkan pada tantangan yang tidak sedikit dalam menjalankan program-programnya, khususnya di tengah kondisi geografis wilayah yang sangat beragam. Dari zona pegunungan hingga pesisir, medan yang sulit dijangkau menjadi hambatan utama dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui program Keluarga Berencana (KB).

Kepala DPPKB Kabupaten Nabire, Paulus Talakua, S.KM.,M.Kes, saat diwawancarai Papuapos Nabire, Kamis (22/05/2025), tidak menampik adanya tantangan besar dari sisi geografis. "Nabire inikan zona pegunungan dan zona laut, ini tantangan," ujar Talakua.

Namun, ia menegaskan bahwa tantangan tersebut tidak akan membuat pihaknya berdiam diri atau statis dalam menjalankan program pemerintah. Semangat untuk melayani masyarakat menjadi motor penggerak.

Di wilayah pesisir atau laut, DPPKB Nabire sebenarnya telah menerima bantuan berupa perahu cepat (speedboat) dari dana DAK fisik tahun 2024. Sayangnya, kendala cuaca alam mengakibatkan perahu tersebut mengalami kerusakan bahkan sebelum sempat digunakan.

Meskipun demikian, Talakua menegaskan bahwa kerusakan ini tidak akan mematahkan semangat. "Apapun terjadi tantangan yang kita dapatkan ini, kita harus melawan tantangan ini demi kepentingan masyarakat," tegasnya.

Sementara itu, di wilayah pedalaman, tantangan justru semakin berat. Distrik Siriwo menjadi daerah terjauh yang masih bisa dijangkau oleh kendaraan roda empat, hingga Kampung Ukida. Namun, masih ada dua kampung yang lebih terpencil di dalamnya, yakni Kiya dan Menou, yang sama sekali tidak dapat diakses melalui jalur darat. Aksesibilitas inilah yang menjadi persoalan sangat berat bagi Nabire dalam melaksanakan program pemerintah di bidang KB.

Menyadari hal tersebut, DPPKB Nabire kini tengah merancang pendekatan strategis untuk mengatasi hambatan akses. Kolaborasi dengan dinas-dinas lain menjadi kunci utama. "Bagaimana dinas-dinas melaksanakan kegiatan penerbangan ke atas, bagaimana kita kolaborasi, kita akan sama-sama dengan dinas-dinas terkait ada di sana dan kita punya peran yang berbeda-beda," jelas Talakua.

Dalam kolaborasi ini, DPPKB akan fokus pada perannya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait kegunaan dan manfaat KB. Namun, disamping tantangan geografis, Talakua juga menyoroti satu persoalan mendasar yang paling berat dan membuat program-program KB tidak berjalan maksimal: kesadaran masyarakat. Edukasi yang berkelanjutan dan pendekatan persuasif diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam program KB demi masa depan yang lebih baik.(sam)