Dorong AsMara, 10 Legislator Asli Nabire Akan Bersatu
NABIRE - Betapa tidak, Nabire dalam pertumbuhan penduduk sangat dikenal dengan Nusantara Kecil (Indonesia kecil, red) di Tanah Papua. Kendat
Bagikan
NABIRE - Betapa tidak, Nabire dalam pertumbuhan penduduk sangat dikenal dengan Nusantara Kecil (Indonesia kecil, red) di Tanah Papua. Kendati pun demikian ditengah arus pertumbuhan penduduk non asli Nabire yang begitu pesat, masyarakat asli Nabire membuktikan kegigihanya dalam mencetak wakil rakyat di kursi parlemen pada Pemilihan Umum (PEMILU) tahun 2019 yang lalu. Sebanyak 10 putra asli terbaik pun mereka cetak dan kini sedang duduk di kursi parlemen. Kini tinggal menunggu peran 10 legislator dalam menampung, mengawal hingga membuahkan aspirasi masyarakat (AsMara) dalam sebuah bentuk pembangunan terutama dalam keperfiakan terhadap suku-suku asli Nabire. Secercah harapan masyarakat asli Nabire rupanya tergerak hati seorang legislator dari Partai Golkar, Yakobus Uwiya yang kini duduk di kursi parlemen mengajak rekan-rekannya untuk bersatu mengawal aspirasi rakyat terutama aspirasi dari masyarakat asli Nabire. “Saya fikir rakyat sudah mencetak kami 10 anggota DPRD asli Nabire untuk duduk di kursi parlemen ini, sehingga tidak ada alasan untuk kita tidak bersatu. Harus bersatu untuk mengawal aspirasi masyarakat kita,” kata Yokobus Uwiya, kepada wartawan media ini, Kamis (12/3) kemarin. Dikatakan Yakobus, dalam menampung, mengawal dan meneruskan AsMara khusus dari masyarakat asli Nabire kepada pemeritah daerah (Pemda) butuh persatuan dan kesatuan serta keseriusan 10 anggota DPRD. Agar aspirasi yang tertampung sekian lama ini maupun asmara yang berkembang saat ini bisa dijawab oleh pemerintah daerah, terutama bupati. “Kalau kami semua (10 anggota DPRD asli Nabire) bersatu menyuarakan dan pemperjuangan AsMara. Walaupun tidak semua tapi dalam tiap tahun 2 hingga kebutuhan pembangunan suku-suku asli di Nabire bisa dijawab oleh pihak Pemda. Kuncinya kita harus bersatu,” katanya. Dilain kesempatan, Legislator asal Suku besar Yerisyam, Sambena G. Inggerui mengatakan, memang butuh persatuan 10 anggota Legislator asli Nabire. Konon tidak cukup hanya kita bersatu lebih dari itu harus membangun kerja sama yang baik dengan semua pemangku kepentingan yang membangun daerah ini. Terutama pihak pemda. Karena itu, kata Inggerui, pengalaman perhatian pembangunan yang sudah dan sedang berjalan selama ini menjadi bahan pelajaran buat dirinya dan 9 rekan anggota DPRD asli Nabire untuk tidak terulang terus menerus pada hari-hari yang akan datang. “AsMara yang kami akan terima tetap kami godok sesuai tugas dan fungsi DPRD sebagaimana yang telah baku di republik ini yakni anggaran, legislasi dan pengawasan. Pastinya bahwa tergantung kebutuhan aspirasi,” kata Inggerui. “Jika aspirasi tersebut bersifat pembangunan kita perjuang untuk mengaagarkan kebutuhan pembangunan tersebut melalui Kebijakan Umum Anggaran (KUA) begitu pula fungsi yang lainnya,” tutur Inggerui. Selain itu, Dormina Monei juga sebagai Legislator putri asli Nabire mengatakan, sebenarnya aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat itu dari tahun ke tahun pihaknya selalu menyampaikan kepada pihak Pemda. Tetapi jawaban dari pihak Pemda sesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah. “Setiap aspirasi yang disampaikan hanya jawaban mereka (Pemda) sesuaikan dengan kamampuan keuangan daerah. Itu jawaban pihak Pemda, sehingga kami kadang bingung mau kemana lagi,” kata Dormina nada sedikit kesal. Dikatakan Dormina, pada periode lalu pihaknya hanya 4 anggota DPRD asli Nabire sehingga mengalami banyak batu sandungan dalam menyalurkan aspirasi khususnya AsMara yang berasal dari suku-suku asli Nabire. Namun Dormina merasa optimis untuk kedepan dengan bertambah jumlah legislator asli Nabire menjadi 10 anggota tersebut bisa mewujudkan yang selama ini menjadi harapan masyarakat asli Nabire. Legilator Suku Mee asal Simapitowa, Athen Madai berkata, apa yang menjadi kerinduan masyarakat asli Nabire juga menjadi kerinduan dirinya selalu anak asli Nabire. Namun dalam memperjuangan kepentingan daerah ini tak sedikit hal yang menjadi batu sandungan. Padahal tidak sedikit anggaran daerah yang selalu DPRD ketok palu sidang. “Kami anak asli Nabire sudah 10 orang menjadi legislator, kami siap kawal aspirasi, tapi kami akan mendapat alasan klasik yang sama seperti sesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah atau tidak kami akan sesuaikan,” katanya. Athen menegaskan, tidak ada alasan lagi sebab dana APBD Nabire cukup memuaskan ketimbang kabupaten tetangga lainnya seperti Dogiyai hanya 600 miliar lebih dan Deiyai juga hanya 700 miliar lebih saja pembangunan bisa jalan. Ironisnya Nabire yang mencapai triliun rupiah itu selama ini Pemda bangun apa ? “Ini daerah kami, tetap kami akan bersatu memperjuangkan aspirasi masyarakat terutama orang asli Nabire menjadi kewajiban mutlak kami 10 Anggota DPRD asli Nabire,” ucapnya. (eby)
Bagikan artikel ini



