DOGIYAI – Ketua Jayasan Pertanian Peternakan Perikanan Perkebunan Perekonomian (P5) Santo Isodorus Moanemani Ir. Didimus Tebai, menegaskan pihak pemerintah kabupaten Dogiyai tidak bisa berkerja mengatasnamakan rakyat. Masyarakat dan kondisi daerah dulu dan sekarang di Dogiyai khususnya sangat berbeda. Didimus Tebai, kepada media ini belum lama ini usai pulang sembayang di Gereja Santa Maria Imagulata Moanemani, membandingkan dulu sebelum pemekaran dan setelah adanya kabupaten. Beda baju biasa dan baju dinas, maksudnya, keberpihakan pemerintah daerah Dogiyai kepada masyarakat sekarang dan dulu berbeda.Dia menyatakan, pemerintah daerah sekarang ini masih belum memberi penguatan penuh kepada masyarakat, misalnya terkait keberpihakan Perda Miras termasuk APBD. Contohnya, waktu kujungan Wakil Ketua DPR–RI Fakhri Hamzah dan rombongan.“Kejayasan kami melihat dari dekat usaha kami,  semasa Bupati depinitif Drs. Thomas Tigi didepan Bupati saya terbuka kasih tau kalau ada dana pusat untuk yayasan kami jangan melalui rekening pemerintah. Kami punya rekening sendiri,” ujarnya.“Saya kasih tau nanti bisa saja bermasalah, jadi kami tersendiri. Jadi sekarang kita ganti baju kita. Contohnya banyak, seperti 24 jam sebagian anak menghabiskan waktu di terminal, ini masalah. Warga suka ke kantor DPR /kantor Bupati lupa tugas utama seperti cari kayu api, piara ternak berkebun, air lampu kebun masyarakat tak terurus baik dan ada hal lain palang mobil di jalan karena minum beralkohol,” tandasnya.Imbuhnya, secara umum ada dualisme komonikasi saat ini terjadi, yakni blok Mapia dan blok Kamuu. Dulu tidak begitu, soal perilaku selesaikan sendiri, cuma kita sekarang hanya malas. Kalau dulu ada manusia tulen di Meuwodideini. “Beda jaman ada beras Raskin (JPS) dulu, kami sudah tua nanti tidak ada kebun disini,” papar dia seraya mengakhiri pendapatanya.(donatus degei)